TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Kostrad Menuju Prajurit fesional, Solid, dan Merakyat

By 31 Jul 2015 11:14Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Sebagai Prajurit Kostrad kita sudah dikenal orang sebagai Prajurit yang disiplin, jago perang, jago tembak, jago bela diri dan berfisik prima.

Demikian kalimat yang selalu ditekankan Jen­deral TNI Mulyono ke­pada Prajuritnya selama menjabat sebagai Pangli­ma Kostrad.

Kini pucuk pimpinan di tubuh Kostrad berganti. Serah terima jabatan orang   nomer   satu  di jajaran    Kostrad     di laksanakan    pada   Jumat, 31 Juli 2015  di Cilodong, Bo­gor, bersa­maan  dengan  pelaksanaan Sertijab   K­omandan   Kodiklat   TNI   AD,  Panglima   Kodam,  Danjen Ko­passus, dan Kepala Balakpus TNI AD.

Perjalanan karir Jenderal TNI Mulyo­no terbilang lengkap. Mulai dari satuan tem­pur, satuan teritorial, hingga Lembaga Pendidi­kan pemah dilakoninya. Karirnya diawali keti­ka lulus dari Akademi Militer pada 1983. Saat itu, sang Jenderal langsung ditempatkan di Su­lawesi Utara. Selama 11 tahun, jenderal bintang empat ini menjalani penugasan­nya di Yonif 712 dan Yonif 713 Kodam XIII/Merdeka waktu itu. Di masa inilah, pengalamannya sebagai prajurit tempur makin terasah, diterjunkan dalam oper­asi militer di Irian Jaya dan Timor Timur.

Pengalamannya   bertugas  di med­an  operasi   yang  panas,  membuat na­luri dan intuisinya sebagai prajurit tempur pun semakin tajam. Kecerdasannya merancang taktik dan strategi operasi, membuatnya selalu menjalankan tugasnya dengan cemerlang. Karirnya pun melesat setelah dipercava menjadi Ko­mandan Yonif 143/ Tri  Wira Eka Jaya, Kodam II/ Sriwijaya.

Setelah kenyang bertugas di Satuan Tempur, giliran Satuan Teritorial mera­sakan sentuhannya.

Pengagum Jenderal TNI M. Yusuf dan Letjen TNI Marcia Norman  ini pernah men­jadi Dandim 0901 Samarinda, Kaliman­tan Timur, Kasrem 121 Kodam VI/Tanjungpura,  serta Danrem 032 Kodam I/Bukit Barisan.

Selepas kemampuannya sebagai pra­jurit tempur dan teritorial teruji, Jenderal yang suka membaca ini pun ditugaskan sebagai pendidik. Berbagi ilmu dan pengalamannya. Sejumlah lembaga pendidikan TNI AD pernah menjadi tempatnya berkarya. Di antaranya adalah Secapa AD, Pussenif, Akmil, Kodiklat TNI AD dan Seskoad. Berbekal dari pengalamannya  itu,  sang  Jenderal  pernah  memangku  jabatan  mulai Gumil golongan V Pusdikif, Dosen golongan V dan IV Ses­koad, Wadan Secapa dan Ko­mandan Re­simen Taru­na Akmil. Pun­caknya saat menjadi Wadan Kodiklat TNI AD dengan pangkat Mayor Jenderal TNI. Pada 2013, perjalan­an karirnya terus melaju saat Kepala Staf Angkatan Da­rat (Kasad) menariknya ke Jakarta dan mendapat kepercayaan menjadi Asisten Operasi Kasad. Jabatan ini tak lama disandangnya. Kemampuan dan loyalitasnya, membuatnya dipercaya untuk memikul tanggung jawab sebagai Panglima Kodam Jaya menghadapi Pemilu legislatif hingga Pemilu Presiden.

Saat menjadi Pangdam inilah, kip­rahnya mulai berkibar. Sang jender­al bahu membahu bersama Pemda DKI membereskan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Prestasin­ya saat menjadi Pangdam, membuat karirnya terus meroket. Dan oleh Kasad saat itu Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mempercayakannya sebagai Panglima Kostrad, dan puncaknya sang Jender­al diberikan kepercayaan penuh untuk memimpin Angkatan Darat sebagai Ke­pala Staf Angkatan Darat sampai den­gan saat ini.

Kostrad di bawah kepemimpinan Jen­deral TNI Mulyono saat itu menunjukan perhatiannya kepada rakyat saat me­nyambut HUT ke-54. Kostrad mengkonsentrasikan kegiatan-kegiatannya untuk membantu masyarakat dengan mem­bangun fasilitas-fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat yang dirangkum dalam karya bakti menyam­but HUT Kostrad.

Kegiatan ini dimulai 18 Januari lalu di desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi,  Jawa Barat. Pa­sukan Kostrad membangun infarastruktur pertanian untuk membantu kehidu­pan masyarakat lokal yang mayoritas­nya adalah petani. Bendungan, pintu air, saluran iriga­si, dan pipanisasi air bersih men­jadi karya emas yang ditorehkan. Kegiatan ini juga sekaligus mendu­kung upaya pro­gram pencapaian swasembada pan­gan yang dicanan­gkan pemerintah, sebagai bagian menciptakan ke­tahanan pangan nasional.

Mensukseskan program ketahanan pangan nasional merupakan bagian menjaga kedaulatan negara. Namun, bukan berarti itu membuat Kostrad len­gah, moncong-moncong Leopard sela­lu siap mengaum di tapal batas neg­eri. Kostrad menyadari, sebagai tenta­ra rakyat maka setiap langkah Kostrad akan semakin berarti bila selalu bersa­ma serta mendapat dukungan rakyat.

Oleh karena itu beliau menyerahteri­makan pesan dan amanah kepada Pangkostrad yang baru yaitu Mayor Jen­deral TNI Edy Rahmayadi mantan Pangdam I/Bukit Barisan untuk tetap melanjutkan semangat dan pengabdi­annya di dalam membentuk Prajurit Kostrad agar semakin profesional, sol­id dan, merakyat.

Bersama rakyat Kostrad kuat, Ber­sama Kostrad rakyat sejahteraujar sang Jenderal kepada penggantinya yang mana dulu pernah juga bersa­ma-sama di Kostrad menjabat Pangdivif 1 Kostrad.

Profil Singkat Sang Jenderal

Penampilannya sederhana dan tenang, namun ketegasan dan kewibawaan tetap memancar kuat dari sosoknya. Saat memberi pengarahan,   kalimatnya  tegas   na­mun    lugas.   Jernih   dan   mudah di­mengerti para prajuritnya. Di saat santai, humor dan gurauannya sering mengundang tawa.

Sosok kelahiran 54 tahun lalu ini adalah  seorang pekerja  keras.  Lahir se­bagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, sejak kecil sang Jenderal hidup prihatin. Karena ayahnya hanyalah seorang pet­ani sekaligus penjaga pintu air di desa terpencil. Sejak lulus SD, sang Jenderal sudah berpisah dari orangtua.  Ngenger (ikut orang), untuk membiayai sekolahnya sendiri.

Tak mau membebani orangtuanya yang masih harus banting tulang meng­hidupi adik-adiknya. Di saat teman se­bayanya memanfaatkan waktu seng­gang untuk bermain, Jenderal TNI Mu­lyono yang mulai beranjak remaja kala itu, justru harus bekerja di sawah. Se­tiap hari, dibawah terik matahari sang Jenderal harus mencangkul atau men­cari rumput.

Upah yang didapatnya itulah, yang kemudian sang Jenderal pakai untuk membiyai sekolahnya. Tekadnya yang kuat untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, membuat sang Jenderal tak pernah malu pergi ke sekolah dengan perlengkapan seadanya. Sampai SMA saya ke sekolah sering nyeker, nggak pake sepatu. Karena waktu itu sepatu saya cuma sepasang.      Itu pun     sudah    dit­ambal     sana-sini     karena      banyak bolong­nya, ujar pengagum Jenderal M. Jusuf ini.

Siapa sangka, sosok Kepala Staf Ang­katan Darat ini hatinya begitu mudah tersentuh. Terutama saat teringat kem­bali jerih payah orang tuanya dalam membesarkan­nya. Meski hanya petani kecil, tapi orang tua saya selalu memotiva­si anak-anaknya untuk terus be­lajar dan beker­ja keras. Agar ke­hidupan kami kelak bisa lebih baik dari mereka, ujar alumni Akmil 1983 ini.

Dari pengala­man masa kecil­nya yang keras itulah, mengajarkannya arti tentang kerja keras, tekad kuat, ser­ta tak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.

Sebelum masuk AKABRI, Ayah dari seorang putra dan dua orang putri ini sempat menjadi mahasiswa fakultas Pertansang Jenderal UGM. Perjalanannya masuk AKABRI pun terjal dan berliku.

Sang Jenderal sempat kehabisan ong­kos saat mengurus Pantohir di Sema­rang, tidak mampu membeli makanan. Sang Jenderal pun beberapa kali dilece­hkan orang saat mengurus persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhinya. Tapi hal itu justru berbalik menjadi ba­han bakar yang membuat semangatnya berkobar.

Akhirnya sang Jenderal pun berhasil membuktikan diri, meski cuma seorang anak petani, mampu diterima jadi Ta­runa AKABRI. Selepas lulus, sang Jen­deral bertugas di Sulawesi Utara. Mes­ki jauh, tak membuat Jenderal TNI Mu­lyono lupa pada orang tua. Sepuluh ta­hun bertugas disana, sebagin besar ga­jinya ditabung. Saya harus membantu orangtua membiayai sekolah adik-adik saya. Alhamdulilah, adik-adik saya juga sudah mentas semua, sekarang mereka sudah punya pekerjaan. Ini sesuai yang dipesankan orangtua, ujar penggemar biografi orang-orang sukses ini.

Di tengah kesibukannya,  Sang jen­deral selalu menyempatkan untuk sela­lu makan bersama keluarga. Lewat tak­tik diplomasi meja makan inilah, sang Jenderal rutin berdiskusi dan dengan anak-anaknya. Beliau tak pernah marah pada anak-anaknya. Bila anaknya ter­lihat gelisah, langsung sang Jenderal dekati dan diajak bicara. Ini membuat anak-anak bisa bebas curhat kepada ayahnya, tentang persoalan yang diha­dapi mereka. Saya juga ceritakan pada mereka tentang perjalanan hidup saya. Ini supaya mereka tahu apa yang di­alami orang tuanya di masa lalu, dan pengalaman   apa  yang  bisa  mereka  petik dari  situ,  terang  suami  dari Ny Sita Mulyono ini.

Prinsip-prinsip hidup yang dulu pernah ditanamkan orang tuanya, juga di­turunkan pada anak-anaknya Hasilnya pun sudah terlihat. Putri pertamanya  lu­lus   dari   Universitas  Padjajaran    dengan    predikat cum laude, dan mendapat bea­siswa dari sebuah perguruan tinggi di Perancis. Meski hanya petani kecil, tapi orang tua saya selalu memotivasi anak- anaknya untuk selalu belajar dan beker ja keras,  tegasnya.

Sedangkan putra keduanya, dengan kerja kerasnya sendiri berhasil diterima di Akademi Militer (Akmil). Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohon­nya. Sifat selalu berempati yang dimiliki sang ayah, menurun di ketiga anaknya Mereka mudah terenyuh saat melihat orang lain mendapat musibah atau men­derita.   Anaknya juga  tak  pernah men­yombongkan pangkat sang ayah. Mere­ka malah terkesan tidak ingin temannya tahu bahwa ayahnya adalah petinggi TNI AD. Setelah lulus kuliah, teman-teman anak saya baru tahu kalau bapaknya ternyata Jenderal, (Sumber: HU Pelita)

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Dinas Penerangan Kodam IV/Diponegoro Kodam XVI/Patimura Kodam I/Bukit Barisan Puspen TNI Kodam Iskandar Muda Kodam XIV Hassanudin
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Kostrad Menuju Prajurit fesional, Solid, dan Merakyat