TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Profil Singkat Kostrad

By 31 Jul 2015 10:58Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Kostrad (Komando Strate­gi dan Cadangan Ang­katan Darat) adalah salah satu kesatuan an­dalan TNI dan merupakan bagian dari Bala Pertahanan Pusat yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat.

Kostrad memiliki pasukan berkisar antara 25.000 sampai 26.000 personil yang selalu siap un­tuk beroperasi atas perintah panglima TNI kapan saja. Sejarah Kostrad secara res­mi terbentuk pada tanggal 6 Maret 1961. Tanggal pembentukan ini di­dasarkan pada tanggal disahkannya cikal  bakal  Kostrad, yakni Korps  Ten­tara  Ke I/Cadangan Umum Angka­tan Darat (Korra-i/Caduad) melalui Surat Keputusan Men/Pangad No. Mk/Kpts.54/3/1961, tanggal 6 Ma­ret 1961.  Ide pembentukan Korra-I/Caduad berasal dari Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat Kasad (Kepala Staf Angka­tan Darat). Pertirnbangannya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia memerlukan adanya suatu kekua­tan cadangan strategis yang bersifat mobil, siap tempur dan memiliki ke­mampuan lintas udara serta sang­gup melakukan operasi secara send­iri-sendiri maupun dalam komando gabungan, yang setiap saat dapat di­kerahkan ke seluruh penjuru tanah air untuk menghadapi segala macam tantangan, cobaan dan gangguan, baik yang berasal dari dalam mau­pun luar negeri.

Cikal bakal Kostrad berasal keti­ka Indonesia pertama kali berurusan dengan isu kemerdekaan Irian Barat pada tahun 1960, pada tahun itu Kostrad harus melaksanakan opera­si pembebasan Irian Barat (sekarang Irian Jaya), padahal kekuatannya saat itu baru mencapai 60% dari kekuatan yang ditentukan. Sukses mengemban misi di Irian Barat, Kostrad kemba­li ditugaskan melaksanakan Operasi Dwikora menyusul konfrontasi den­gan Malaysia pada 3 Mei 1964.

Untuk melaksanakan operasi terse­but Presiden RI waktu itu, Soekar­no, memerintahkan Kostrad untuk membentuk Komando Mandala Siaga atau Kolaga yang merupakan ko­mando gabungan. Kostrad mengerah­kan dua komando tempur, yaitu Kopur I Rencong yang ditempatkan di Sumatra dan Kopur II ditempatkan di Kalimantan. Operasi Dwikora berakhir 11 Agustus 1961. Mayor Jender­al Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden Indonesia) dipercaya sebagai orang pertama yang menjabat Pangli­ma Kostrad (Pangkostrad).

Selama masa Orde Baru, Korps baret hijau ini tidak pernah absen dari ber­bagai operasi militer di Indonesia, sep­erti G-30-S/PKI, Operasi Trisula, PGRS (Sarawak People’s Guerrilla Force) di Sarawak, PARAKU (North Kalimantan People’s Force) di Kalimantan Utara dan Operasi “Seroja di Timor Timur. Kostrad juga dilibatkan pada tingkat internasional d’engan diberangkatkan­nya pasukan Garuda di Mesir (1973 -1978) dan Vietnam (1973 – 1975) ser­ta dalam operasi gabungan sebagai pa­sukan penjaga perdamaian dalam per­ang Iran-Irak antara 1989 dan 1990. Tahun 1984 Pangkostrad bertanggung jawab langsung kepada Panglima ABRI dalam operasi-operasi pertahanan dan keamanan. Sekarang ini Kostrad memi­liki kekuatan pasukan sekitar 35.000 sampai 40.000  tentara  dengan  dua  di­visi   infantri  yaitu  Divisi Satu  yang ber­markas di Cilodong, Jawa Barat dan Divisi Dua yang bermarkas di Singosari Kabupaten Malang Jawa Timur. Se­tiap divisi memiliki brigade lintas uda­ra dan brigade infantri. (Sumber: HU Pelita)

 

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Kodam IX/Udayana Kodam V/Brawijaya Kostrad Kodam IV/Diponegoro Berita Satuan
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Profil Singkat Kostrad