TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

TNI Perbatasan Agar Perhatikan Pelintas Batas

By 25 Feb 2014 23:13Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Februari 24, 2014 – Nasional Kupang ( Berita ) :  Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana Mayor Jenderal Wisnu Bawa Tanaya, meminta jajaran TNI di wilayah batas negara RI-Timor Leste, untuk fokus sejumalah masalah perbatasan, di antaranya pelintas batas negara.

 Hal ini diungkapkan Mayjen Wisnu, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Achmad Juliarto, pada syukuran hari ulang tahun ke-53 Korem 161/Wira Sakti Kupang, Senin [24/02].

 Pangdam mengatakan, wilayah Korem 161/Wira Sakti yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan, dikaitkan dengan masalah pengamanan perbatasan.

Walaupun pengamanan perbatasan sampai saat ini telah dapat tertangani dengan baik, namun perhatian masih harus diberikan untuk sejumlah masalah pelanggaran lintas batas, penyelundupan dan penyusupan, serta pelintasan imigran gelap.

Sejumlah persoalan itulah, lanjut Pangdam, harus menjadi perhatian khusus dan penuh bagi jajaran Korem 161/Wira Sakti Kupang dan jajarannya.

“Untuk itu harus selalu tingkatkan koordinasi baik masalah pengamanan perbatasan dengan satuan pengamanan perbatasan Timor Leste, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman atau kesalahan tindakan dalam mengambil keputusan cara bertindak,” kata Mayjen Wisnu.

Dia mengatakan, selain masalah perbatasan, Korem 161/Wira Sakti, memiliki empat pulau terluar, yaitu Pulau Batek, Mengudu, Dana Sabu dan Pulaua Dana di Rote, yang tetap memerlukan perhatian dan pengamanan serius.

Pengamanan serius, katanya, harus dilaksanakan secara optimal karena hal ini bertujuan untuk menghindari klaim negara lain atas pulau-pulau itu, sehingga kedaulatan NKRI tetap terjaga.

Selain semua persoalan ini, seluruh prajurit Korem 161/Wira Sakti diminta untuk meningkatkan kerukunan hidup dengan seluruh elemen masyarakat, untuk tetap mempertahankan keseimbangan yang sudah terjalin baik selama ini.

Hal ini disampaikan mengingat wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan.

“Jika masalah SARA ini sedikit saja mengalami gesekan dan tidak ditangani secara arif, maka akan menimbulkan perpecahan yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Pangdam Udayana.

Namun jika sebaliknya, berbagai etnis dan agama ini dikelola dan diberdayakan dengan baik, maka dapat menambah khazanah budaya serta meningkatkan ketahanan nasional di daerah ini.

Menurut Pangdam Udayana, masalah SARA, sangat rentan terjadi karena mudah sekali disulut. Oleh karena itu, diharapkan kepada seluruh jajaran Korem 161/Wira Sakti, agar meningkatkan profesionalitas dan soliditas satuan sebagai Komando Kewilayahan untuk mendeteksi secara dini, setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat, guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Biasanya kejadian berbau Sara mudah dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggungjawab untuk memecah belah persatuan dan kesatuan. Apalagi bila dikaitkan dengan hal-hal yang mendasar misalnya masalah primordialisme atau kesukuan,” kata Pangdam Udayana.

Untuk jajaran Korem 161/Wira Sakti, Pangdam meminta untuk selalu bersama-sama, bahu membahu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan masyarakat.

“Jika memang ada persoalan, harus diselesaikan secara kekeluargaan sesuai adat dan budaya setempat, dengan mengedepankan perdamaian dan cinta kasih,” kata Mayjen Wisnu. (ant )

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

TNI Perbatasan Agar Perhatikan Pelintas Batas