TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Profesionalitas TNI

By 16 Jun 2015 09:30Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Bukan ajudan presiden dan bukan lulusan terbaik Akmil serta Seskoad. Namun Gatot Nurmantyo adalah yang terbaik dari prestasi karier militer. Bahkan ia bisa diterima oleh rezim pemerintahan yang berbeda.

Bunyi dering telepon semakin nyaring terdengar. Di layar monitor telepon genggam, tertera nama Gatot Nurman­tyo, Jenderal. “Halo, assalamualaikum… Dek, saya be­lum sempat baca tulisannya di koran Republika. Mohon bisa dikirimkan ke email, saya sedang kunjungan kerja di luar Ja­karta,” kata Jenderal Gatot Nurmantyo kepada penulis dalam sebuah kesempatan.

Ya, Gatot seperti tiada kenal lelah mengunjungi anak buahnya di berbagai penjuru Tanah Air. Nyaris tiada minggu tanpa melakukan kunjungan kerja. Na­mun ia tgtap mengikuti perkembangan be­rita, khususnya penilaian tentang TNI. Se­jak dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada 25 Juli 2014, Gatot langsung tancap gas.

Ia seperti enggan menggunakan rem dalam bekerja. Begitu Presiden Joko Widodo mengumandangkan Nawa Cita atau sembilan agenda prioritas pemerintahan­nya, Jenderal lulusaji Akademi Militer tahun 1982 itu langsung mencuri start. Ia membuat program serbuan teritorial untuk membantu pemerintah mewujudkan keta­hanan pangan. “Untuk membantu mewu­judkan swasembada pangan dalam kurun waktu tiga tahun,” jelas lelaki kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960 itu.

Sebagai tentara, Gatot memang me­nguasai persoalan teritorial. Salah satu ciri militer Indonesia yang membedakan de­ngan militer dunia lainnya.

Pengalamannya di bidang teritorial, membuatnya cepat beradaptasi dengan lingkungan dan masalah-masalah kerakyatan. Begitu juga pengalamannya sebagai guru militer atau pendidik membuatnya cepat tanggap dan cerdas menangkap program pemerintahan.

Maka tidak mengherankan, ia meru­pakan pimpinan tentara yang paling cepat bisa menerjemahkan program Nawa Cita pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. Gatot membawa Angkatan Darat seperti pelari sprint dengan nafas pelari marathon. Mengumpulkan para komandan satuan dan memerintahkan Kodam, Korem, Ko­dim, Koramil, hingga Babinsa untuk mem­bantu pemerintah mewujudkan ketahanan pangan.

Bukan cuma komando satuan kewi­layahan saja. Tetapi satuan tempur dan sa­tuan bantuan tempur serta satuan bantuan administrasi juga diminta cepat tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Kini bukan sesuatu yang aneh lagi, jika melihat banyak tentara, khususnya Angkatan Darat berada di ladang pertanian rakyat. Malakukan panen bersama dan membantu penyaluran beras miskin ke sejumlah desa maupun kelurahan seluruh Indonesia.

TNI Angkatan Darat bukan saja akrab dengan senjata, kini juga akrab dengan alat-alat pertanian, seperti cangkul atau pacul, sekop, sabit atau arit, dan traktor persa­wahan. Kelemahan otonomi daerah, ketika ada sekat antara Kementerian Pertanian dengan dinas-dinas pertanian di provinsi maupun kabupaten atau kota, justru dimanfaatkan TNI AD untuk melakukan serbuan teritorial. Banyak tentara menjadi asisten dari para penyuluh pertanian di desa-desa. Sesuatu yang baru bagi TNI.

Kualitas prajurit

Praktis pada 2015 ini ada dua program pokok utama Angkatan Darat. Ke dalam meningkatkan pembinaan satuan. Dan keluar, serbuan teritorial. Yang dimaksud serbuan teritorial, Angkatan Darat harus berada di semua lini kehidupan masya­rakat, secara serempak, cepat, serius, ikh­lasmerintah. ” Angkatan Darat harus merebut hati dan pikiran rakyat!” tegas Gatot.

Bukan cuma keluar saja. Namun untuk pembinaan satuan, Gatot menargetkan peningkatan kualitas prajurit. Misalnya melaksanakan latihan raider untuk 12 batalion infanteri lintas udara, sehingga kelak menjadi Yonif Para Raider yang berkemampuan linud, raider, dan ranger.

Bagi satuan tempur dan bantuan gem­pur, wajib menguasai bela diri militer hing­ga sabuk hitam atau Dan 1. Gatot tidak main-main, karena ia juga menjadi Ketua Umum Federasi Yongmoo-do Indonesia (FYI) dan Ketua Umum Federasi Olahrafa Karate-do Indonesia (Forki).

Terakhir, pada acara apel komandan satuan di Balai Kartini, Mei 2015 lalu. Ia bukan hanya memberikan penghargaan kepada satuan tempur dan bantuan tempur terbaik hasil tim pengawasan dan evaluasi Bmsat 2015. Jenderal Gatot juga memberi­kan sanksi kepada tiga komandan batalion, dengan penilaian terendah. Celakanya, salah satu batalion itu adalah Yonif 320 Badak Putih, Pandeglang. Banten. Gatot pernah menjadi komandan kompi senapan B di batalion tersebut.

Pencopotan tiga komandan batalion itu memang kontroversial, tetapi Gatot me­miliki alasan. “Semoga pemberian reward ini dapat meningkatkan motivasi dan se­mangat pengabdian untuk selalu berpres­tasi dengan lebih baik lagi,” kata KSAD.

Sejumlah perwira menengah mengakui Jenderal Gatot tegas bahkan kejam dalam hal penilaian. Kondisi tersebut membuat mantan Panglima Kostrad ini disegani anak buahnya. Termasuk disegani militer dunia saat lomba menembak Angkatan Darat di Australia, baru-baru ini. Dari 50 medali emas yang diperebutkan, TNI AD berhasil meraih juara umum dengan 30 me­dali emas, 16 perak, dan 10 perunggu. Jauh mengungguli Australia, Amerika, Inggris, Kanada, Jepang, dan lain-lain yang justru dikenal memiliki persenjataan canggih.

Australia hanya meraih lima emas, Amerika empat emas, dan Inggris tiga emas. Karena perolehan medali yang begitu jauh, itu membuat Gatot murka. Ia menolak permintaan tersebut. Kecuali, jika semua senjata dari 15 negara peserta dibongkar seluruhnya, bukan cuma milik Indonesia saja. Di situ Gatot menunjukkan harga dirinya sebagai bangsa, sangat tinggi.

Selain profesional dan patriotik, Gatot juga relatif lebih senior daripada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna. Gatot lulusan Akmil 1982, sedangkan Ade lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1983 dan Agus lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1983.

Gatot menjadi KSAD sejak Juli 2014 di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ade menjadi KSAL, 31 Desember 2014. Sedangkan Agus menjadi KSAU pada 2 Januari 2015. Ade dan Agus menjadi kepala staf angkatan di era Presiden Joko Widodo.

Tampilnya Gatot memang unik. Ia justru bisa diterima oleh dua pemerintahan berbeda. Di era reformasi, jarang ada per­wira tinggi bintang empat yang diusung rezim sebelumnya, kemudian, diangkat menjadi Panglima TNI. Selain Gatot, se­belumnya juga ada Laksamana Widodo AS. Menjadi KSAL di era Presiden Soe­harto, menjadi Wakil Panglima TNI di era Presiden BJ Habibie dan menjadi Panglima TNI era Presiden Abdurrahman Wahid.

Ketika Gatot menjadi KSAD, ia me­miliki latar belakang berbeda dengan Moeldoko maupun Budiman, pendahulu­nya. Baik Budiman maupun Moeldoko di­kenal sebagai perwira pintar secara aka­demis, karena menjadi lulusan terbaik Ak­mil maupun Seskoad. Gatot tidak memegang dua penghargaan tersebut. Gatot juga bukan bekas ajudan.presiden, seperti jenderal bintang empat lainnya, seperti Try Sutrisno, dan Wiranto.

Ia profesional dan memiliki karier lengkap di bidang teritorial, pendidikan, dan tempur. Kariernya justru melewati sejumlah lulusan terbaik 1982, 1983 dan bekas ajudan Presiden SBY, Letjen M Munir. Di angkatannya, Amil 1982, lulusan terbaik adalah Mayjen Erwin Syafitri yang kini menjadi Kepala Badan Intelijen Strategis TNI.

Naiknya Gatot menjadi ujian bagi TNI, apakah mereka bisa menghormati me­kanisme internal dan menjaga soliditasTNI Menjadi semakin baik? Kita tunggu saja. (Sumber: Republika)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Profesionalitas TNI