TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Arief, Jawara Dayung Dari Yonif 700/R, Makassar

By 05 May 2015 20:01Bilik Prestasi
altel-dayung_06052015

Suatu pekerjaan bila dilakukan dengan serius pasti akan membuahkan prestasi.  Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Pratu Arief, Tamtama Kompi Bantuan Batalyon Infanteri 700/R Kodam VII/Wirabuana.  Berbekal disiplin dan kesungguhan dalam berlatih mengantarkan  bungsu dari 7 bersaudara,  kelahiran Palopo 28 Desember 1986 ini  sarat dengan prestasi dayung yang diraih dari berbagai turnamen, baik dalam maupun luar negeri.Terlahir dari pasangan Ny. Kasirah dan (Alm) Bpk Nazaruddin yang berprofesi sebagai petani sederhana, Arief kecil telah terbiasa membantu kedua orang tuanya menggarap sepetak sawah demi untuk menafkahi 9 jiwa.

Kerap kali hasil dari jerih payah kedua orang tuanya menggarap ladang dari pagi hingga petang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga secara layak. Meski demikian keadaannya, rasa syukur dan sabar selalu menghiasi jiwa mereka sebagai ungkapan terima kasih atas nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Keterbatasan ekonomi bagi keluarga besar Arief, membawa dampak terhadap aspek pendidikan formal. Meski demikian kesempatan  mengenyam bangku sekolah negeri bagi ke tujuh orang saudaranya meski tertatih-tatih merupakan kebahagiaan yang tak terperi, walau semua itu berjalan tidak seperti kebanyakan anak sekolah pada umumnya. Jangankan ongkos atau uang jajan, buku sekolah yang seharusnya sesuai antara jumlah buku dan materi pelajaran, nyatanya satu buku digunakan Arief untuk menghimpun berbagai materi pelajaran yang ada di sekolahnya. Tak jarang ia harus menulis di celah kosong dalam setiap baris dengan huruf yang lebih kecil. Dalam setiap baris dalam helai buku ia sudah terbiasa mencatat hingga tiga susun tulisan demi menghemat buku.

Arief mengawali masuk sekolah di SD Negeri 40 Salakoe Palopo yang jaraknya cukup dekat, yakni sekitar 2 km  dari rumah. Keremangan fajar pada pukul 5.30 pagi mengharuskan Arief sudah harus berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki selama satu  jam dan tiba di sekolah pada pukul 6.30 pagi. Demikian pula pada waktunya bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi pada pukul 12.00,  ia harus segera pulang ke rumah untuk selanjutnya menyusul kedua orang tuanya yang sedang beraktivitas di ladang. Setiap hari hal itu dilakukannya tanpa mengenal lelah. Guratan keprihatinan dijalaninya demi menyongsong masa depan yang lebih cerah. Sejak kecil sudah terbersit dalam benak Arief, kelak ia akan berupaya sekuat tenaga untuk menjadi orang yang dapat merobah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Pendidikan sekolah dasar dilaluinya tepat waktu, yakni selama 6 tahun dan lulus pada tahun 1999.

Pada tahun 1999 Arief melanjutkan pendidikannya di sekolah lanjutan tingkat pertama, tepatnya DI SMP Negeri 2 Bajiminasa PALOPO yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah. Dengan semakin tingginya jenjang pendidikan yang ditempuh berarti semakin padat materi pendidikan yang berimbas kepada semakin besar biaya yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan maupun bagi murid sendiri.

Selama menjalani pendidikan SLTP, berbagai masalah datang silih berganti yang mengakibatkan Arief kerap kali tidak berani masuk sekolah karena kewajiban tertentu yang tidak mampu dipenuhinya. Pada masa-masa tak menentu ini Arief sempat tidak naik kelas karena alpa yang terlalu banyak dikarenakan tidak sanggup memenuhi kewajiban biaya, selain itu ia tidak dapat mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pada jam tambahan karena ia harus pulang tepat waktu demi membantu orangtuanya di ladang.

Karena beban moril yang terlalu berat, pada saat itu Arief hampir saja putus sekolah. Doa demi doa dipanjatkannya selalu seusai melakukan Sholat, agar Yang Maha Kuasa member jalan keluar yang terbaik baginya maupun keluarga besarnya. Ternyata Yang Maha Kuasa menjawab Doa yang dipanjatkan Arief dengan datangnya seorang guru olahraga bernama Ibu Tinike yang mencari tahu alasan mengapa muridnya yang dikenal ramah, sopan dan pendiam tersebut jarang terlihat di sekolah. Setelah mendengar langsung keterangan dari kedua orang tuanya, bahwa kondisi perekonomian keluarga yang mengharuskan Arief ikut membanting tulang demi menyambung hidup keluarga. Mendengar alasan tersebut Ibu Tinike sangat memaklumi dan menawarkan solusi untuk merekomendasikan Arief tetap melanjutkan pendidikannya di SMPN-2 Bajiminasa, sekaligus mendaftarkan Arief yang memiliki postur tubuh 176 Cm untuk mengikuti seleksi calon Atlet Dayung TBRCC (Tanjung Bunga Rowing dan Canoeing Club). Mendapatkan tawaran itu kedua orang tua Arief menyerahkan sepenuhnya kelanjutan nasib anak bungsunya kepada Ibu Tinike.

Prosses seleksi awal calon Atlet Dayung diikuti oleh 60 orang untuk tingkat SMP se-Palopo. Dari hasil seleksi tersebut Arief masuk peringkat ke lima dari 10 peserta yang dinyatakan lolos seleksi untuk berlanjut ke kota Makassar.  Di kota Makassar Arief harus mengikuti seleksi yang lebih berat lagi karena seleksi lanjutan berikutnya diikuti oleh seluruh calon dari  kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Dari hasil  seleksi tingkat provinsi yang diikuti kurang lebih 500 orang, yang dibutuhkan oleh TBRCC hanya 15 orang.

Pada hasil seleksi ini  Arief berada di peringkat 12 dan dinyatakan lolos sebagai Atlet Dayung binaan TBRCC. Di klub TBRCC inilah awal mulanya ia mengenal jenis olahraga dayung seperti: Dayung Rowing, Kayak, dan Canoeing.

Disinilah para Atlet terpilih berjumlah 15 orang dibagi menjadi 3 nomor Dayung. Arief masuk dalam kategori Pendayung Rowing karena persyaratan Pendayung Rowing membutuh Atlet dengan postur tubuh yang tinggi.

Selama berada di klub TBRCC para atlet dilatih oleh Jody Winarso Spd. dan Marten Toyang. Kurang lebih 3 bulan berlatih, selanjutnya Arief mengikuti kejuaraan Porda Tingkat Provinsi Sulsel tahun 2002 dan berhasil memperoleh Medali Perak dari nomor Rowing Double Scull (M2x) berpasangan dengan Jeefrain Duludea. Pada bulan April tahun 2002 juga Arief akhirnya berhasil menamatkan Pendidikan SLTP, selanjutnya ia melanjutkan ke jenjang SLTA di kota Makassar sambil menekuni olahraga Dayung yang terlanjur digelutinya.

Pada tahun 2003 Provinsi Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Di ajang ini Arief mempersembahkan Medali Perak di nomor M2x berpasangan dengan Harun, mereka kalah dari pasangan Dasri dan Muslihun dari Provinsi Sultra yang memperoleh Medali Emas

Setahun kemudian tepatnya bulan Februari 2004 Provinsi Sulsel menjadi tuan rumah babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional Cabang Olahraga Dayung, dimana Arief dipercaya untuk mengikuti dua nomor lomba yaitu M2x dan M8+. Hanya di nomor M8+ (Delapan Pendayung) Tim Arief berhasil mendapatkan Medali Perunggu, karena kalah dari Team Jawa Timur dan Sultra.

Sebelum mengikuti PON di Palembang, Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) mengadakan Kejurnas Dayung Tingkat Junior di Palembang sebagai ajang uji coba sarana prasarana untuk kesiapan PON Palembang 2004. Di Kejurnas Junior ini Alhamdulillah Arief berhasil mempersembahkan Medali Emas bagi Provinsi Sulawesi Selatan, yakni di nomor Junior M1x, (Satu Pendayung). Selain itu Arief juga mendapatkan Medali Perak di Mesin Rowing (Ergometer 2000 Meter).

Menjelang berangkat untuk mengikuti Pon 2004 di Palembang, Team PON Sulawesi Selatan dilepas oleh Gubernur, Kapolda, Dan Pangdam VII Wirabuana. Suatu hal yang selalu menjadi motivasi Arief ketika Pangdam mengucapkan kepada seluruh Atlet, bahwa bagi Atlet yang mendapatkan Medali pada PON akan dimudahkan untuk mendaftarkan diri sebagai anggota TNI. Pada PON Palembang 2004 Tim Dayung Sulsel yang diantaranya diawaki Arief, yakni pada nomor M8+ (Delapan Pendayung Putra), hanya mampu meraih 1 Medali Perunggu.

Setelah PON Palembang berakhir, Arief kembali ke daerah untuk sepenuhnya waktu difokuskan untuk menyelesaikan pendidikan SLA nya. Waktu terus berjalan dan pada akhirnya tahun 2005 ia berhasil menamatkan pendidikan SLTA. Langkah berikutnya pada tahun 2006 ia mendaftarkan diri menjadi anggota TNI yang merupakan tekadnya untuk mewujudkan cita-cita sejak kecil. Semula Arief mendaftarkan diri sebagai calon Bintara, namun karena alasan tertentu gagal dan diberi kemudahan untuk diterima sebagai calon siswa untuk Sekolah Calon Tamtama.

Arief pun menjalani pendidikan Sekolah Calon Tamtama pada tanggal  13 desember 2007  di Malino kabupaten Gowa dan dinyatakan lulus. Ia dilantik sebagai penyandang pangkat Prajurit Dua pada tanggal 21 April 2008.  Setelah itu ia mengikuti pendidikan kecabangan  Infantri selama 3 bulan di Bone, selanjutnya dipercaya untuk mengemban tugas di Kompi Bantuan Yonif 700/Raider Kodam VII/Wrb. yang merupakan kesatuannya hingga sekarang.

Setelah menjadi Prajurit TNI AD ia kembali mendapatkan Surat Panggilan bergabung sebagai Tim Dayung Sulsel untuk mengikuti Training Center dalam rangka persiapan mengikuti Kejurnas Dayung Senior Tahun 2009. Pengprov PODSI Sulsel dalam lomba tersebut mempercayakan kepadanya untuk mengikuti 2 Nomor Event  yaitu M1x (Satu Pendayung) dan LM2x (Dua Pendayung).  Namun hasil lomba yang diperoleh hanya pada Nomor Lm2x (Dua Pendayung) yang berhasil mendapatkan Medali Perak. Selanjutnya pada akhir tahun 2010 Arief bergabung masuk pusat pelatihan nasional (Pelatnas) cabang olahraga Dayung  untuk persiapan Sea Games XXVI tahun 2011 di Jakarta-Palembang. Pelatnas untuk Sea Games XXVI ini dimulai pada Januari 2011. Pada saat Arief akan berangkat ke Pelatnas untuk pertama kalinya, datanglah berita duka yang mengabarkan bahwa ayahandanya meninggal dunia, yang berdampak terhadap tertunda keberangkatan arief sampai bulan Pebruari untuk bergabung dengan Team Dayung Sea Games XXVI.

Pada Bulan Mei 2011 Arief mengikuti kejuaraan internasional, yakni SEARF (South East Assosiation Rowing Federation) dan Asia Rowing Championships-I di Singapura. Di pertandingan ini ia berhasil mempersembahkan 2 Medali Perak, satu  Medali Perak di SEARF dan satu Medali Perak di Asia Rowing Championships-I. Berikutnya pada bulan September 2011 Arief mengikuti lagi kejuaraan Asia Rowing Championships-II di Chunju  Korea Selatan. Pada lomba tersebut ia hanya menjadi finalis peringkat IV.  Namun pada Sea Games 2011 Arief mengaku belum mendapat kesempatan untuk memperkuat Team Nasional Dayung, ia hanya disiapkan sebagai pemain pengganti (Cadangan). Pada tahun yang sama 2011, PB PODSI menyelenggarakan babak kualifikasi PON 2012 di Riau, yang dilaksanakan di Karawang Jawa Barat. Di kualifikasi PON Ini ia berhasil merebut Medali Emas di nomor M1x (Satu Pendayung), dan Medali Perak di nomor LM2x (Dua Pendayung). Tahun 2012 ia kembali dipanggil ke Pelatnas untuk kedua kalinya dalam rangka mengikuti kualifikasi Olimpiade.  Namun pada saat itu Team Dayung Indonesia gagal dalam kualifikasi Olimpiade tersebut. Pada bulan Juni 2012 ia berangkat ke Eropah (Belanda) untuk mengikuti kejuaraan Holland Bekker dan Nsrf. Di kejuaraan Nsrf (Tingkat Mahasiswa Belanda) Arief berhasil mendapatkan Medali Emas di nomor M1x (Satu Pendayung) 2000 Meter dan M1x (Satu Pendayung) 500 Meter.

Pada bulan September 2012 PON XXVII Riau, cabang olahraga Dayung dilaksakan di Kuansing, salah satu kabupaten yang ada di Riau.  Di PON ini Arief berhasil mendapatkan 1 Perak di nomor M2x (Berpasangan Dengan Theo Doludea) dan 1 Perunggu di nomor M1x (Satu Pendayung).

Setelah PON 2012 di Riau usai, tepatnya tanggal 11 Oktober Arief memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dengan menikahi seorang gadis pilihannya bernama Sri Rahayu, seorang Pendayung Putri nasional yang pernah meraih  Medali Emas di nomor Rowing 4 Pendayung pada Sea Games XXVI tahun 2011.

Bulan madu yang direncanakan bersama istri tercinta batal dilaksanakan karena Arief kembali dipanggil untuk mengikuti Pelatnas. Demi mengharumkan nama bangsa di Sea Games Arief mengikuti program PB. PODSI pada bulan Oktober untuk mengtikuti Pelatnas Dayung Sea Games XXVII Myanmar  2013. Hari-hari yang melelahkan terus dilalui Arief. Pada bulan Mei 2013 Tim Dayung melaksanakan try out pertama untuk uji coba kemampuan Tim Indonesia pada ajang SEARF dI Malaysia. Arief dipercaya oleh pelatih untuk mengikuti 2 nomor event, yaitu LM2 (Dua Pendayung Putra) dan LM4 (Empat Pendayung Putra). Di nomor ini Arief bersama rekan-rekannya berhasil meraih 2 Medali Emas. Juni 2013  Arief kembali dipercaya untuk ikut serta dalam Tour ke Eropah mengikuti kejuaraan Holland Bekker  International Reggata Amsterdam, NSRF dan Kejuaraan Dunia Rowing (World Rowing Cup-III) yang diselenggarakan di Lucern Swiss. Holland Bekker Internatioanal Reggata Amsterdam merupakan kejuaraan Eropah Terbuka yang diikuti hampir seluruh negara di dunia, yang  dilaksanakan di Boosban Amsterdam. Pada kejuaraan ini Arief menjadi finalis (Peringkat V) di Nomor Lm2 (Berpasangan dengan Thomas Hallatu). Di kejuaraan NSRF  yang merupakan kejuaraan seluruh  Universitas  yang ada di Belanda, Arief berhasil meraih Medali Perunggu pada Nomor  Lm2 (Berpasangan Dengan Thomas Hallatu). Tanggal 10 Juli 2013 untuk pertama kalinya Arief mengijakkan kaki di kota Lucern Swiss untuk mengikuti  kejuaraan dunia (World Rowing Cup-III) yang berlangsung dari tanggal 12-14 Juli 2013. Pada lomba tersebut ia hanya memposisikan diri di peringkat 14 dunia,

Pada bulan September 2013 Arief mengikuti Kejuaraan Asia Rowing Championships di Lu’an China. Di kejuaraan Asia ini pesertanya hampir seluruh negara-negara Asia yang merupakan saingan terberat bagi Tim Dayung Indonesia. Namun dengan hasil latihan dan perjuangan yang tak kenal menyerah, Arief bersama rekan-rekan mampu mengibarkan Merah Putih di ajang Kejuaraan Asia Rowing Championships. Di kejuaraan ini Arief berhasil meraih Medali Perak di nomor LM-4 (Empat Pendayung), dan medali perunggu di nomor M8+ (Delapan Pendayung). Semangat yang membara dalam jiwa Arief untuk meraih medali salah satunya termotivasi oleh berita gembira dari Indonesia yang mengabarkan bahwa istri tercinta telah melahirkan seorang bayi mungil dan cantik, yang diberi nama Nur Fauziah Arief.

Setelah mengikuti berbagai try out akhirnya pada Sea Games 2013 Myanmar pelatih mempercayakan kepadanya untuk mengikuti 2 nomor event lomba.  Hal ini merupakan tantangan terbesar dalam karirnya sebagai seorang pendayung, karena untuk pertama kalinya ia mengikuti multi event  di ajang Sea Games. Kepercayaan yang diberikan Pelatih dibuktikannya dengan bekerja dan berlatih keras, seraya didukung Do’a dari orang tua dan istri tercinta serta segenap rakyat Indonesia, akhirnya  Arief  berhasil mempersembahkan 2 Medali Emas dari dua nomor lomba, yakni LM4- (Dayung Rowing 4  Pendayung) dan LM2- (Dayung Rowing 2 Pendayung).

Dari perolehan medali yang telah diraih, Arief belum merasa puas, melainkan terus berusaha memacu diri untuk meningkatkan prestasi agar lebih baik lagi. Pratu Arief bukanlah model prajurit yang di ibaratkan “lupa kacang akan kulit”. Dalam setiap kesempatan beribadah ia selalu mendoakan orang-orang yang telah berjasa membesarkan namanya.

Pacu lebih cepat lagi dayungmu Pratu Arief, taklukkan para pesaingmu.. !!!  (Redaksi)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Arief, Jawara Dayung Dari Yonif 700/R, Makassar