TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Mengenang Pahlawan Nasional Robert W. Monginsidi

By 06 Sep 2012 07:41Kodam VII/Wirabuana
images_img_Kodam7_06092012wolter

Selasa sore (4/9), Danrem 131/Santiago Brigjen TNI Johny L. Tobing dan beberapa tokoh masyarakat Minahasa mengadakan syukuran sederhana atas selesainya pengecatan Patung pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi yang berada di kompleks Museum Perjuangan di Sario, Manado. Pengecatan kompleks Museum Perjuangan dan Patung R.W. Monginsidi memang sengaja dikebut agar selesai sebelum tanggal 5 September, untuk mengenang hari ketika Pahlawan Nasional R.W. Monginsidi dihukum tembak mati oleh tentara pendudukan Belanda 63 tahun yang lalu di Makassar.

Pemuda Robert lahir di Malalayang, Manado pada tahun 1925. Setelah sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar di HIS dan sekolah menengah MULO di Sekolah Frater Don Bosco, pemuda Robert melanjutkan belajar menjadi guru bahasa Jepang di Tomohon. Ketika kemerdekaan RI diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, Robert sedang berada di Makassar. Demi melihat Belanda berusaha menjajah kembali dengan membonceng tentara Sekutu, jiwa patriotik pemuda Robert tersulut, dan kemudian bersama-sama pemuda Daeng Romo membentuk LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) pada 17 Juli 1946 guna mengkonsolidasi serangan-serangan ke pos-pos tentara NICA Belanda di Makassar.

Setahun kemudian, pemuda Robert tertangkap dan diajukan ke pengadilan militer Belanda. Di pengadilan, pemuda patriotik tersebut ditawari untuk berhenti mendukung RI agar mendapat keringanan hukuman, namun dengan lantang dijawab, “Hukum matilah saya. Jika tidak, kamu nanti yang saya bunuh pertama kali.” Sebagaimana kita maklum bersama, pada 5 September 1949 pukul 05.00 waktu setempat, pemuda Robert dihadapkan pada regu tembak. Saat matanya akan ditutup, pemuda Robert menolak seraya berucap, “Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.”

Masa perjuangannya memang singkat. Namun wawasan dan cakrawala pikirannya yang luas serta semangat nasionalisme dan jiwa patriotismenya tidaklah sependek waktu perjuangan yang dipersembahkannya untuk ibu pertiwi. Untuk menghormati perjuangannya, sederet penghargaan dianugerahkan pemerintah Indonesia kepada pemuda Robert, antara lain: Bintang Gerilya (tahun 1958), Bintang Maha Putera Kelas III (tahun 1960), serta ditetapkannya sebagai Pahlawan Nasional (1973).

Untuk mengenang heroisme seorang Robert, semangat SETIA HINGGA AKHIR yang menjadi pegangan hidupnya juga diabadikan menjadi semboyan tentara Angkatan Darat di bumi Sulawesi, yakni Kodam VII/Wirabuana. Semboyan tersebut saat ini juga masih dapat ditemui  di markas Korem 131/Santiago. (Penrem 131/Dispenad)

 

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Mengenang Pahlawan Nasional Robert W. Monginsidi