TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Letda Ckm (K) dr. Dita Yulia Bintari Dokter Satgas Pamtas TNI

By 14 Mar 2014 19:16Bilik Prestasi
kes

Untuk pertama kalinya, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI di garis perbatasan negara Indonesia-Malaysia, di Kalimantan, pada periode penugasan 2013, melibatkan tentara wanita dari Korps Wanita TNI AD. Selama ini belum pernah ada personel yang berasal dari Korps Wanita TNI dari matra manapun dilibatkan kedalam satuan tugas pengamanan perbatasan.

Sekarang eranya sudah berbeda, karena korps wanita Angkatan Darat telah dilibatkan dalam tugas pengamanan perbatasan. Salah satu diantara personel wanita TNI AD itu adalah seorang dokter tentara, yakni Letnan Dua (Letda) CKM (K) dr Dita Yulia Bintari (28), yang dalam kesehariannya bertugas di Batalyon Infanteri-403/Wirasada Pratista, Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Jawa Tengah.

Dokter Dita, begitu dia biasa disapa oleh sejawat dan masyarakat, merupakan salah satu dari tiga perwira personel Kowad yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan di sepanjang wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Bicara layanan kesehatan, akses untuk hal mendasar ini memang amat sangat sulit bagi masyarakat perbatasan kedua negara.

Bagi Letda Dita penugasan ini merupakan penugasan perdananya dalam satuan tugas reguler, lokasinya di ujung garis perbatasan negara pula. Selama ini ada tiga satuan tugas pengamanan perbatasan negara, yaitu di garis perbatasan Pulau Kalimantan (Kalimantan Barat-Kalimantan Timur), Pulau Papua, dan Pulau Timor, di NTT.

“Sebagai seorang prajurit wanita, saya harus siap menjalankan tugas di manapun dan ini tugas pertama kali yang saya jalani di wilayah perbatasan sejak lulus pendidikan militer”, ungkap Letda Dita.

Asal muasal menjadi tentara menurutnya, sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, pada 2010. Setelah jeda sebentar, ia mengikuti pendidikan militer dan lulus pada 2012.

Markas Besar TNI memang selalu membuka rekrutmen Perwira melalui jalur sarjana sebagaimana yang ditempuh Dita dan puluhan perwira berbasis pendidikan strata satu lainnya. Dokter dan tenaga kesehatan menjadi hal penting untuk selalu dipenuhi kedinasan TNI bagi ketiga matra.

Bertugas di tapal batas negara, semula mengharuskannya rajin dan ikhlas berurusan dengan masyarakat yang sangat membutuhkan pelayanan kesehatan. Namun kemudian hal itu menjadi sesuatu yang dia jiwai sepenuh hati.

“Mulai dari Pos Temasuk Kompi C Batalyon, hingga Pos Klawik Kompi A,” kata dia, antara pos paling barat dan timur perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak (Malaysia) itu tercatat ada 39 pos yang harus diemban dalam  melayani kesehatan masyarakat.

Soal jaraknya jangan heran, bisa dilihat di peta yang menggambarkan betapa panjang garis perbatasan negara yang harus mereka kawal. Belum lagi kontur bergunung-gunung, pepohonan lebat atau perdu yang lentur untuk ditebas, sungai-sungai, dan lain sebagainya. Belum lagi serangan “armada nyamuk” sebagai misal.

Di sela tugas Letda Dita melayani pasien yang berobat di Pos Gabungan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Dita menuturkan, sudah lebih dari 3.000 pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan dari satuan tugas TNI. Bagi Dita, untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah perbatasan, merupakan tantangan baru.

Anggota Satgas Pamtas yang mengemban peran kesehatan, khususnya dari Yonif-403/Wirasada Pratista, tidak bisa berdiam di suatu tempat. Mereka terus berpindah tempat menuju dusun-dusun atau desa-desa. Untuk bisa tiba di tempat tujuan sesuai perintah atasan, bukan hal mudah. Jangan dibayangkan seperti di kota-kota, “Kami kadang-kadang harus berjalan kaki tiga hari dengan medan jalan setapak alias jalan tikus, merintis jalan, dan sebagainya,” kata Perwira Kowad itu.

“Tidak jarang kami menggelar tenda di hutan, menginap di hutan karena kemalaman dalam perjalanan”, kata Dita dengan wajah tersenyum.

Pada sisi ini, dia sangat bisa memahami pelaksanaan tugas seorang Perwira Kowad yang berprofesi sebagai dokter. Pada sisi lain, hal-hal seperti itu memperkaya wawasannya bahwa Indonesia kaya akan kultur dan adat kebiasaan serta kondisi geografisnya.

Indonesia sangatlah luas, masih terlalu banyak wilayah dan sudut-sudutnya yang belum tersentuh pembangunan sebagaimana mestinya. Justru dinamika di lapangan mendorongnya untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat perbatasan, karena mereka juga adalah saudara sebangsa kita yang berhak mendapatkan perhatian”, katanya dengan tersenyum bangga. (Redaksi)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Letda Ckm (K) dr. Dita Yulia Bintari Dokter Satgas Pamtas TNI