TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Ekspedisi NKRI 2015 Jangan Sampai Mata Air Jadi Air Mata

By 18 Jun 2015 12:25Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Ekspedisi Negara Kesatuan Republik Indonesia 2015 Koridor Bali-Nusa Tenggara yang ditutup 6 Juni lalu berhasil mengumpulkan berbagai data lapangan yang amat berharga. Ekspedisi yang berlangsung empat bulan itu amat menarik karena mewakili kepulauan dan wilayah timur Indonesia yang selama ini belum banyak dijamah.

Salah satu temuan berharga dari ekspedisi tersebut adalah ditemukannya kandungan logam tanah jarang (LTJ). Inilah potensi besar mineral dari Koridor Bali-Nusa Tenggara yang merupakan Ekspedisi NKRI kelima yang dimotori TNI dengan anggota tim ekspedisi dari Polri, mahasiswa, para ahli, pemerintah daerah, kementerian, dan sejumlah instansi negara Empat ekspedisi NKRI sebelumnya dilakukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

LTJ, seperti Praseodymium Neodymium, adalah logam-logam yang saat ini paling dicarialah satu temuan berharga dari ekspedisi tersebut adalah ditemukannya kandungan logam tanah jarang (LTJ). Inilah potensi besar mineral dari Koridor Bali-Nusa Tenggara yang merupakan Ekspedisi NKRI kelima yang dimotori TNI dengan anggota tim ekspedisi dari Polri, mahasiswa, para ahli, pemerintah daerah, kementerian, dan sejumlah instansi negara Empat ekspedisi NKRI sebelumnya dilakukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Siti Nuraisyah dari Universi­tas Diponegoro, saat pameran ekspedisi NKRI di Labuan Bajo, 6 Juni lalu, menunjukkan con­toh batu rhodonite yang diperiksa dan mengandung Neodymium. I Gde Sukadana dari Badan Tenaga Nuklir Na­sional mengatakan, logam-lo­gam tanah jarang itu menjadi komoditas penting karena digu­nakan untuk peralatan seperti smart phone dan baterai. Bahan logam tersebut bisa digunakan untuk membuat barang-barang teknologi yang canggih.

Menurut data Ernest and Young 2011 tentang Technology Mineral, 48 persen cadangan LTJ dikuasai Tiongkok. Yang menarik, sejak 2012, Pemerintah Tiongkok membatasi produksi dan ekspor LTJ. Untuk melin­annya. Sebaliknya, di Indonesia, eksplorasi dan eksploitasi LTJ belum diperhatikan. Padahal, diperkirakan pada 2015, kapita­lisasi pasar LTJ mencapai 4-6 miliar dollar AS. Dari berbagai titik ekspedisi, ditemukan fakta bahwa batu-batu yang mengan­dung LTJ itu hanya dijual kiloan dengan harga murah. Warga ti­dak tahu kandungan sebenar­nya.

“Permata” berceceran

Dari segi pariwisata, Ekspe­disi NKRI ibarat memungut “permata-permata” yang berce­ceran di sepanjang Bali hingga NTT. Pantai-pantai sepi dengan air bening pasir halus dari pu­tih, hitam, hingga merah muda bertaburan di mana-mana Da­lam perjalanan dari Labuan Ba­jo hingga Pulau Komodo dengan kapal kecil, sepanjang jalan di­penuhi jajaran pulau yang di­pagari pantai-pantai yang mem­buat napas tertahan. Labuan Bajo adalah tempat wisata yang punya karakter khusus, tetapi belum terkapitalisasi pe­nuh.

Potensi wisata sepanjang koridor tersebut memang tak, hanya alam, tetapi juga budaya Komang Ayu, mahasiswa Seko­lah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Amlapura, Kabu­paten Karangasem, Bali, berce­rita tentang kekagumannya ter­hadap budaya tenun ikat.

Seba­gai orang Bali, ia merasa tenun ikat di Desa Tenganan sangat eksotis dan berbeda dengan kar­ya-karya seni di Bali yang juga eksotis. Desa Tenganan di NTT punya pesona karena adat Bali-Aga, budaya praHindu yang masih sangat kuattuan beku hingga pantainya yang tersusun dari batu-batu seperti tumpukan pensil. Juga tempat eksotis lain yang me­nyimpan cerita rakyat nan unik, seperti desa yang menyimpan gendang dari kulit manusia, yaitu Loke Nggerang, Desa Todo, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Mang­garai.

Tak heran jika Wakil Kepala Staf TNT AD Letjen TNI Munir ter­tarik mendengarnya dan beren­cana melihat gendang berkulit manusia itu. “Tempatnya jauh enggak, ya, dari sini? Saya ingin lihat,” ujarnya seusai menutup ekspedisi.

Namun, di sela-sela potensi tersebut, ada juga kisah miris yang membuat pikiran bangsa ini menerawang. Taufik Ginan-jar, mahasiswa Universitas Pen­didikan Indonesia (UPI) Ban­dung, Jawa Barat, bercerita ten­tang pengalamannya yang tak terlupakan. “Perjalanan ini membuat saya bersyukur ten­tang kehidupan saya,” ujar Ta­ufik seraya bercerita tentang ke­hidupan sosial budaya di Pulau Sumbawa.

Taufik tak menyangka tiba di Dusun Metemega yang hanya dihubungkan dengan jembatan gantung dengan wila­yah-wilayah di sekitarnya Jem­batan gantung sepanjang 25 meter itu menghubungkan Metemega dengan Desa Marente, desa terbesar di Kecamatan Alas Sumbawa. Dengan melalui jalan setapak tersebut, seseo­rang harus menempuh waktu li­ma jam. “Itulah jalan yang se­tiap hari ditempuh anak-anak ke sekolah. Kalau musim hujan, bisa satu bulan libur karena jembatan itu terendam banjir,” kata Taufik.

Hal lain yang membuat pri­hatin Taufik adalah komunikasi. Jangankan sinyal telepon, listrik dengan sel surya pun hanya mampu mengalirkan listrik dua jam. Padahal, desa itu mempro­duksi kopi beraroma spesial. Sa­yangnya, kopi hanya bisa diang­kut kuda yang bergantung pada cuaca “Kami gotong royong de­ngan warga. Ibu-ibu yang masak dan zeni yang bangun jemba­tan,” kata Taufik yang berharap jembatan itu jadi pada Oktober mendatang.

Potensi bencana

Temuan lain dari ekspedisi ini adalah potensi bencana aki­bat penggundulan hutan berda­lih ekonomi. Misalnya, di Ke­camatan Sambelia, Lombok Ti­mur, yang jadi langganan banjir akibat penggundulan hutan di lereng Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat Miftah dari Universitas Islam Negeri Ma­lang bercerita, ada 7 hektar yang harus dihijaukan.

Tim ekspedisi berhasil mena­nam 1.300 pohon trembesi dan 30.000 anak cendana yang se­makin hilang. “Salah satu misi dari ekspe­disi ini adalah melindungi mata air bagi kehidupan warga agar kita tak berurai air mata di ke­mudian hari manakala mata air itu menjadi kering,” kata Ko­mandan Ekspedisi NKRI 2015 Mayjen Doni Monardo. (Sumber: HU Kompas)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Ekspedisi NKRI 2015 Jangan Sampai Mata Air Jadi Air Mata