TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Pratu Heriyanto, Atlet Lari Cepat Dari Yonkav-7

By 19 May 2015 20:06Bilik Prestasi
altel-lari-dari-yonkav7

Kabupaten Bima yang beribukota di Woha, merupakan Kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan relatif pendek. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Luas wilayah Bima yang dikategorikan kering sepanjang tahun adalah  437.465 Ha atau 4.394,38 Km²  dengan jumlah penduduk 419.302 jiwa dengan kepadatan rata-rata 96 jiwa/Km²Wilayah.

Di kota Woha inilah 27 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 10 Juni 1987 lahir seorang bayi mungil laki-laki dari Rahim seorang ibu bernama Mahani didampingi suami tercinta bernama bapak Sanusi. Dengan sukacita mereka berdua menyambut hangat kehadiran sang jabang bayi lucu berkulit sawo matang yang menangis kencang ditengah kesunyian. Bayi mungil putra asli suku Bima yang diberi nama Heriyanto tersebut lambat laun beranjak besar. Untuk meringankan beban orang tuanya, Heriyanto yang merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara secara bergantian selalu membantu orang tuanya menggarap ladang setiap hari demi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Panas terik telah terbiasa menemaninya dalam bekerja, yang berakibat warna kulitnya bertambah pekat.

Keterbatasan kondisi ekonomi keluarga lah yang mengharuskan Heriyanto kecil terpaksa membanting tulang membantu meringankan aktivitas kedua orang tuanya dari pagi hingga petang. Hal itu berdampak kepada terlambatnya Heriyanto mengenyam masa pendidikan di bangku sekolah. Pada tahun 1995, saat usia telah menginjak 8 tahun ia baru berkesempatan mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Minte, yang terletak di desa Dadibou, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, yakni sekitar  6 km yang ditempuh dengan berjalan kaki dibawah terik matahari selama hampir setengah jam.  Pada tahun 2000 ia berhasil menamatkan sekolah dasar, kemudian dilanjutkan ke bangku Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri-2 Kalampa yang terletak di Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Pada tahun 2003 Heriyanto berhasil menyelesaikan pendidikan SMP, lalu ia melanjutkan sekolah ke SMA Kae Tente yang letaknya masih di Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Pendidikan SLTA dilaluinya tanpa hambatan, dalam kurun waktu 3 tahun, tepatnya pada tahun 2006 ia berhasil memperoleh ijazah SMA.

Setamat SLA Heriyanto mencoba peruntungan mengadu nasib merantau ke Papua. Selama hampir dua tahun  ia bekerja bersama para pendatang lainnya sebagai buruh perkebunan kelapa sawit di Manokwari. Pada suatu ketika seorang teman yang sama-sama menjadi buruh kelapa sawit mengajak Heriyanto mendaftar Calon Tamtama TNI Angkatan Darat di Kodim Manokwari.  Tanpa pikir panjang Heriyanto mempersiapkan berbagai persyaratan administrasi, lalu keesokkan harinya mendaftarkan diri ke Kodim setempat. Hari berikutnya proses seleksipun dilakukan dan pada akhirnya Heriyanto dinyatakan lulus seleksi dan berhak mengikuti pendidikan di Rindam XVII/Cenderawasih. Selama 5 bulan ia mengikuti pendidikan dasar kemiliteran. Setelah dinyatakan lulus pendidikan dasar, berdasarkan penilaian psikologi Heriyanto diarahkan untuk melanjutkan pendidikan kecabangan di Pusat Pendidikan Kavaleri Padalarang. Empat bulan lamanya ia menempuh pendidikan kejuruan, setelah dinyatakan lulus Heriyanto berhak menyandang predikat Tamtama Kavaleri terhitung mulai tanggal 1 September 2008 dan ditempatkan di Batalyon Kavaleri-7/Sersus Kodam Jaya, Jakarta.

Meski telah menjadi prajurit Angkatan Darat bukan berarti tidak ada peluang untuk mengembangkan prestasi di bidang olah raga. Pimpinan Angkatan Darat selalu memotivasi para prajuritnya agar dapat mengukir  prestasi di berbagai bidang.

Berdasarkan motivasi tersebut, pembinaan dan seleksi di satuan menetapkan Heriyanto sebagai salah satu calon atlet karena memiliki talenta sebagai pelari.

Heriyanto  selanjutnya rutin melakukan kegiatan lamanya sama seperti sewaktu masih berada di Bima. Kesempatan yang ada dimanfaatkan untuk berlatih dan terus berlatih. Diawali dari mengikuti  beberapa turnamen yang berskala lokal dan kerap kali mampu meraih hasil yang menggembirakan.  Berikutnya meningkat pada suatu kesempatan tahun 2011, pada kejuaraan Porad di Surabaya ia sudah mampu mewarnai even yang lebih besar sebagai juara 4 di nomor Sprinter Kejurda. Berikutnya pada tahun 2013 di tingkat nasional nomor 4×400 meter ia berhasil menasbihkan diri di podium tertinggi sebagai peraih emas. Pada pertandingan atletik Panglima Open tahun 2014, Heriyanto kembali mampu menyisihkan para pelari handal nasional, dengan berhasil keluar sebagai Juara-1 di nomor 4×400 Meter dan meraih Juara-2 pada nomor lari 200 Meter.  Semakin banyak medali yang diperoleh semakin giat Heriyanto berlatih. Beberapa prestasi yang berhasil diukir justru memacu semangat Heriyanto untuk mengejar turnamen yang lebih bergengsi.

Pada kesempatan berbincang dengan Tim Redaksi Palagan, Heriyanto masih bermandikan keringat di lintasan lapangan atlet Senayan Jakarta dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti lomba atletik Internasional di Brunei Darussalam.

Selintas matanya berbinar ceria ketika ditanya soal pemberian nama, ia teringat silsilah pemberian nama Heriyanto yang asli suku Bima. Harapan kedua orang tua dengan pemberian nama tersebut semoga kelak ia menjadi orang yang sukses. Dengan prestasi yang kini telah dicapai sudah cukup membuat bangga kedua orang tua dan kerabat Heriyanto, karena putera Bima yang dibanggakan telah mewarnai kancah atlet nasional.

Pacu terus langkahmu Heri, rasa bangga orang tuamu yang tak terhingga adalah disaat kau menjadi pelari pertama yang mampu menginjakkan kaki di garis finish..!!!   (Redaksi)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Pratu Heriyanto, Atlet Lari Cepat Dari Yonkav-7