TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Kisah Inspiratif Mayor (Ckm) drh Joko Suranto, Satu-satunya Dokter Kuda di TNI

By 26 Aug 2014 17:10Bilik Prestasi
DSCF9804

Selain pasukan manusia, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat memiliki 230 kuda perang terlatih. Adalah drh Joko Suranto satu-satunya dokter khusus yang merawat ratusan hewan tersebut.

Kalau saja tidak memakai seragam tentara, tidak akan ada yang menyangka bahwa pria ini adalah anggota TNI. Bicaranya sopan, pelan, dan ramah.“Saya ini memang tidak pernah kepikiran jadi anggota TNI. Dulu masuk UGM (Universitas Gadjah Mada), cita-citanya jadi dokter hewan, merawat ternak-ternak di desa,” ujar Mayor (CKM) Joko Suranto kepada redaksi Majalah Palagan.

Mencari jadwal kosong Joko bukan perkara gampang. Maklum, kliennya tersebar di seantero Indonesia. Di luar jam dinas, Joko akan berkeliling untuk merawat kuda-kuda yang butuh sentuhan medisnya. Joko adalah satu-satunya dokter hewan spesialis kuda di lingkungan militer.“Setahu saya tenaga khusus yang sudah bersertifikat spesialis kuda hanya empat orang di Indonesia, yang tiga sipil,” katanya.

Jabatan resmi yang saat ini disandangnya adalah Kasi Doksisdur Trakorp Ditkesad, tetapi diperbantukan di Denkavkud Pussenkav Kodiklat TNI AD. Oleh karena itu meski melekat nama CKM (Corp Kesehatan Militer), Joko mengenakan baret hitam khas kesatuan Kavaleri.“Saya lulus UGM tahun 1998, menyelesaikan tugas akhir saat dibangku kuliah bukan mengarah ke soal kuda. Jadi ini semacam terjerumus, tapi nikmat,” tuturnya.

Setelah mendapat gelar dokter hewan, pria kelahiran Boyolali, Jateng, 15 Maret 1970 itu mengikuti pendidikan perwira sumber sarjana. Pada tahun 2000 dia langsung berdinas di korps kavaleri dan langsung menerima amanah mengurus kuda.

Hampir 13 tahun merawat aneka kuda, Joko memperoleh banyak pengalaman. Pada tahun 2001, 2007, dan 2011 dia menjadi dokter resmi Kontingen Berkuda Indonesia di ajang pesta olahraga Asia Tenggara atau SEA Games. Dia juga menjadi juri kesehatan kuda di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 dan 2008. “Saya juga ikut bertanding dan Alhamdulillah pernah menang dalam nomor kelas jumping antar militer seAsia Tenggara di Bandung pada tahun 2008,” menurutnya.

Setelah memenangi kompetisi, dia mendapat perintah untuk mengambil sertifikat dokter hewan spesialis kuda di Melbourne dan Sydney, Australia selama satu tahun. Sertifikat dari Federation Equestre Internationale tersebut berlaku internasional, artinya bapak dua anak itu bisa memeriksa kuda di negara mana pun.

Selain merawat 235 ekor kuda militer di markas Detasemen Kavaleri Berkuda, Joko merupakan dokter untuk kuda prestasi yang dimiliki oleh para pecinta kuda dan beberapa atlet nasional di tanah air. Joko juga dokter resmi kuda-kuda inventaris negara yang ada di Istana Cipanas, Jawa Barat. “Setiap istana ada binatang yang khas. Misalnya di Istana Bogor ada rusa. Nah, kalau di Cipanas, ada kuda,” katanya.

Setidaknya dua kali sebulan Joko berkunjung dalam rangka mengontrol perawatan kuda. Untuk makanan tidak ada yang istimewa, yang penting jangan berlebihan, karena bagi kuda berlebihan itu sangat bahaya. Untuk perawatan harian misalnya, bulu-bulu dan surai kuda harus dikerok. “Mirip ketika kita mengelus-elus mobil dengan maksud agar mengkilap,” katanya. Selain itu, kotoran di kuku harus dibersihkan dan dicungkil. Seminggu sekali kuda harus dimandikan, lalu ekor dan surainya dicukur agar tampil menarik. “Kalau pemasangan tapal, idealnya sebulan sekali,” katanya. Menurut Joko, untuk menunggangi kuda diperlukan stamina yang prima. Risikonya sangat besar jika tidak berlatih atau tubuh tidak fit. Sering juga Joko merawat seorang pekatik (perawat kuda dalam istilah Jawa) yang jatuh karena lengah saat menunggang.

Dalam filosofi Jawa, kuda termasuk satu di antara lima syarat seorang pria disebut jalma jangkep (manusia seutuhnya). Syarat lengkapnya adalah punya wisma (rumah), wanita (istri), curiga (keris), kukila (burung), dan turangga (kuda). “Karena itu, rata-rata penghobi kuda tidak hitung-hitungan duit,” ungkapnya.

Gengsi dan prestise lebih mendominasi, bahkan sering mengalahkan akal sehat.“Harganya juga bervariasi, kisarannya antara Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar. Untuk kuda lokal, harga Rp 100 juta sudah bagus. “Tapi, ya itu tadi, nggak bisa dinilai. Misalnya suka dengan satu kuda, ditawarkan dengan nilai berapapun akan diambil. Sama halnya seperti burung perkutut. Beda dengan sapi, nilainya bisa ditaksir dengan pertimbangan kalau disembelih ada berapa kilo dagingnya,” paparnya.

Dari sisi kepercayaan tradisional, ada juga katuranggan kuda, dilihat dari gagahnya, dari unyer-unyer, dari panjang surai, dan sebagainya. Bahkan ada mitos yang mengatakan bahwa ada bentuk fisik kuda yang mempunyai ciri dan tanda tertentu yang dapat membawa keberkahan. Saat ini di kalangan penghobi kuda sedang tren cross breeding atau kawin silang antar ras. Kelebihan kuda ras asing adalah postur yang gagah besar.Tapi, daya tahannya terhadap iklim di Indonesia sangat lemah. Sebaliknya, kuda asli Indonesia berpostur kecil, tapi tahan banting di segala cuaca. “Kawin silang itu berusaha mendapatkan keturunan yang gagah, namun tahan terhadap iklim Indonesia,” katanya.

Ras hasil persilangan tersebut bisa diperoleh dengan kawin alami atau kawin suntik (inseminasi buatan).“Proses mengawinkan secara alami sudah jarang karena tekniknya yang memakan biaya dan berisiko. Kuda jantan bisa tersepak kuda betina yang sedang birahi saat dikawinkan,” ungkap dia. Drh. Joko menjelaskan, jika perempuan punya masa subur, kuda betina juga punya siklus reproduksi, siklusnya tiap 21 hari. Dari waktu tersebut, hanya empat hari kuda betina bersedia dikawin oleh pejantan.Jika salah memperkirakan hari, yang terjadi bukan bermesraan, melainkan kuda itu justru berkelahi hebat.“Kalau ceweknya belum mood, resikonya ya orang-orang di sekitarnya kena amuk juga,” ucapnya.

Belasan tahun menjadi dokter spesialis kuda, Joko sebenarnya sudah hafal kapan masa birahi kuda betina datang.Tandanya disingkat A3, B2, dan C1.“Abang, abuh, anget, bengak-bengok,banyu mili dan cingkrak-cingkrik,” jelasnya. Kelamin betina akan memerah, membengkak, menghangat dan keluar cairan. Perilakunya juga sering meringkik dan genit (cingkrak-cingkrik).Oleh karena itu yang lebih aman dalam hal reproduksi adalah teknik inseminasi buatan (IB).Secara teknis, sperma kuda jantan disuntikkan ke rahim kuda betina.“IB lebih praktis karena betinanya nggak perlu diangkut, cukup orangnya yang datang. Bayangkan kalau pejantannya di Bogor, betinanya dari Bali, repot menggesernya dan makan ongkos,” katanya.

Untuk mengumpulkan sperma, kuda jantan dirangsang dengan boneka khusus dari spons yang dibuat mirip dengan punggung kuda betina. Boneka itu diolesi cairan dari kelamin kuda betina yang sedang birahi. Zat feromon tersebut akan membuat pejantan berfantasi seakan ia benar-benar sedang bermesraan dengan si betina. Boneka itu juga dilengkapi dengan liang vagina buatan untuk menampung sperma pejantan dengan temperatur khusus. Dalam waktu 30 s.d 45 menit, kuda jantan sudah bisa ejakulasi. “Memang bisa lebih lama, untuk mengatasinya tim memberikan minyak khusus agar lebih cepat keluarnya,” papar dia.

Sekali ejakulasi, sperma kuda jantan bisa cukup untuk membuahi delapan kuda betina. Kalau fresh, sperma bisa tahan tiga hari. Kalau dibekukan dengan suhu minus 20 derajat Celsius, sperma itu bisa bertahan sampai bertahun-tahun. “Biaya proses inseminasi buatan berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Itu sudah termasuk garansi, USG, dan pemantauan kehamilan. Maksudnya jika sperma gagal membuahi, proses bisa diulang dengan sperma kuda lain,” jelasnya. Kunci merawat dan sukses menekuni hobi kuda adalah interaksi.Kuda itu harus diajak bicara dan dibisiki layaknya manusia, karena nalurinya sangat kuat, katanya.Kuda bisa membedakan mana orang baru dan mana orang yang setiap hari merawatnya.

“Karena itu, setiap ada siswa yang baru belajar berkuda, langkah awal yang harus dilakukan adalah memberi makan, membersihkan kotoran dan kandang kuda setiap hari,” ujar pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Berkuda UGM serta pembimbing Koasistensi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB, UNAIR serta UNUD itu. Mahasiswa yang tertarik untuk menekuni berkuda akan diajak Mayor Joko ke Markas Kavaleri Kuda di Parongpong, Jawa Barat.

Atlet berkuda yang sukses biasanya juga merawat sendiri kudanya.“Kendali kuda itu ada pada sentuhan tangan dan kaki kita. Kasar atau halus hentakannya, ia merasakan. Beda dengan balap mobil atau motor yang menggunakan system mekanis,” ungkap dia. Di lingkungan TNI-AD, kini Joko memelopori penyetempelan tubuh kuda dengan nitrogen beku bersuhu minus 20 derajat Celsius.“Jadi, kuda sudah tidak merasakan sakit seperti adegan di film-film koboi itu. Hanya terasa dingin (nyes) sekitar satu menit,” kata suami drh. RR. Retno Endrawati serta ayah dari Prabaning Sekar Kinasih dan Sukmaningdyah Puspa Kirani tersebut.

Mengakhiri perbincangannya dengan Tim Redaksi Majalah Palagan, Mayor Ckm. drh. Joko Suranto mengatakan bahwa mengurusi ratusan kuda tak membuatnya berlama-lama jauh dari keluarga. Setidaknya sebulan dua kali dia menyempatkan diri menengok keluarganya di Purbalingga, Jawa Tengah.“Istri saya kebetulan juga dokter hewan, jadi kita saling memaklumi bahwa kasih sayang antar -manusia juga harus rela dibagi dengan kuda.

Maju terus drh Joko Suranto. Semoga kuda-kuda yang mendapat sentuhanmu semakin bernilai dan mampu mengemas prestasi di kancah internasional…! (Redaksi).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Kisah Inspiratif Mayor (Ckm) drh Joko Suranto, Satu-satunya Dokter Kuda di TNI