TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Bela Negara Tak Selalu Angkat Senjata

By 16 Oct 2015 10:34Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Kegiatan bela negara tidak harus selalu di­maknai sebagai perang atau angkat senjata. Namun bela negara adalah sebagai bentuk ke­cintaan terhadap tanah air. Bela negara jangan dimaknai angkat senjata atau perang. Bu­kan itu maksudnya, kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono di Kampus Universitas Indonesia (UI) De­pok, Jawa Barat, Kamis, tanggal 15 Oktober 2015.

Menurut Mulyono kegiatan bela negara untuk membentuk semangat dan spirit anak bang­sa agar mencintai negaranya. Selain itu, tuturnya, bela negara juga untuk mengubah mental anak bangsa yang apa­tis bahkan tidak peduli dengan negaranya. Saat ini, kata Mulyono, TNI sedang menjalani hubungan dengan semua kalangan, baik akademisi maupun elemen lain, termasuk perusahaan swasta, untuk mewujudkan bela negara.

Kami   jalin   semua   hubungan   dengan   siapa saja,  karena per­tahanan negara bukan hanya milik TNI, tapi  kewajiban semua anak bangsa, tuturnya saat jadi pembicara di seminar nasional bertema Mewujudkan Sishanta yang Tangguh Melalui Pengua­tan Peran Binter TNI AD dalam Membantu Menyiapkan Kekua­tan Pertahanan Negara di kam­pus UI Depok.

Mantan Pangkostrad ini me­ngajak seluruh rakyat Indone­sia untuk Ikut dalam mewujud­kan Sistem Pertahanan Semesta atau Sishanta. Salah satunya, kata KSAD, peran TNI di wilayah yakni Kodim, Korem, hingga Koramil dinilai berperan penting.

Mulyono menjelaskan, se­suai UUD 1945 seluruh kom­ponen negara wajib ikut dalam mempertahankan pertahanan dan keamanan negara, sehing­ga generasi saat ini jelas dengan blueprint  konsep  sinergi dengan TNI mendukung sistem perta­hanan negara.

Ia menambahkan Sishan­ta yang dianut bersifat semes­ta melibatkan seluruh war­ga negara dipersiapkan secara dini oleh pemerintah, berlanjut melindungi keselamatan bang­sa. Dengan mengembangkan seluruh sumber daya nasional memelihara pertahanan negara.

Dilakukan untuk mem­pertahankan melindungi dan memelihara kedaulatan. Me­nempatkan TNI jadi komponen utama. Ancaman non militer pertahanan unsur utama de­ngan ancaman yang dihadapi. Pertahanan bukan berarti bicara perang tetapi memberdayakan seluruh komponen bangsu mempertahankan kedaulatan, tuturnya seperti dikutip Antara.

Ia  juga  mengingatkan  genera­si  muda  terkait ancaman proxy war. Pada tataran nasional, saat ini Indonesia sudah berada pada front perang asimetris, perang hibrida dan proxy war. Oleh karena itu, menghada­pi situasi itu diperlukan peran serta    seluruh   komponen   bang­sa,   termasuk  TNI AD  yang di­laksanakan melalui binter,  ujarnya.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Natsir   di tempat   terpisah   me­nyatakan  bela  negara  bagi ma­hasiswa  bukan militerisasi me­lainkan sistem peningkatan ke­disiplinan. Sebagian salah menerjemah­kan,  yang lata ajarkan masalah kedisiplinan dan yang punya pengalaman dalam mengajak orang untuk disiplin yaitu TNI. Kita mengambil sistemnya saja bukan masalah militerisasi ka­tanya saat membuka Seminar Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indone­sia Cerdas di Kampus ITB Kota Bandung kemarin.

la mengatakan tujuan bela negara agar mahasiswa tercipta suatu  kondisi  rasa  memiliki ne­gara, membela  negara dan nasi­onalisme. Bela negara rencanan­ya akan digulirkan mulai 2016 bagi warga negara. Bagi maha­siswa diharapkan kampus bisa menjadi tempat penyelenggara­an untuk bela negara.

Konsep yang direncanakan adalah bagaimana nanti untuk tahun depan, kampus itu dijadikan untuk belajar membela ne­gara yang baik yang selama ini tidak pernah ada. Yang ada sela­ma ini hanya orientasi pengena­lan kampus, kata Natsir. Dikatakannya juga mahasiswa di Indonesia harus memiliki tiga komponen yakni kerja keras, cerdas dan ikhlas. Satu satun­ya cara untuk mewujudkan ke­tiga hal itu dengan rasa memiliki terhadap sebuah negara.

Untuk meningkatkan rasa berbangsa dan bernegara dan membela  Indonesia  sebagai  war­ga  negara  maka  wawasan kebangsaan dan bela negara menjadi hal yang penting, katanya. Bela negara ini pun akan melibatkan TNI untuk membentuk kedisiplinan dan wawasan kebangsaan serta belanegara. Namun pemusatan latihan diharapkan bisa bekerjasam dengan kampus.

Pemusatan program itu biaya mahal, jadi di kampus saja, kita kerjasama dengan rektor. Tapi untuk dipusatkan di satu daerah, kita sanga ttergantung. Yang penting bila kampus menyediakan fasilitas dengan baik ya kita tidak perlu keluar, kata dia menambahkan. (Sumber: HU Pelita)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Bela Negara Tak Selalu Angkat Senjata