TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

HABIB LUTHFI AJAK CINTA TANAH AIR

By 20 Jan 2015 12:08Kodam IV/Diponegoro
Habib Lutfi

Penanaman rasa cinta tanah air perlu dilakukan kepada anak bangsa sejak kecil hingga dewasa, terang KH. Habib Luthfi bin Yahya pada tausiahnya Peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW kepada prajurit TNI dan Polri serta warga masyarakat, Kamis (15/1) di Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman Korem 071/Wk.

Dikatakan bahwa dengan mendidik anak sejak kecil untuk mencintai tanah air akan memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap tanah tumpah darahnya, tanah air tempatnya tumbuh dan berkembang.

“Hal itu harus terus dipelihara bahkan hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Rasa cinta itu merupakan modal dalam pembangunan negara. Selain menanamkan rasa cinta tanah air, juga perlu diajarkan kepada anak sejak dini yakni dengan meneladani akhlak yang mulia Nabi Besar Muhammad SAW”, tegasnya.

Pada kesempatan lainnya dalam tausiahnya, KH. Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan bahwa salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiah, khilafah. “Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya”.

“Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam’iyah Toriqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non muslim. Bahkan bangunan masjid kudus mengakomodasi arsitektur non muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik”.

“Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalikan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat merah putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jadi diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran. Anak-anak kita ajak ke makam pahlawan, anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya.. Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini. Agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun”, pesannya.

“Walau hanya sebutir pasir, selama ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh konkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng idiologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI. Demikian pesan yang disampaikan oleh Habib Luthfi pada kesempatan itu.

Sementara itu Danrem 071/Wk Kolonel Inf Edison, S.E., M.M. mengatakan, tujuan acara ini bukan semata memperingati maulid, tapi juga untuk kegiatan serbuan teritorial untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat.
“Dalam pengajian juga ada bendera merah putih yang akan dibawa pada 24 Januari ke Rembang, Purbalingga dan ke Markas Korem 071 Wijayakusuma. Kirab merah putih merupakan penghormatan kepada Jenderal Besar Sedirman atas jasa-jasanya,” ujar dia.

“Kegiatan yang dilaksanakan ini, merupakan wujud kebersamaan antara TNI, Polri dan masyarakat. Hal tersebut, sesuai dengan keinginan pimpinan di wilayah Jateng. Yakni mewujudkan wilayah Jawa Tengah, Kodam IV/Dip dan Polda Jateng sebagai contoh atau model terwujudnya kebersamaan atau sinergitas yang kuat antara TNI dan Polri untuk seluruh Indonesia”, terangnya.

“Sinergitas, mempererat hubungan yang baik antara TNI dan Polri. Hal itu sesuai yang diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 2,3,4 agar dalam menjalin sinergitas juga dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”, lanjutnya.

“Sinergitas, hubungan antara TNI dan Polri sampai dengan saat ini diwilayah Jawa Tengah sangat baik dan harus terus kita pertahankan”, tuturnya.

Pada kesempatan lainnya, Danrem 071/Wk menyampaikan bahwa pembangunan Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman dibangun sebagai lambang kebersamaan, persatuan dan kesatuan umat khususnya diwilayah Banyumas.

“Kenapa diberi nama Masjid Pangsar Jenderal Soedirman, karena kota Banyumas merupakan kota yang syarat dengan perjuangan bangsa dalam rangka merebut kemerdekaan Indonesia. Salah satu pejuang kemerdekaan dan putra terbaik bangsa ini yakni Pangsar Jenderal Soedirman”, papar Danrem 071/Wk.

Pangsar Jenderal Soedirman, lanjutnya. Dalam perjuangannnya, beliau memberikan kesan dan pesan moral yang sangat kuat kepada seluruh pejuang pada saat itu. Seperti apa yang disampaikan beliau yakni kita jangan seperti lidi yang lupa ikatannya. Lidi hanya satu tidak bisa berbuat apa-apa tapi kalau lidi diikat jadi satu maka apapun bisa disapu dan kita bersihkan.

Dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan hati yang bersih, karena apapun ceritanya perjuangan diikuti dengan hati yang bersih, kebenaran pasti akan menang. Oleh sebab itu, kepada prajurit TNI, Polri dan masyarakat, marilah kita bersatu seperti sapu lidi sehingga kita dapat membersihkan atau melaksanakan tugas kita dengan baik.

“Tugas kita sebagai TNI adalah bagaimana kita tetap menegakkan kedaulatan NKRI, menjaga keutuhan Indonesia, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari segala ancaman baik dari dalam maupun luar negeri. Tekad kami NKRI Harga Mati, Pancasila harus kita perjuangkan sampai darah penghabisan”, tegas Danrem 071/Wk.

Pada kesempatan lain, Danrem 071/Wk menyampaikan agar kita tetap waspada. Hal tersebut disampaikan tentang beredarnya ancaman anggota ISIS yang menyatakan akan melawan TNI, Polri dan Banser. “Mari kita bersama menjaga keutuhan wilayah NKRI”, tegasnya.

Dari pantauan dalam pelaksanaan kegiatan pengajian tersebut telihat cukup menyita perhatian masyarakat. Seperti menurut penuturan Nurul Anam, mahasiswa Unsoed yang kebetulan mengikuti pengajian. Menurutnya sangat penting jika kegiatan pengajian sering dilaksanakan. “Jika sering lebih bagus bukan, pengajian selain menambah wawasan soal keagamaan, ini juga bisa untuk menambahkan iman kita,” ujarnya.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

HABIB LUTHFI AJAK CINTA TANAH AIR