TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Memperkokoh Penerapan Nilai Luhur Budaya Bangsa Sebagai Modal Utama Menuju Indonesia Emas 2045

By 25 Aug 2015 14:40Kodam VI/Mulawarman
seminar1

Balikpapan, (25/08). Kasdam VI/Mulawarman, Brigadir Jenderal TNI George Elnadus Supit membuka acara Seminar Kebangsaan di Aula Makodam VI/Mulawarman di Balikpapan hari Selasa (25/8). Seminar Kebangsaan yg dihadiri oleh sekitar 200 org peserta dari berbagai komponen masyarakat Kaltim terdiri dari FKPD Kaltim dan Balikpapan, Para Tokoh Masyarakat/Agama/Pemuda/Adat, Wiraswasta, Wartawan/Jurnalis Senior, Akademisi, Mahasiswa, Pelajar dan TNI/Polri bertemakan ” Memperkokoh Budaya Bangsa sebagai modal utama membangun Indonesia Emas 2045″. Hadir pula dalam acara seminar Kebangsaan tersebut sejumlah narasumber memberikan materi ceramah tentang wawasan kebangsaan diantaranya Kasdam VI/Mlw, Prof. Dr. Adri Patton M.Si, Pimred Kaltim Pos Bapak Krisna Endrawijaya serta Bapak Dr. Bernaulus Saragih selaku moderator dalam acara seminar.

Pangdam VI/Mlw dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kasdam VI/Mlw disampaikan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang Multikuluralisme memiliki keragaman suku, bahasa, agama, etnis dan golongan maka nilai Wawasan Kebangsaan merupakan prasyarat Mutlak yang harus selalu dijaga demi persatuan dan tetap tegaknya NKRI. Multikulturalusme itu sendiri merupakan suatu kekayaan yang dapat dijadikan kekuatan positif dalam pembangunan suatu bangsa. Namun jika hal tersebu tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi potensi konflik sosial yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan dalam rangka pembangunan bangsa.

Dalam kesempatan ini pula Kasdam VI/Mlw tampil selaku salah satu narasumber sekaligus keynote speaker dalam seminar kebangsaan yang digelar oleh Kodam VI/Mlw menyampaikan pesan dan gagasan terkait membangun karakter bangsa guna memperkuat persatuan bangsa. Bangsa yang berkarakter tangguh harus dibangun dari level terkecil dirumah tangga atau lingkungan tinggal agar menjadi pribadi yang tangguh yang dapat menyusun kesatuan hidup masyarakat yang kuat sebagai modal utama ketahanan suatu wilayah yang menopang ketahanan suatu bangsa terhadap rongrongan dan ancaman terhadap moralitas hidup bangsa tersebut.

Tantangan bangsa Indonesia di era Globalisasi memberikan dampak positif sekaligus negatif terhadap tatacara dan pola hidup bangsa kita. Globalisasi bila tidak dilandasi dengan penguatan karakter dan jati diri hidup bangsa Indonesia sebagai bangsa yg besar akan secara masif mengikis moralitas dan rasa persatuan karena pengaruh Globalisasi sangat kuat yang didukung oleh perkembangan Iptek dan Teknologi Informasi yang semakin canggih.

Untuk itu pendidikan karakter bangsa harus menjadi perhatian khusus kita bersama, mulai dari lingkungan keluarga, Sekolah, para tokoh, alim ulama dan aparat pemerintahan secara serius dengan berbagai contoh keteladanan dan mengangkat berbagai nilai kearifan lokal yang kita miliki.

Pada kesempatan selanjutnya Narasumber Prof. DR.Adri Patton. M.Si. menyampaikan pemaparannya tentang Bagaimana membangun Nasionalisme di Perbatasan. Propinsi Kaltim dan Kaltara yang memiliki panjang wilayah perbatasan 1034 Km dengan kondisi geografi yang cukup sulit merupakan suatu tantangan bagi pemerintah yang harus dihadapi untuk mewujudkan dua aspek yakni Prosperity dan Security. 2 aspek tersebut sebagai 2 sisi mata uang yang harus dibangun secara seimbang sangat penting artinya untuk membangun rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang tangguh bagi saudara2 kita yang tinggal diperbatasan. Berbagai program dan anggaran dalam rangka mewujudkan pembangunan di wilayah perbatasan dilaksanakan oleh pemerintah dalam strategi Nawa Cita dalam mewujudkan pembangunan dari pinggir wilayah Nasional diantaranya perbatasan, Pulau terluar dan daerah terpencil (Remote Area) secara terarah dan berkesinambungan.

Sementara itu pula Narasumber lainnya Bapak Krisna Endrawijaya dari Pimpred Kaltim Pos juga memaparkan tentang Kondisi Riil Ekonomi Indonesia. Kondisi Ekonomi Kaltim disoroti kini dalam kondisi yang kian turun dengan Indikator industri pengolahan SDA seperti batubara, Migas yang kian lesu karena dipengaruhi oleh harga pasar dunia. Hal ini berdampak pada tingginya angka PHK di Kaltim akan menimbulkan dampak kerawanan sosial dan ekonomi dikemudian hari. Turunnya neraca ekonomi Kaltim tentunya juga akan berdampak pada ketimpangan pembangunan di Wilayah Perbatasan. Dalam situasi ekonomi yg kian sulit ini pula semua komponen masyarakat tidak boleh apatis terhadap masalah lainnya terkait Ipoleksosbud Hankam sebagai faktor penyusun suatu ketahanan wilayah. Salah satunya adalah kedewasaan politik masyarakat tetap harus dibangun agar tetap dapat terpilih para pemimpin yang kapable dan berwawasan nasional dalam menentukan arah pembangunan bangsa untuk mencapai kemajuan yang dicita-citakan. Menghadapi situasi sulit seperti ini Kaltim sesungguhnya masih memiliki peluang jalan keluar dengan memanfaatkan potensi SDA yang melimpah untuk dikelola secara benar demi kepentingan pembangunan. Kuncinya adalah investasi Kaltim harus bergiat kembali dengan ditopang oleh kepastian hukum dan perlindungan konsisten oleh pemerintah bagi semua golongan masyarakat dan kalangan dunia usaha dalam “Membangun Kaltim Untuk Semua”.

Seminar kebangsaan dilanjutkan dengan dua sesi, diskusi dan tanya jawab guna memberikan kesempatan kepada semua peserta diskusi dari berbagai kalangan agar dapar memberikan pandangan dan saran sekaligus pertanyaan yang dijawab secara bergiliran dan komperehensif oleh para nara sumber guna membulatkan pemahaman dari para peserta diskusi tersebut. Acara diakhiri dengan pemberian cindera mata kepada nara sumber dan tanda penghargaan (sertipikat) secara simbolis kepada perwakilan peserta diskudi. (Ags-95)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Memperkokoh Penerapan Nilai Luhur Budaya Bangsa Sebagai Modal Utama Menuju Indonesia Emas 2045