TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Beban Berat Kepala Staf Gatot Nurmantyo

By 25 Jul 2014 22:18Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Jumat (25/7) siang ini, di­jadwalkan serah terima ja­batan Kepala Staf TNI AD dari Jenderal Budiman (Akmil 1978) kepada Letjen Gatot Nurmantyo (Akmil 1982). Gatot, yang saat ini Panglima Kostrad, akan pensiun empat tahun lagi.

Tugas yang pernah diemban Gatot cukup variatif dari operasi tempur di Timor Timur hingga operasi kemanusiaan pasca tsu­nami di Aceh. Gatot yang me­miliki spesialisasi intai tempur pernah menjadi Danrem Suryakencana dan Pangdam Brawijaya. Di pendidikan, ia pernah jadi Komandan Rindam Jaya dan Gubernur Akmil. Dia pernah menjadi komandan pasukan tempur saat menjadi Komandan Brigade Infanteri Jaya Sakti di Jakarta dan Panglima Kostrad.

Prajurit mengenal Gatot tegas dan memiliki tuntutan tinggi. Rekan sejawat atau se­nior memberikan apresiasi ten­tang cara unik pendekatannya menyelesaikan masalah. Gatot yang supel juga diterima kalang­an di luar militer, seperti politisi dan pengusaha. Kepiawaian menjaga netralitas dan indepen­densi sangat diharapkan.

Di luar militer, Gatot sempat membuat kontroversi pada HUT Pemuda Pancasila (2013) saat mengomentari demokrasi di In­donesia saat ini tidak sesuai de­ngan Pancasila. Belakangan ini juga ia kerap memberi kuliah di kampus-kampus tentang proxy war, yang dipicu kekhawatiran­nya akan sengketa energi dan pangan yang menjadi latar be­lakang konflik di dunia.

Melanjutkan kebijakan KSAD sebelumnya,” seperti bi­asa akan menjadi pernyataan KSAD baru kepada publik se­telah upacara sertijab. Beberapa hal penting perlu diteruskan, se­perti modernisasi persenjataan. Budiman memberi perhatian khusus pada pengembangan te­knologi informasi dan komuni­kasi lewat riset dan pengembangan industri dalam negeri.

Namun, ada banyak masalah yang harus diselesaikan. Hal ini sesuai dengan filosofi dasar tu­gas pokok seorang KSAD untuk membina personel TNI AD yang sekitar 280.000 orang. Dengan anggaran TNI AD sekitar 60 persen hanya untuk menutup kebutuhan rutin, seperti gaji, ruang berkembang relatif sem­pit. Padahal, perkembangan militer dunia saat ini telah sampai pada Revolutionary MilitaryAffairs (RMA) untuk menjawab perang masa depan. Titik berat RMA pada teknologi seperti nano, pesawat tanpa awak, biotek­nologi sebagai alat. TNI AD ha­rus berubah doktrin dan pen­dekatan, bahkan organisasinya. Apa strategi mengubah TNI AD yang berbasis manusia menjadi yang mengombinasikan diri de­ngan teknologi untuk mengha­dapi perang modern ketika mu­suh tidak lagi mudah didefini­sikan?

Masalah lain terkait tuntutan reformasi militer, yaitu sumber daya manusia. Terjadi bottle necking di kalangan perwira TNI AD sehingga banyak sum­ber daya berkualitas yang ter­singkir. Di kalangan prajurit, insiden Cebongan merupakan pe­kerjaan rumah sangat berat ka­rena menyangkut kultur TNI AD. Bagaimana memelihara jiwa korsa dengan etika yang ketat untuk memiliki tentara profe­sional, militan, tetapi tidak arogan, apalagi korup?(edna c pattisina), Sumber Koran: Kompas (25 Juli 2014/Jumat, Hal. 08)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Beban Berat Kepala Staf Gatot Nurmantyo