TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Beratnya Perjuangan Prajurit TNI, Taklukkan Wilayah Perbatasan NKRI di Sanggau

By 14 Apr 2014 13:59Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Sunday, 13 April 2014 14:09 INTEGRITAS dan pengabdian prajurit TNI untuk bangsa dan NKRI merupakan harga mati. Hal ini merupakan suatu prinsif dan harus selalu dipegang teguh oleh seorang prajurit TNI.Selain itu, nilai-nilai kesatuan bangsa tetap menjadi prioritas utama yang harus diperjuangkan demi keutuhan bangsa.

Maka tak mengherankan, dimana pun prajurit TNI ditugaskan selalu siap sedia melaksanakan perintah atasan, terlebih lagi bagi yang bertugas di wilayah perbatasan. Untuk menjaga tiap inci keutuhan wilayah NKRI jangan sampai dirongrong pihak lain.

Hanya saja, bagi prajurit TNI yang bertugas di perbatasan negara tidaklah mudah, diantaranya harus melaksanakan patroli patok perbatasan di tempuh dengan berjalan kaki.

Medan yang berat merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para prajurit yang menjadi tanggung jawab dalam mengamankan patok perbatasan RI, khususnya yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia.

Diketahui, patroli patok perbatasan ini dilakukan, bukan hanya mencari patok batas saja. Namun, merupakan upaya untuk mencegah terjadinya segala jenis kegiatan ilegal dalam bentuk apapun serta untuk mencegah terjadinya pelintas batas yang tidak memenuhi persyaratan dalam prosedur yang berlaku.

Lantas bagaimana suka duka dan medan tugas yang harus diemban prajurit TNI yang ditugaskan mengawal perbatasan NKRI, berikut hasil dialog singkat Muhammad Khusyairi, Pemimpin Redaksi fokusnasional.com, dengan Sertu Akhmad Suhairi dari Satgas Pamtas 143 TWEJ Kodam II Sriwijaya, Sumatera Selatan, selaku Komandan Pos TNI di Bantan, Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Provinis Kalimantan Barat, baru-baru ini.

Kedatangan awak media di Pos Bantan, yang berada di kaki Bukit Roan disambut hangat pria asal Palembang ini. Lantas tak lama berselang tercipta dialog hangat yang sesekali dihiasi dengan derai tawa bersama.

Saat itu awak media, sempat bertanya kesan dan pengalaman nya ketika melaksanakan patroli tapal batas negara. Maka diketahui, selama patroli yang dilaksanakan 4 hari itu, prajurit yang gagah berani ini berhasil menemukan 64 patok batas negara.

Berikut sekilas gambaran perjalanan dan perjuangan yang harus dilalui dan dihadapi prajurit Satgas Pamtas 143 TWEJ yang berada di Pos Bantan, tatkala melaksanakan patroli tapal batas.

Saat itu, mentari belum keseluruhannya muncul di ufuk timur pada awal Januari tahun 2014 empat bulan lalu. Namun, Sertu Akhmad Suhairi, Komandan Pos Bantan, dari pasukan Pamtas Yonif 143 TWEJ, Kodam 2 Sriwijaya, Sumatera Selatan dan tujuh anggotanya yang lain, terlihat sibuk mengemasi berbagai perbekalan atau logistik berupa makanan seperlunya, senjata yakni senapan laras panjang dan sangkur. Namun, tak lupa juga membawa peta, Global Position System (GPS) dan kompas yang akan digunakan untuk menunjuk arah. Mengingat akan melewati medan alam yang sangat berat, terlebih lagi melaksanakan patroli patok yang berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan negara lain yakni Malaysia.

Usai mengemasi persiapan, pria berperawakan tegap itu, langsung mengadakan briefing dan memberikan pengarahan kepada anggota nya.

Tak lama berselang, mereka langsung memulai pencarian patok tapal batas negara itu, setapak demi setapak langkah mereka ayunkan dengan pasti. Dan satu tekad di hati mereka harus bisa dan mampu menaklukkan susahnya medan yang akan dilalui.

“Kita membawa bekal seadanya saja. Terus dilengkapi dengan senjata dan GPS, peta dan kompas untuk penunjuk arah,” ujarnya memulai kisahnya.

Prajurit-prajurit yang gagah berani ini, harus berjibaku menaklukkan ganasnya jurang yang terjal, lereng Bukit Roan yang menurut warga setempat menyimpan berbagai misteri dan unsur mistis serta ganasnya hutan belantara. Tak ada bekas jalan, mereka harus menerabas lebatnya pepohonan dan semak belukar. Bahkan, harus merayap dan menggali tanah untuk menemukan patok tapal batas yang terbuat dari semen itu. “Tak ada bekas jalan, kita harus membuat jalan sendiri, sebelumnya dicari dulu koordinat patok itu dimana. Dan jalan ke Bukit Roan itu tanjakan semua dan kita juga harus melalui jurang dan lembah serta hutan lebat,” kenangnya.

Untuk menaklukkan Bukit Roan dan menemukan patok tapal batas, harus melalui 11 anak sungai. Saat itu, mereka juga menemukan menara pengintai bekas milik tentara Inggris dilengkapi dengan kolam air, bangkai pesawat yang sudah menjadi besi tua diduga terjatuh masa-masa penjajahan dulu, serta beberapa gua-gua besar yang menurut warga setempat dihuni ular raksasa.

“Kita juga menemukan adanya serpihan bangkai pesawat, menara pengintai katanya milik tentara Inggris dan beberapa gua. Nah, kalau menurut warga di sini gua itu dihuni ular raksasa penunggu Bukit Roan ini,” jelasnya.

Prajurit-prajurit ini bukan saja dihadapkan dengan beratnya medan yang dilalui. Namun, juga harus berhadapan dengan berbagai unsur mistis dan mitos, dimana mengatakan diatas Bukit Roan itu ada makhluk menyerupai anjing bertubuh harimau dan bersayap terbang dari pohon ke pohon. Lantas diatas bukit itu tidak boleh membunuh lintah, membakar terasi.

Kendati demikian upaya patroli patok itu terus dilaksanakan kala itu. Malam hari mereka tidur di tenda seadanya dengan posisi baring selalu siap siaga dengan senjata dipelukan. Pernah suatu malam, salah seorang anggota yang ikut berpatroli, ketika terjaga dari tidur malanya melihat seekor harimau  besar sedang memperhatikan mereka. Hanya saja, sulit untuk dibuktikan apakah itu harimau sungguhan atau bukan, tahu-tahu menghilang. Selain itu, jika bunyi-bunyian aneh di malam hari bukan lah hal yang asing tiap malamnya, dan dianggap nyanyian syahdu pengantar tidur. “Ya, sempat anggota saya melihat harimau waktu terbangun dari tidur. Tapi tak jelas juga apakah harimau benaran atau apa. Nah, kalau bunyi-bunyian udah biasa lah Bang,” cetusnya.

Saat pertama patroli tak bisa dituntaskan, Sertu Akhmad Suhairi ini memutuskan untuk memimpin anak buahnya balik kanan ke Pos Bantan, karena kondisi cuaca tak bersahabat. Di seputaran kawasan perbatasan yang akan ditelusuri diguyur hujan siang malam. “Kita pulang dulu waktu itu, tak bisa tidur dan berjalan. Mana kondisi diatas licin, maka kami pulang dulu ke pos,” ujarnya.

Lantas beberapa hari kemudian, setelah kondisi cuaca cukup bersahabat patroli tapal batas kembali dilaksanakan. Hanya saja, ketika memasuki wilayah Panga, Kecamatan Entikong, mereka kewalahan mencari air. Mau tak mau mereka harus mengkonsumsi air bekas kubangan babi, namun terlebih dahulu diendapkan lumpurnya. “Nah, waktu patroli selanjutnya, ketika sempat melintasi di wilayah Panga. Kami dihadapkan dengan tidak adanya air, disana sangat susah mencari air. Maka, mau tak mau, kami ketika menemukan bekas kubangan, maka air itu yang kami ambil. Lalu diendapkan dulu, kemudian baru dikonsumsi,” kenangnya.

Kendati demikian, menjelang habis masa tugasnya Satgas Pamtas 143 TWEJ di mengawal wilayah perbatasan di Kalbar ini. Ia berkeinginan untuk kembali menelusuri wilayah perbatasan yang ada di wilayah tugasnya, sebagai bukti kecintaan terhadap tiap jengkal wilayah NKRI. Selain itu, merupakan bagian tugas dan tanggungjawabnya sebagai prajurit TNI, yang mana NKRI merupakan harga mati. (M Khusyairi: Pemimpin Redaksi)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Beratnya Perjuangan Prajurit TNI, Taklukkan Wilayah Perbatasan NKRI di Sanggau