TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Media Sosial Jadi Tantangan : Negara Tidak Perlu Alergi Dengan Kritik

By 28 Sep 2015 08:49Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Maraknya penggunaan media sosial menjadi tantangan baru bagi bangsa Indonesia dalam menjaga kedaulatan. Perang pendapat di media sosial dapat memicu konflik di tengah masyarakat yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi Indonesia.

Berbagai komentar buruk yang sering muncul di media sosial, menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, juga berpo­tensi merusak karakter orang In­donesia yang sopan dan meng­hargai orang lain.

Komentar di media sosial le­bih banyak yang menjelek-jelekkan daripada yang memuji. Itu bukan kepribadian bangsa Indonesia, kata Gatot Nurmantyo di sela-sela kegiatan lomba lari dalam rangka peringatan HUT Ke-70 TNI, Minggu, 27 September 2015, di Jakarta.

Lomba lari memperebutkan trofi Panglima TNI yang diikuti lebih dari 10.000 peserta ini juga dimeriahkan dengan demo ter­jun payung dan dihibur oleh grup musik dari TNI.

Untuk menguasai suatu nega­ra, menurut Gatot, kini ada yang bisa dilakukan tanpa mengeluar­kan satu butir peluru pun, yaitu dengan melakukan perang proxy atau perang dengan mengguna­kan pihak ketiga untuk menga­lahkan musuh. Ada rekayasa so­sial untuk merusak kearifan lokal bangsa melalui tangan yang tak kelihatan, katanya.

Terkait dengan hal ini, Gatot berharap bangsa Indonesia tetap saling mendukung, terutama da­lam menghadapi kelesuan eko­nomi yang tengah terjadi. TNI tidak bisa sendirian menjaga ke­daulatan bangsa, tetapi harus bersama-sama dengan rakyat. Rakyat tetap harus kritis dan memberikan solusi dengan cara yang benar, sesuai dengan atur­an, ujarnya.

Adaptif

Pengajar politik dari Univer­sitas Islam Negeri Syarlf Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, menuturkan, perang pen­dapat di media Sosial memang dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Kini, siapa saja dapat menya­botase informasi, termasuk milik negara hingga menyebar rumor yang mencederai kewibawaan kepala negara, katanya.

Untuk itu, Gun Gun berharap TNI dapat terus berperan men­jaga kedaulatan bangsa dengan turut adaptif terhadap perubah­an pola komunikasi yang terjadi melalui media sosial. TNI antara lain turut membantu meredam potensi konflik sosial yang terjadi lewat percakapan media sosial.

TNI tidak bisa lagi menjadi militer yang hanya mengandal­kan ketahanan fisik, tetapi juga harus mempunyai daya lacak ter­hadap serangan global berbasis informasi, ujarnya

Secara terpisah, Ketua Prog­ram Studi Sosiologi Fakultas Il­mu Sosial dan Ilmu Politik Uni­versitas Gadjah Mada Arie Sudjito menuturkan, TNI juga dapat mengambil peran dengan men­deteksi konten yang beredar di media sosial yang berpotensi me­micu konflik. TNI juga dapat me­rangkul masyarakat agar dapat menyampaikan ide dengan tuju­an menjaga kedaulatan bangsa.

Masyarakat sebagai pengguna sosial harus ditempatkan sebagai sumber daya. TNI juga harus terbuka kepada rakyat sebagai penyampai informasi, katanya.

Namun, menurut Arie, media sosial juga tidak selalu berdam­pak negatif. Media sosial juga dapat menjadi alat pemersatu bangsa karena dapat dimanfaat­kan sebagai ruang dialog.

Negara harus memanfaatkan media sosial untuk membangun dialog dengan masyarakat seka­ligus menjadi kontrol publik bagi kebijakan pemerintah dan pe­nyelenggara negara, katanya.

Media sosial, lanjut Arie, juga dapat dimanfaatkan untuk mengangkat masalah di daerah pelosok yang sering kali belum dijangkau oleh negara.

Terkait dengan hal ini, me­nurut Arie, negara juga perlu membangun instrumen yang le­bih baik agar media sosial dapat menjadi alat untuk membangun ideologi bangsa Negara tidak perlu antipati dengan kritik yang disampaikan masyarakat melalui media sosial.

Pemerintah dapat melakukan debat publik atas kebijakan yang akan digulirkan. Ini akan mem­buat masyarakat merasa penda­patnya didengar, ujarnya. (Sumber: HU Kompas)

 

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Media Sosial Jadi Tantangan : Negara Tidak Perlu Alergi Dengan Kritik