TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Angkatan Darat yang Semakin Membuka Diri

By 19 Jun 2015 09:41Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Pada tanggal 16 Juni 2015, Angkatan Darat menylenggarakan sebuah event penting dan penuh makna di dae­rah latihan Martapura, Sumatera Selatan yaitu demonstrasi pertempuran darat. Bagi militer, termasuk TNI AD, sebenarnya kegiatan sep­erti ini merupakan hal yang biasa, karena tuntutan profesinya meng­haruskan dilaksanakannya lati­han sebagaimana tugas pokok dan salah satu fungsi utamanya, yaitu pertempuran.

Daerah latihan Mar­tapura sendiri merupakan salah satu daerah latihan yang sering digunakan oleh TNI AD untuk meny­elenggarakan latihan puncak dimana seluruh kesenjataan yang dimil­iki oleh TNI AD diintegrasikan un­tuk membentuk sebuah tim pertem­puran yang lerigkap ,guna melak­sanakan sebuah operasi pertem­puran darat.

Namun kegiatan kali ini meru­pakan sebuah langkah maju dan terobosan baru yang dilakukan oleh TNI-AD karena mengundang Pres­iden RI beserta beberapa menteri, para pejabat daerah, elemen ma­syarakat dan para atase pertahanan negara sahabat. Hal ini menyeru­pai kegiatan tahunan yang dilaku­kan oleh Angkatan Darat Jepang atau Japan Ground Self Defence Force (JGSDF) di lereng Gunung Fiiji, yaitu Puji Firepower Exercise. Sebuah demonstrasi kemampuan dan kekuatan persenjataan JGSDF di hadapan masyarakat Jepang dan para Atase Pertahanan negara lain untuk Jepang, sebagai bentuk pertanggung jawaban JGSDF ke­pada rakyat Jepang yang mem­biayai mereka, sekaligus show of force mereka kepada negara lain. (lihat: http://www.mod.go.jp/gsdf/ english/firepower. html).

Inilah kelihatannya, pesan yang juga ingin disampaikan oleh TNI AD kepada rakyat Indonesia yang men­jadi “ibu kandung” sekaligus mem­biayai mereka untuk terus berkembang menjadi semakin modern. Ter­sirat bahwa TNI AD terus melang­kah maju berbenah dalam kerang­ka reformasi internal untuk men­jadi alat negara yang professional, modern, efektif, efisien, transparan dan akuntabel sebagai bagian dari masyarakat yang demokratis. Ke­giatan-kegiatan taktis dan strate­gis TNI AD yang selama ini sangat lekat dengan kerahasiaan dan jauh dari publikasi, sekarang-pada kon­teks tertentu mulai dibuka untuk dinilai oleh masyarakat.

Secara kodrati, militer negara manapun akan tetap menjaga kera­hasiaan doktrin, strategi dan taktik kemiliteran maupun pengemban­gan sistem persenjataan, termasuk TNI AD. Kemampuan dan kekua tan militer yang didapat melalui latihan memang sebenarnya bukan sesuatu yang untuk dipertontonk­an, melainkan untuk diimpemen tasikan dalam menunaikan tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah negara. Namun ada momentum tertentu dimana sebuah alat negara, termasuk milliter, har­us mempertanggung jawabkan apa yang diamanahkan oleh rakyat ke­padanya. Hal inilah yang sepertinya mulai dilakukan oleh TNI AD den­gan didasari kesadaran bahwa mer­eka harus mempertanggung jawab­kan amanah rakyat kepada si pem­beri amanah.

Jatidiri TNI

Terkait dengan jati diri TNI seb­agai tentara rakyat, tentara pejuang dam tentara nasional yang profes­sional, TNI AD dibangun dan terus dikembangkan kekuatan dan kemampuannya oleh rakyat melalui pemerintah yang mengelola dan mengalokasikan anggaran negara yang berasal dari pajak rakyat. Hal tersebut tentu saja didasari oleh harapan besar agar TNI AD men­jadi semakin professional, modern, efektif dan efisien sehingga mam­pu menjadi garda terdepan sekal­igus benteng terakhir dalam rangka menegakkan kedaulatan serta men­jaga keutuhan wilayah NKRI dari se­tiap ancaman sebagaimana tuntut­an tugas pokoknya.

Pada hari itu, di hadapan Pres­iden RI sebagai kepala negara yang dipilih langsung oleh rakyat, be­berapa menteri, anggota DPR, pe­jabat daerah dan Atase Pertah­anan negara sahabat serta para awak media cetak dan elektronik,TNI AD mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanahkan oleh rakyat melalui pemerintah. Pertan-gung jawaban itu diwujudkan me­lalui demonstrasi kekuatan dan ke­mampuan professional keprajuritan dalam melaksanakan tugas pokok dan salah satu fungsi utama TNI AD, yaitu pertempuran.

Menurut Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Gatot Nurman-tyo, demonstrasi pertempuran itu juga merupakan salah satu upaya TNI AD untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme prajurit secara terus menerus demi terlaksananya tugas pokok pada masa yang akan datang. Hal itu juga sebagai wujud dari kesungguhan TNI AD untuk mempertanggung jawabkan uang rakyat yang diamanahkan dalam bentuk penambahan anggaran belanja, karena alokasi dukungan dana untuk pembelian beberapa alutsista baru tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia prajurit agar mampu mengoperasionalan nya secara professional untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugas negara.

Hal ini barangkali juga bisa dilihat sebagai sebuah ajang pembuktian TNI AD atas hasil survey LSI pada awal tahun yang menempatkan TNI bersama dengan KPK sebagai institusi yang mendapatkan kepercay­aan publik paling tinggi pada saat ini. Sebuah langkah strategis inter­nal yang sangat positif dari TNI AD untuk memelihara momentum ke­percayaan publik tersebut, untuk ‘merebut kembali’ hati rakyat yang ‘sempat hilang’ akibat distorsi per­an di masa lalu. Wmning heart and mind of the people.

Diplomasi Militer

Diundangnya para Atase Pertah­anan negara sahabat pada kegiatan demonstrasi pertempuran itu juga memiliki nilai yang sangat strate gis. Tidak berselang lama setelah berhasil mengangkat dirinya pada level yang tinggi melalui domina­si atas negara-negara maju dalam event lomba tembak internasional AASAM di Australia, TNI AD men­coba untuk memperkuat deterrent effect nya dengan kegiatan show of foree di hadapan pada Atase Per­tahanan negara lain. Dua event yang berurutan ini merupakan se­buah keberhasilan diplomasi mili­ter yang sangat strategis bagi neg­ara Indonesia secara umum di pen­tas hubungan internasional, karena dalam politik internasional, kekua­tan dan kemampuan militer suatu negara masih dipandang secara sig­nifikan dalam menentukan posisi suatu negara di atas pentas dunia.

Pentingnya diplomasi militer ini pernah disampaikan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada sebuah acara di Mabes TNL “Meskipun Indonesia akan mengedepankan diplomasi dan pendekatan “soft power”, tetapi Indonesia tetap harus mengembang­kan sistem pertahanan yang tang­guh. Kalau kita ingin damai, maka kita harus pula bersiap untuk per­ang, manakala ada kekuatan lain yang mengancam keutuhan dan ke­daulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,”

Dalam konteks yang agak sedikit berbeda, rasanya benar pendapat J. Suryo Prabowo dalam bukunya Modernisasi TNI AD mengatakan bahwa modernisasi persenjataan, termasuk peningkatan kualitas lati­han, dilakukan bukan karena adanya ancaman militer dari negara lain, yang pada hakekatnya adalah sah­abat. Kegiatan semacam itu justru dilakukan untuk membangun di­plomasi niiliter guna mencegah ke­mungkinan terjadinya penyelesaian konflik dengan cara-cara militer. Civis Pacem Parabellum

Bagi mayoritas prajurit, interak­si secara langsung dengan seorang Presiden yang sekaligus sebagai Panglima Tertinggi TNI, merupakan kesempatan yang sangat langka un­tuk didapatkan. Pengarahan Pres­iden Jokowi kepada prajurit secara langsung di daerah latihan setelah pelaksanaan demonstrasi, memiliki nilai positif sebagai bentuk kedeka­tan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Bagi para prajurit, inter­aksi langsung itu akan memberi­kan dampak psikologis perhatian besar yang diberikan oleh Presiden kepada mereka. Bagi Presiden send­iri yang berlatar belakang sipil, wa­laupun secara otomatis telah meme­gang kekuasaan tertinggi atas TNI, momentum interaksi langsung den­gari prajurit di “rumahnya praju­rit” yaitu medan latihan juga akan semakin memberikan kenyamanan psikologis.

Terlepas dari tujuan dan pesan positif yang ingin terus dibangun oleh TNI AD tersebut, kegiatan demonstrasi pertempuran di Mar­tapura merupakan sebuah event yang sangat bagus untuk terus di­lakukan agar masyarakat awam menjadi lebih paham akan kekua­tan dan kemampuan yang dimiliki oleh angkatan perangnya, sekaligus lebih bangga dan merasa dekat den­gan ‘anak kandung’ mereka serta merasa terlindungi. Tidak bisa lagi dipisahkan oleh kepentingan-ke­pentingan lain demi menjaga tetap tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.

Semoga TNI AD menjadi semakin professional, modern, efektif dan efisien serta menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. (Penulis adalah Kasubdis Lisstra Dispenad-Sumber: HU Pelita)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Angkatan Darat yang Semakin Membuka Diri