TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Alutsista TNI Sudah Tak Bisa Lagi Dianggap Remeh

By 24 Feb 2014 21:49Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Jakarta,Pembangunan kekuatan per­tahanan merupakan keharu­san karena kekuatan militer suatu negara menunjukkan kuatnya pertahanan negara.

Kemajuan alutsista sangat berpengaruh terhadap pertah­anan negara bahkan bisa ber­pengaruh terhadap kedudukan negara dalam diplomasipolitik internasional. Kekuatan pertahanan juga harus terus diperkuat mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan sangat luas berpotensi ad­anya ancaman keamanan na­sional.

Contohnya pelanggaran wilayah perbatasan darat, gangguan keamanan di laut dan pelanggaran wilayah yuris­diksi laut, pemanfaatan ruang udara nasional secarailegal, dan upaya-upaya penguasaanwilayah Indonesia oleh nega­ra lain.

Kekuatan pertahanan In­donesia kini sudah tak bisa lagi dianggap remeh. Bahkan, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan berkeyakinan TNI akan memiliki dayakekuatan yang terbesar di antara Negara lain di Asia Tenggara  mengingat pada tahun2014 sejumlah alutsista milik tiga matra akan memasu­ki “masa panen”, dimana akanberdatangan ke Indonesia.

Keberhasilan pemerintah dalam pengadaan alat utamasistem pertahanan (alutsista)membuat banyak pihak yakinTNI akan memiliki kekuatanyang cukupmemadai, sepertidiungkapkanolehMenteriPertahananPurnomoYusgiantoro.

“Renstra pertama (2010-2014), kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara lantaran pengadaanalutsistaolehpemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru,” kata Purnomo beberapa waktu lalu.

Kekuatan TNI Angkatan Udara akan terus meningkat. Bahkan, ada 102 alat utama sistem senjata (alutsista) baru pada rencana strategis pem­bangunan TNI AU tahun 2010-2014,sepertipesawattempur F-16, T-50i, Sukhoi, Super Tucano,CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar.

“Pada tahun 2014 ini, se­jumlah pesawat tempur yang telah dipesan akan berdatan­gan dan semakin memperkuat TNI AU,” kata Menhan saat se­rah terima pesawat tempur T-50i produksi Korea Selatan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (13/2).

Menurut dia, ke-16 unit pe­sawat tempur ringan berme­sin jet T-50i Golden Eagle bua­tan Korea Selatan itu juga me­nambah kekuatan Alutsista TNI AU.

Pesawat tempur T-50i yang dibeli Pemerintah Indonesiadengan nilai kontrak sebesar400 juta dollar Amerika iniakan digunakan sebagai pesawat pengganti Hawk MK-53 yang menjadi bagian dari Skuadron Udara 15, Lanud Iswahyudi Madiun, di bawah Komando Operasi AU-II.

“Pesawat ini akan meningkatkan peran TNI dalam mengemban tugas yang lebih besar dalam menghadapi tan­tangan yang  yang lebih kompleks dimasa mendatang,” kata,Purnomo.

Pesawat T-50i adalah pe­sawat latih supersonik bua­tan Amerika-Korea Selatan dan dikembangkan oleh Korean Aerospace Industry dengan bantuan Lockheed Martin.

Pesawat ini mampu ditem­patkan digaris depan sebagai Light Fighter yang dilengka­pidengan peralatan tempur. (Missile Guided/Unguided, Rocked, Bomb, Canon 20 mm serta radar).

“Dengan kehadiran pesawat T-50i tersebut, maka status pembangunan kekuatan ma­tra udara pada renstra 2010-2014 dalam rangka mod­ernisasi Alutsista yaitu skadron pesawat tempur strategisSukhoi telah lengkap seban­yak 16 unit,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Menhan, ta­hun ini akan datang pesawat tempur F-16 setara Blok 52 buatan Amerika Serikat se­banyak 24 unit. Sampai awal semester II tahun 2014 akan hadir 16 pesawat tempur Su­per Tucano untuk melengkapi 1 skadron dalam rangka men­dukung operasi pengamanan dalam negeri.

Disamping itu, juga akan segera tiba UAV (pesawat ter­bang tanpa awak) untuk men­gisi skadron UAV dalam rang­ka memperkuat operasi pe­mantauan perbatasan yang di­pusatkan di Lanud Supadio Pontianak.

Menhan juga mengungkap­kan, untuk pesawat angkut se­dang, secara berurutan telah tiba di Indonesia sebagian be­sar dari sembilan unit pesawat CN-295 yang merupakan ha­sil kerja sama produksi antara PT DI dengan Airbus Military dan rencananya akan menjadi satu skadron CN-295, dan 2 unit CN-235 serta 1 unit Casa-212 untuk angkut ringan.

Dalam rangka mendukung kegiatan airlift dan OMSP, telah dilakukan penambahan kekuatan sebanyak sembilan pesawat angkut berat Hercules C-130H yang sudah mulai tiba secara bertahap.

TNI AU juga telah mener­ima dan mengoperasikan pe­sawat latih lanjut KT-1B Wong Be buatan Korea Selatan yang digunakan oleh Tim Aerobatik TNI AU, Jupiter sebanyak satu skadron.

Selain itu, peremajaan pe­sawat-pesawat latih TNI AU telah dilakukan dengan meng­ganti pesawat latih T-34 C, dan AS-202 Bravo yang su­dah berusia sekitar 30 tahun dengan pesawat latih generasi baru yaituGrob G-120 TP bua­tan Jerman sebanyak 18 unit yang direncananya akan men­jadi 24 unit.

Menhan menambahkan, un­tuk rotary wing, telah ditambah beberapa jenis helikopter yaitu Helly Super Puma NAS-332 se­banyak tiga unit dan Helly Full Combat SAR EC-725 Caugar dari Euro Copter sebanyak enam unit.

Sedangkan untuk pertahan­an udara nasional, telah diper­kuat dengan pengadaan PSU (Penangkis Serangan Udara)sebanyak tiga batere/6 firing unit buatan Rainmetall Air Defence Switserland untuk satu­an-satuan di Korps Paskhas TNI AU tujuh unit radar cang­gih yang telah dan akan dipa­sang di beberapa lokasi antara lain Merauke, Saumlaki, Timika dan Morotai.

TNI-AD Khusus TNI Angka­tan Darat, selain membeli 114 unit tank Leopard, pemerin­tah juga mengadakan-28 unit helikopter” dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder akan tiba sebelum bulan September 2014.

Demikian pula dengan Me­riam Caesar, dimana dari 37 unit, yang empat unit di anta­ranya akan tiba sebelum Ok­tober 2014. Sementara un­tuk roket MLRS Astros II akan tiba 13 unit sebelum Oktober 2014. Masih dari TNI-AD, rudal pertahanan udara jenis Star-streak serta Mistral dijadwal­kan juga tiba sebelum Oktober 2014, khususnya Mistral akan datang sebanyak 9 unit pada Juni 2014.

Sementara itu untuk ma­tra laut, terdapat UpgradeKa­pal perang korvet kelas Fatahillah, Kapal latih pengganti KRI Dewaruci, pengadaan dua unit Kapal Hidro Oceanografi, dan lain lain. Untuk tank am­fibi BMP-3F sebanyak 37 unit, yang beberapa diantaranya se­dang dalam proses uji terima.

Sementara panser amfi­bi BTR-4 sebanyak lima unit, yang dua unit di antaranya akan tiba di tanah air pada September 2014.

Target MEF 42 persen Pan­glima TNI Jenderal TNI Moeldoko menargetkan tahun 2014 ini kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/ MEF) pada rencana strategis I dapat mencapai 40-42 persen.

“MEF pada 2013 telah lam­paui target 28,7 persen. Pada 2014 diharapkan mencapai 40-42 persen,” kata Panglima TNI usai membuka Rapat Pimpi­nan (Rapim) TNI 2014 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (8/1).

Masyarakat Indonesia bisa melihat sendiri bagaima­na kekuatan alutsista TNI di 2014 ini, diantaranya adalah sejumlah Alutsista yang akan datang pada tahun ini untuk memperkuat matra darat, laut dan udara.

Kementerian Pertahanan op­timistis pencapaian kekua­tan pokok minimal dapat di­lakukan pada 2019 atau leb­ih cepat lima tahun dari tar­get yang telah ditentukan pada 2024. Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019).

Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan, se­buah terobosan dan keberhasi­lan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan. Ang­garan pertahanan pada 2013 mencapai Rp 77 Triliun, na­mun pada 2014 ini meningkat: menjadi Rp83,4 Triliun.

Transformasi TNI AD TNI An­gkatan Darat (AD) akan leb­ih memfokuskan diri untuk: melakukan transformasi organisasi pada 2014 ini guna menghadapi rencana strategis II periode 2015-2019.

“Transformasi ini akan disesuaikan dengan perkem­bangan lingkungan strategis yang mungkin dihadapi Indonesia pada lima hingga sepu­luh tahun ke depan.

Hal ini dilakukan agar TNI AD semakin profesional dan mampu menjawab tuntutan dan perkembangan jaman,” kata Kepala Staf TNI AD Jen­deral TNI Budiman usai mem­buka Rapat Pimpinan (Rapim) 2014 TNI AD, di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Rabu (15/1).

Pertambahan alutsista mem­buat TNI AD harus segera mendesain ulang organisasi. Jika dulu TNI AD hanya me­miliki meriam 105 mm yang jarak ledaknya hanya 12 kilo­meter, saat ini sudah memilikimeriam 155 mm dengan daya jangkau 42 kilometer.

TNI AD juga sudah memiliki Multilauncher Rocket System (MLRS) dengan daya jangkau hingga 100 kilometer.

“Kita juga punya tank (Leop­ard) yang kapabilitasnya luar biasa,” ujarnya.

Ada pula penangkis seran­gan udara yang kemungki­nan perkenaannya mencapai 96 persen. Semua itu bisa didapat walaupun anggaran belanja pertahanan Indonesia masih kurang dari satu persen GDP. “Bahkan, kita sudah; bisa membuat beberapa alut­sista sendiri,” ucapnya.(han), Sumber Koran: Pelita (24 Februari 2014/Senin, Hal. 01)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Alutsista TNI Sudah Tak Bisa Lagi Dianggap Remeh