Geografi dan Teknologi Militer

By 02 Aug 2012 01:47Artikel
images_img_kisahprajurit_brigjen-tni

Oleh : Brigjen TNI Makmur Supriyatno

Direktur Kerjasama Antar Kelembagaan dan Dosen Universitas Pertahanan Indonesia

Pendahuluan

     Pakta yang tidak terbantahkan dan sangat merugikan umat manusia adalah bahwa permukaan bumi ini tidak pernah berhenti menjadi ajang berperang yang dilakukan umat manusia. Perang, baik itu perang terbatas maupun perang total dapat terjadi oleh Negara mana saja, kapan saja, dan di mana saja tidak terbatas daerah operasinya di belahan bumi ini.

     Dalam menghadapi Perang, para perencana dan pembuat strategi militer selalu mengumpulkan dan mencari informasi geografi atau informasi geospasial[1] untuk dimanfaatkan kelebihan dan atau kekurangannya dala rangka memenangkan peperangan atau pertempuran.

    Informasi geospasial atau geografi itu sendiri sangat penting sebagai bahan pertimbangan pada proses pengambilan kebijakan, penentuan strategi militer dan perencanaan operasi militer untuk tujuan memenangkan perang dalam rangka mencapai kepentingan nasional suatu negara. Pertanyaannya apakah faktor geografi yang berujud informasi geospasial[2] tersebut masih digunakan sebagai salah satu faktor penentu dalam mempertimbangan aktifitas pertahanan atau perang oleh para pengambil kebijakan pertahanan dan pembuat strategi militer?

 

Geografi dan Kesiapan Perang

     Indonesia menganut filosofi: ‘Rakyat Indonesia mencintai perdamaian, namun lebih cinta kemerdekaan, perang sebagai jalan terakhir setelah upaya-upaya perdamaian atau diplomasi secara maksimal telah dilakukan’. Artinya, apabila terdapat permasalahan dengan Negara lain dalam hubungan internasionalnya,  kita harus melakukan melakukan upaya-upaya menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga tercapainya perdamaian. Namun apabila tidak bisa, maka diperlukan kekuatan pertahanan untuk melakukan upaya-upaya pemaksaan supaya terciptanya perdamaian.

     Untuk itu diperlukan milter yang ‘siap’ dan kuat (readiness) untuk menangkal segala maksud dan keinginan Negara lain untuk mengganggu dan mengancam kedaulatan teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia. Militer yang kuat dalam rangka menjaga kedaulatan teritori, bangsa dan negaranya, perlu dilakukan dengan membangun dan mengembangkan SDM yang professional; system dan metoda; pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (science); sarana dan alutsista-nya. Yaitu dengan mendidik dan melatih para prajuritnya supaya memiliki tingkat keterampilan yang optimal. Piranti lunak dilengkapi, yaitu mulai doktrin, petunjuk operasi (Jukops), Juknik dan Juklap serta publikasi lainnya. Sedangkan sarana dan prasarana pendidikan dan latihan, home base dan lain-lain harus dilengkapi. Demikian pula alutsista harus disiapkan dan diadakan secara maksimal, baik pengadaan dalam negeri maupun pengadaan dari luar negeri.

     Kesemuanya itu harus dilakukan pada saat damai sekali lagi pada saat damai, karena sesuatu yang ‘mustahil’ apabila melakukan kesiapan pada saat atau sedang perang. Sebagai contoh di AD AS, mereka mengembangkan suatu system yang disebut dengan Future Combat System (FCS) untuk menghadapi pertempuran di masa mendatang, yang terdiri dari 4 (empat) komponen, yaitu pengembangan persenjataan kendaraan tempur darat berawak (Manned Ground Vehicles), system senjata tanpa awak (Unmanned Systems), jaringan system persenjataan (FCS Network), dan  SDM atau para prajurit.[3]

     Pertimbangan dari pengembangan itu semua, baik di lingkungan TNI AD kita maupun di AS adalah faktor ‘geografi’. Contoh pengadaan UAV atau Drone, misalnya karena kesulitan di menembus medan atau geografi di medan operasi di Afganistan.

 

Geografi dan Doktrin Perang

     Perang dapat dilakukan ‘di teritori nasional’ dan dapat pula dilakukan ‘di luar teritori nasional’ dalam lingkungan fisik dan psikologis wilayah waktu tertentu. Doktrin AS, menyatakan bahwa perang tidak boleh terjadi teritori di Negara-nya. Sehingga mereka melakukan pre-emptive strike atau bahkan melakukan invasi dengan mengerahkan kekuatan militer secara maksimal untuk menghancurkan Negara yang diinvasinya. Untuk melakukan invasi tersebut, sudah pasti memerlukan informasi geografi atau informasi geospasial. Terutama untuk dijadikan bahan pertimbangan strategi militer, pengerahan pasukan, dan pelaksanaan perang dan demobilisasi pasukan setelah perang berlangsung.

    Doktrin perang Negara kita juga menganut pre-emptive strike, yaitu menghancurkan kekuatan musuh di negaranya bila sudah ada tanda-tanda akan menyerang teritori kita; menghancurkan di perjalanan sebelum memasuki wilayah ZEE: dan seterusnya hingga musuh mendarat di pantai dan selanjutnya melakukan perang berlanjut sampai dengan kita dapat mengusir aggressor keluar dari teritori kita.

 

Perang di teritori nasional.

     Perang yang dilakukan di teritori nasional mempunyai kerugian dan keuntungan. Kerugiannya, akan menimbulkan kerusakan lingkungan fisik dan non fisik bagi rakyat (kesengsaraan yang sangat mendalam terhadap rakyat), baik korban jiwa maupun kerusakan total dari seluruh sarana-prasarana yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Apalagi Indonesia menganut system pertahanan rakyat semesta, yang mempunyai pengertian, yang berperang bukan hanya SDM saja, tetapi seluruh potensi nasional-pun ikut berjuang. Bila potensi nasional, maka akan termasuk di dalamnya seluruh permukaan bumi (geografi) Indonesia akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenangkan perang. Contoh perang Kemerdekaan, seperti Bandung Lautan Api, Perang 10 Nopember, Ambarawa dan peperangan lainnya yang melibatkan komponen nasional.

     Sedangkan keuntungannya, seluruh potensi nasional yang dimiliki bisa didayagunakan menjadi kekuatan nasional untuk menghadapi musuh. Termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan geografi Indonesia, apalagi bila secara spasial telah ditata dalam bentuk Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Pertahanan (RUTR Wilhan). Sehingga setiap ruang yang ada, telah ditata, seperti: dimana spasial sebagai medan pertempuran, dimana medan yang disiapkan untuk daerah komunikasi?, dimana daerah logistic wilayah?, dan dimana daerah penghancuran (killing ground). Penataan juga akan mencakup pada, siapa berperan apa pada saat terjadi pertempuran? Bagaimana komponen cadangan berperan? Bagaimana komponen pendukung berperan? Dan seterusnya.

     Keuntungan lainnya apabila peperangan terjadi di teritori nasional adalah, satuan-satuan tempur kita akan sangat mengenal medan masing-masing secara baik. Artinya masih tergantung pada masa damai apakah Pembinaan Teritorial (Binter) dalam menata Ruang, Alat dan Kondisi Juang (RAK Juang) telah berjalan sebagaimana mestinya atau bahkan sebaliknya. Apabila Binter tidak berjalan, maka perang di teritori nasional, akan menjadi kerugian yang besar bagi Negara.

     Karena pada zaman modern, perang di luar teritoripun tetap saja berpengaruh terhadap teritori nasionalnya. Seperti AS yang menginvasi beberapa Negara, antara lain Irak dan Afganistan, secara langsung teritori-nya tidak terimbas, tetapi secara tidak langsung terimbas. Perang telah mengakibatkan perekonomian mengalami defisit anggaran belanja negara yang demikian besar, yang ahirnya terkena krisis ekonomi akibat membiayai mesin perangnya. Secara psikologis, rakyat AS terbelah terhadap perang tersebut, terutama Perang Irak, karena tujuan dari perang tersebut kurang begitu jelas dan kerugian jiwa dan material yang cukup dirasakan oleh rakyat AS.

     Perang yang dilakukan di teritori nasional, perlu adanya perencanaan yang matang terutama perencanaan kompartementasi teritori kondisi geografi menjadi pertimbangan utama bahwa Indonesia merupakan kepulauan. Kondisi geografi secara factual merupakan daerah dataran, daerah berawa, berbukit dan daerah pegunungan yang tinggi, dan berhutan lebat; dari daerah yang belum dijamah, daerah jarang penduduknya sampai dengan daerah perkotaan atau daerah padat penduduk; dari daerah dengan sungai-sungai yang panjang dan lebar hingga daerah yang dihubungkan dengan selat dan laut. Perbedaan tersebut akan mempengaruhi berbagai macam kebijakan dan strategi hingga kepada memilih cara bertindak (course of actions) yang tepat dalam melaksanakan operasi militer perang. Militer harus siap dan mampu melaksanakan operasi tempur di segala medan operasi, namun tetap saja pengenalan terhadap geografi Indonesia harus terus menerus diberikan porsi yang cukup pada pendidikan militer.

 

Perang di luar teritori nasional.

     Demikian pula perang yang dilakukan di luar teritori nasional, memiliki keuntungan dan kerugian baik dari segi strategis maupun taktis. Kerugian utama, militer negara yang melakukan operasi atau menyerang atau menginvasi tidak atau kurang mengenal geografi atau medan negara yang diserang. Selain itu garis komunikasi dan logistik menjadi sangat jauh atau panjang, keadaan iklim dan cuaca kemungkinan berbeda dan lain-lain.

     Seperti halnya perang AS di Irak dan Afganistan memiliki medan yang berbeda. Medan perang di Irak, secara relatif berupa gurun pasir dengan iklim dan cuaca relatif panas. Sedangkan di Afganistan, medannya relatif bergunung-gunung dan dengan bebatuan yang terjal serta struktur tanah yang berbeda dengan medan perang di Irak. Sehingga militer AS memerlukan strategi dan taktik perang yang berbeda antara ke dua medan operasi tersebut.

     Perencanaan perang di kedua wilayah tersebut direncanakan dengan kebijakan dan strategi yang berbeda, terlihat dari yang paling sederhana, yaitu bagaimana merancang baju seragam perang (camouflage) untuk di medan perang Irak dan Afganistan berbeda dari segi bahan dan kombinasi warnanya.

    Dari segi bahan baju, di Irak memilih lebih terang untuk menyesuaikan dengan teriknya sinar matahari dan perlu menjadi ‘bunglon’ dengan menyesuaikan dengan warna padang pasir. Pengerahan alutsista juga disesuaikan dengan kondisi medan. Untuk perang di Irak Angkatan Darat AS, relatif lebih banyak dilengkapi dengan pengerahan tank-tank berat (main bettle tank/MBT), karena medan yang relatif datar dan struktur tanah relatif tidak stabil dan menggunakan tank-tank dengan tonase lebih ringan. Angkatan Udaranya, selain pesawat super modern juga pesawat yang digunakan adalah pesawat anti pengamatan radar, karena medan yang relatif datar dan bergurun dan sangat mudah untuk dideteksi radar.

     Akan sangat berbeda dengan untuk keperluan operasi perang di Afganistan, dari segi camouflage, lorengnya lebih gelap dan agak tebal untuk dapat menyerap panas guna menghangatkan badan prajurit, karena udara di Afganistan relative lebih dingin dibandingkan dengan di Irak. Selain itu untuk menyesuaikan dengan keadaan penumbuhan dan bebatuan yang relative gelap di medan operasi. Demikian pula, alutsista yang digunakan relative lebih banyak menggunakan helicopter serang dan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Viechele/UAV) atau sekarang lebih popular dengan sebutan ‘Drone’.

     Penggunaan persenjataan tersebut dengan pertimbangan, sasaran yang sulit dijangkau apabila menggunakan persenjataan tank-tank berat seperti pengalaman Russia ketika menginvasi Afganistan. Selain itu, persenjataan musuh (Taliban) telah menggunakan persenjataan multiguna yang diluncurkan dari bahu (The Shoulder-Launched Multipurpose Assault Weapon/SMAW), dibandingkan bila menggunakan pesawat-pesawat tempur dengan awak akan sangat membahayakan. Walaupun salah sasaran, yaitu masyarakat sipil menjadi sasaran dari Drone, seringkali terliput oleh media dan itu sangat merugikan AS dalam percaturan politik global.

     Selain itu, militer AS untuk sampai ke Irak dan Afganistan memerlukan komando lintas laut dan udara untuk mengangkut personil, logistik dan alutsista-nya mulai dari pangkalan utamanya, yang berada di beberapa Komando AS, seperti US Central Command,  US Pasific Command; dan NATO dan berbagai Komando lainnya, sampai dengan daerah operasi di Irak dan Afganistan. Untuk pergeseran pasukan dan logistik tersebut, memerlukan waktu dan sumberdaya yang luar biasa besar, hanya untuk menggelar pasukan, alutsista dan logistic. Dengan demikian, militer AS  memerlukan homebases untuk pancangan kaki bagi aliran prajurit dan logistik untuk keperluan pada saat  akan (mobilization), selama berlangsungnya dan setelah perang (demobilization), yang bisa memakan waktu bertahun-tahun seperti perang di Afganistan yang hingga saat ini masih berlangsung.

     Sedangkan keuntungannya, bahwa penderitaan  rakyat relatif berkurang, seperti telah dijelaskan di atas kerugiannya adalah menjadi beban ekonomi rakyat yang dirasakan sebagai akibat dari defisit anggaran hutang yang meningkat, dan  menjadi krisis finansial yang sebenarnya juga mengakibatkan kesengsaraan secara ekonomis bagi masyarakat.

    Pada prinsipnya, perang di luar wilayah nasional perlu adanya pertimbangan yang lebih mendalam terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi, mulai dari tingkat strategi sampai dengan tingkat taktis. Selain itu, perang di luar teritori nasional memerlukan kekuatan Angkatan Laut dan Udara yang besar dan kuat, yang memilik kemampuan untuk beroperasi di berbagai medan dan cuaca. Selain itu, kekuatan intelijen dan ekonomi serta teknologi perang yang dimiliki harus mencukupi untuk melaksanakan perang dalam jangka waktu lama. Perlu dipertimbangkan pula, bahwa perang di luar teritori nasional termasuk dalam bentuk invasi, dengan demikian perlu dipertimbangkan adanya sekutu dari negara yang diserang. Pada strategi Perang Indonesia, dikenal dengan ‘defensive active’ atau ‘preemtive strike’, yaitu menghancurkan kekuatan musuh di teritori negaranya.  

     Kesemuanya itu memerlukan pertimbangan para ahli intelijen geografi atau intelijen geospasial untuk memberikan masukan, mulai dari pertimbangan dalam rangka pengambilan kebijakan perang, yaitu apakah perang dilaksanakan atau tidak? Bagaimana strategi militer yang akan diambil? Bagaimana pergeseran logistic dan prajurit? Alutsista apa yang fit dengan medan operasi tersebut? Warna dan bahan apa yang cocok untuk seragam atau camouflage? Hal-hal kecil lainnya memerlukan pertimbangan geografi.


Geografi dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP)

     Operasi Militer Selain Perang (OMSP) atau Military Operation Other than War (MOOTW)[4] adalah suatu bentuk operasi yang dilakukan oleh militer, baik yang dilaksanakan dalam rangka mendukung Operasi Militer Perang (OMP) maupun OMSP yang dilaksanakan tidak dalam rangka mendukung perang.

    Yang dimaksud dengan OMSP dalam rangka mendukung OMP, yaitu operasi yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan dan memenangkan perang atau pertempuran. Misalnya dalam rangka mengatasi gerakan separatisme dan pemberontakan yang merupakan inisiasi negara agresor dalam rangka menginvasi atau ofensif atau serangan terhadap teritori negara RI; mengatasi permasalahan perbatasan yang eskalasinya telah meningkat dari ketegangan dan akan meledak menjadi peperangan terbatas atau perang umum. Semua OMSP tersebut, rencana operasi (Renops)-nya harus dikaitkan dan fokus kepada keberhasilan operasi yang lebih besar, yaitu keberhasilan dan kemenangan dalam pertempuran dan atau perang.


Geografi dan Alutsista

     Diakui bahwa geografi medan (terrain) bukanlah satu-satunya bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam bidang pertahanan serta penentu strategi militer termasuk di dalamnya penentuan kekuatan kemampuan, struktur, gelar pasukan, dan penyiapan alutsista. Masih terdapat faktor-faktor lain yang perlu mendapat perhatian, yaitu antara lain kepemimpinan, musuh, system dan teknologi militer, serta pengetahuan (knowledge).

     Pengetahuan (knowledge) dan teknologi militer, yang di dalamnya termasuk perkembangan teknologi geografi-nya sendiri. Perkembangan ketiga hal tersebut,   diprediksi akan menjadi primadona, lebih dominan dan penting dibandingkan dengan kondisi geografi dalam peperangan masa kini dan dimasa mendatang. Rintangan dalam peperangan yang diakibatkan oleh geografi akan teratasi atau bahkan tereliminasi oleh kecanggihan teknologi.

     Kecanggihan teknologi militer yang ‘pertama’, yang dapat mengurangi bahkan mengiliminasi rintangan (obstacles) yang diakibatkan oleh kondisi geografi yang kurang bersahabat bagi para komandan pasukan, yaitu teknologi dalam bidang survey dan pemetaan. Yaitu dengan munculnya peta-peta topografi dan foto udara (aerial photography). Peta, merupakan jenis informasi geospasial yang telah mengambil peran signifikan semenjak dimulainya kehidupan manusia dan peperangan di dunia ini yaitu memerlukan peta-peta. Tidak ada perang yang tidak memerlukan peta hingga saat ini, walaupun teknologi pemetaan telah berkembang dengan pesat. Demikian pula foto udara, memberikan gambaran konkrit dan real tentang permukaan bumi. Data dan informasi spasial tentang permukaan bumi tidak ada yang di seleksi tidak ada yang disaring dan tidak ada yang ditutupi semuanya ada pada foto udara itu bahkan sekarang telah ada wahana kamera udara digital (Digital Aerial Camera), lalu berkembang dengan teknologi LIDAR)[5], dan citra satelit (imagery).

     Teknologi setelah foto udara, lebih menguatkan, mempermudah, mempercepat, menigkatkan kualias produk dan akurasi yang dihasilkan lebih dari yang dihasilkan foto udara. Selain itu, untuk akurasi suatu posisi suatu obyek atau fenomena geografi di permukaan bumi, diperkuat dengan berkembangnya teknologi Sistem Penentu Posisi Global (Global Positioning System/GPS). Sehingga lengkaplah teknologi pengumpulan data atau informasi geografi, dari sisi gambar dan posisi suatu obyek fenomena geografi di permukaan bumi.

     Teknologi pengumpulan data atau informasi geospasial atau geografi yang demikian berkembang tersebut, diimbangi dengan perkembangan ‘teknologi penyajian’ informasi geografi yang didukung oleh berkembangnya teknologi Komputer dan informasi’ yang demikian pesat. Sehingga membantu memudahkan dan mempercepat dalam menyajikan informasi geospasial bagi para komandan pasukan, bahkan di militer AS telah mencapai komandan pada tingkat paling bawah yaitu komandan regu.

     Teknologi ‘penyajian informasi geografi’, yang terkenal dan  yang sudah dikembangkan adalah Sistem Informasi Geografi (SIG atau Geographic Information System/GIS). SIG, ini bukan hanya menyajikan data atau informasi tentang obyek atau fenomena geografi saja, tetapi sudah menghasilkan analisis yang langsung dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, baik untuk sipil maupun militer. Digabungkan teknologi pengumpulan informasi geografi dengan teknologi penyajian informasi geografi, dapat menghasilkan data, informasi, dan analsis geografi yang bukan hanya lengkap, akurat dan tepat waktu melainkan juga data/informasi/hasil analisis tersebut dapat diakses secara ‘real time’  pada saat itu juga.

     Di militer AS kedua teknologi tersebut, dikembangkan oleh suatu badan ditingkat nasional, yang disebut dengan Badan Nasional Geospasial Intelijen atau National Geospatial Intelligence Agency tetapi disingkat tanpa menonjolkan intelijen, yaitu NGA.[6] Mereka telah berkembang dengan memadukan dengan persenjataan, seperti: misil balistik antar benua (ICBM), meriam, pesawat terbang tanpa awak (unmanned aerial vichele/UAV) atau Drone. Walaupun seringkali menimbulkan korban warga sipil di Afganistan, namun Drone ini merupakan salah satu teknologi tempur yang dapat mengeliminasi ‘geographical obstacles’ dan mengurangi korban pilot dari pihak AS.

     Dari uraian di atas, apabila suatu negara memiliki teknologi tersebut, maka sebagai konsekwensinya komandan pasukan dari Negara tersebut akan lebih cepat dan mudah untuk mendapatkan informasi medan atau daerah operasinya, dibandingkan dengan musuh yang akan dihadapi. Sekali lagi, disitulah peran teknologi akan sangat membantu para perencana militer dan pasukan di medan operasi untuk lebih memahami faktor geografi militer atau medan operasi.

     Namun demikian, walaupun sudah ada dan akan terus berkembangnya teknologi informasi dan teknologi perang, geografi, secara sosial dan fisik di lapangan akan tetap berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan pertahanan dan strategi militer; strategi dan taktik pada operasi militer perang dan operasi militer selain perang (OMSP).[7]

     Seperti disebutkan di atas, Drone atau UAV, sebagai salah satu kemajuan dari teknologi militer yang tentunya didukung oleh teknologi survey dan pemetaan, yaitu menghancurkan sasaran relatif tanpa diganjal oleh rintangan karena kondisi geografi. Walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena tetap akan ada perhitungan yang berkaitan dengan kontur, topografi, dan gravitasi bumi pada saat UAV tersebut melintas pada suatu daerah tertentu. UAV  atau Drone termasuk persenjataan Angkatan Udara. Sedangkan untuk persenjataan Angkatan Darat, perkembangannya dapat dilihat pada peluru kendali (rudal) jarak pendek, sedang dan menengah yang memadukan antara jarak jangkau tembakan dikombinasikan dengan pengetahuan tentang posisi (kordinat x, y, dan z) sasaran.

     Angkatan Darat AS, memiliki apa yang disebut dengan Army Transformation Road Map 2004, antara lain tercantum Strategi Transformasi AD Amerika, ada tiga komonen yang perlu ditransformasi dalam AD AS, yaitu: Transformasi budaya (transformed culture); Transformasi proses (Transformed processes); dan Transformasi Kapabilitas (Transformed capabilities). Ketiga transformasi komponen tersebut, tertuang dalam dokumen yang disebut dengan: System Persenjataan dan Pertempuran di masa mendatang (Future Combat System). Pada dokumen tersebut yang menonjol adalah pengembangan Penerbangan Angkatan Darat, Logistik dan pengembangan persenjataan  tempur lainnya. Termasuk pengembangan Infanteri Mekanis, Divisi Gunung dan Divisi Pertahanan Udara. Serta yang menarik adalah pengembangan Satuan Tugas Alat Ledak Improvisasi (Improvised Explosive Devices/IED), yang dilengkapi dengan teknologi moder , dibutuhkan untuk meng-counter IED musuh.

     Diyakini bahwa TNI AD juga memiliki road map dalam mengembangkan kekuatannya, termasuk di dalamnya pengadaan Main Battle Tank/MBT, untuk kepentingan deterrence dan menghadapi kemungkinan adanya musuh potensial. Pengadaan  MBT diperdebatkan, antara lain dikaitkan dengan kondisi geografi Indonesia. Geografi Indonesia secara umum memang terdiri dari pulau-pulau. Pulau-pulau tersebut terdiri dari pulau besar dan kecil yang memiliki beragam bentuk topografi atau geomorfologinya. Pulau besar, terutama Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Irian.

     Dari pulau-pulau besar yang disebutkan di atas, perlu dilihat pula unsur geografis lainnya selain bentuk dari topografi dan geomorfologis, juga harus dilihat geografis lainnya. Unsur geografis lainnya, yaitu adanya garis perbatasan darat dengan negara tetangga. Apabila pertimbangan geografisnya adalah perbatasan Negara, maka terdapat 3 tiga Negara yang berbatasan dengan teritori kita, yaitu di Pulau Kalimantan dengan Malaysia, Pulau Irian dengan PNG, dan di Pulau Timor dengan RDTL. Maka sangat penting memiliki MBT, selain untuk menghadapi penerobosan alutsista sejenis ke teritori kita, juga sebagai deterrence dan sivis vacum parabellum. Deterrence sangat penting. Selain itu, negara tetangga telah memiliki alutsista serupa.

     Sivis vacuum parabellum, tiada kata yang paling penting selain segera melengkapi perlengkapan perang (alutsista) pada masa damai.  Seperti telah dijelaskan di muka, bahwa melengkapi perlengkapan perang (alutsista) pada masa damai merupakan suatu keniscayaan, karena apabila sudah dan sedang terjadi perang akan sulit mengadakan alutsista.

     Salah satu kesulitannya adalah sangat tidak mungkin pada saat perang baru mengadakan atau membuat alutsista, karena untuk memproduksi dan mengadakan alutsista dari luar akan memerlukan waktu. Selain itu, akan adanya kemungkinan embargo dari negara tertentu, seperti yang pernah kita alami, menjadikan sumber pengadaan alutsista akan semakin sulit.

     Yang terpenting adalah mengkaji ‘geografi’ mana yang tepat untuk menempatkan MBT tersebut. Apabila dilihat dari unsur ‘cu-me’, atau dengan kata lain berdasarkan pertimbangan geografis, ke-3 locus di garis perbatasan tersebut, cocok untuk ditempatkannya tank-tank tersebut. Namun, apabila dilihat dari unsur ‘cu-me-mu’ dan keterbatasan pengadaan MBT, maka mengerucut pada satu  locus, yaitu di Pulau Kalimantan Propinsi Kalimantan Barat dan Timur.

 

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa kesimpulan, sebagai berikut:

  1. Bahwa geografi masih tetap merupakan factor penting dalam proses pengambilan kebijakan atau keputusan terutama yang berkaitan dengan penyelenggaraan perang dan operasi militer serta sebagai salah satu bahan dalam menentukan strategi militer;
  2. Bahwa bebagai kesiapan perang, baik itu menyangkut kesiapan SDM yang professional; system dan metoda; pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (science); sarana dan alutsista-nyaperlu mempertimbangkan faktor geografi;
  3. Bahwa peperangan yang dilakukan, baik di teritori nasional maupun di luar teritori nasional akan merugikan rakyat, bangsa dan Negara—untuk itu perlu diingat akan adagium sivis vacuum parabellum,  dengan meyiapkan SDM yang professional; system dan metoda; pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (science); sarana dan alutsista di masa damai dalam rangka mengembangkan deterrence strategy supaya tidak terjadi perang;
  4. Bahwa pengadaan alutsista tidak terpaku pada deterministic geografi, melainkan mencari geografi yang fit dengan memfokuskan kepada lokus tertentu yang menjadi potensi ancaman Negara di masa mendatang.
[1]Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, pada pasal 1 ayat 2-3 dan 4 6 menjelaskan sebagai berikut : 1. Spasial adalah aspek keruangan suatu objek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya. 2. Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu. 3. Data Geospasial yang selanjutnya disingkat DG adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi. 4. Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat IG adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

[2]Selain pengertian dari UU Nomor 4/2011 diatas, dikutipkan pula dari Dictionary. Com’s 21st Century Lexicon (2003-2010), memberi definisi sebagai berikut: The term ‘geospatial’ is can further be defined as, ‘pertaining to the geographic location and characterictics of natural or contructed features and boundaries on, above, or bellow the earth’s surface; especially refering to data that is geographic and spatial in nature.

[3] Army Cheif of Staff, United State of Army, 2004 Army Transformation Road Map, July 2004.

[4] Di Departemen Pertahanan/Angkatan Bersenjata AS istilah Military Operation Other Than War (MOOTW) sudah berubah menjadi Stability Operation (seperti tertera pada Joint Publication 3-07 Stability Operation) yang sampai tahun 1998 pada saat penulis ke Seskoad AS Joint Publication 3-07 masih bernama Joint Publication 3-07 Military Operation Other Than War (MOOTW).

[5] LIDAR singkatan dari Light Detection And Ranging, yaitu teknologi optikal dan remote sensing yang dapat mengukur jarak dari dan ke suatu target dengan menggunakan kamera dan sensor. Teknologi LIDAR telah diaplikasikan pada bidang-bidang geomatik, arkaeologi, geografi, geologi, geomorfologi, seismologi, forestry, remote sensing dan atmospherik fisik, juga pada airborne laser swath mapping (ALSM), laser altimetry dan pemetaan dengan kontur—baik untuk kepentingan sipil maupun militer.

[6] US National Geospatial Intelligence Agency  (NGA), merupakan embrio dari Corps Pemetaan Angkatan Darat (US Army Mapping Service/AMS), lalu berkembang menjadi Badan Pemetaan Pertahanan (Defense Mapping Agency/DMA), lalu menjadi Badan Nasional Pemetaan dan Citra Satelit (National Imagery and  Mapping Agency/NIMA), dan terahir berkembang menjadi NGA.

[7]Sesuai dengan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Sedangkan Militer AS telah merubah istilah Military Operation Other Than War (MOOTW) seperti pada Joint Publication, JP 3-07 MOOTW menjadi Operasi Stabilitas atau Operasi Multispektrum (Stability Operation atau Multi spectrum Operation) seperti tertera pada JP 3-07 Stability Operation.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Geografi dan Teknologi Militer