TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Modernisasi Pertanian Sebagai Tonggak Kebangkitan Menuju Kedaulatan Pangan

By 20 Oct 2015 20:49SIARAN PERS, Dinas Penerangan
panen1

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono menghadiri acara Gelar Teknologi Pertanian Modern yg dibuka langsung oleh Menteri pertanian Amran Sulaiman di Ds. Gardu Mukti Kec. Tambakdahan Kab. Subang, Jawa Barat, Selasa (20/10).

Hadir dalam acara tersebut diantaranya: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan, Pangdam III, pangdam IV, Pangdam V, Pangdam IX, para kelompok tani, Pemda Subang dan staf dari kementerian pertanian.

Menteri pertanian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momentum untuk membangun pertanian modern di Indonesia dan ini akan menjadi tulang punggung utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dimana salah satu tantangan utama dalam pembangunan pertanian ke depan adalah bagaimana menarik minat generasi muda untuk bekerja di bidang pertanian karena mekanisasi pertanian merupakan pintu masuk awal bagi modernisasi pertanian. Melalui mekanisasi kesan kumuh pertanian dapat kita hilangkan.

Menteri juga menjabarkan beberapa hal yang sudah dilakukan selama setahun terakhir, serta basil yang telah diperoleh sebagai berikut:

1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi

Sejak awal tahun 2015, pemerintah telah melakukan program UPSUS yang meliputi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier, Optimalisasi Lahan, Pemberian Bantuan Alsin, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu, dan System of Rice Intensification dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi beras dalam negeri.

Dalam periode 2004-2015 luas panen, produktivitas dan produksi padi di Indonesia rata-rata mengalami peningkatan masing-masing 1,69%/th; 1,40%/th; dan 3,12%/th, yaitu 11,9 juta ha (2004) menjadi 14,3 juta ha (2015), dari 4,54 ton GKG/ha (2004) menjadi 5,28 ton GKG/ha (2015), dan dari 54,1 juta ton GKG (2004) menjadi 75,6 juta ton GKG (2015).

Bahkan produksi padi di Indonesia tahun 2015 dibanding tahun 2014 (menurut data ARAM I BPS), mengalami peningkatan yang cukup besar, 6,64%, dari 70,84 juta ton GKG (2014) menjadi 75,6 juta ton GKG (2015), peningkatan ini paling tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan hampir sama dengan peningkatan produksi padi yang pernah dicapai pada tahun 2009. Pada saat yang sama luas panen dan produktivitas padi meningkat masing-masing 3,71% (dari 13,80 juta ha pada 2014 menjadi 14,3 juta ha pada 2015) dan 2,82% (dari 5,14 ton GKG/ha pada 2014 menjadi 5,28 ton GKG/ha pada 2015). Namun demikian, produksi padi/beras di Indonesia pernah mengalami penurunan yaitu pada 2011 dan 2014.

2. Perkembangan Produksi dan Impor Beras

Dalam periode 2004-2014 jumlah impor beras Indonesia sangat fluktuatif. Jumlah impor tertinggi terjadi pada tahun 2011, mencapai 2,74 juta ton (7,18% dari produksi beras) dan terendah terjadi pada tahun 2005, 195 ribu ton (0,62% dari total produksi).

Namun demikian, pada tahun 2015 Kabinet Kerja Pemerintahan Indonesia bertekad untuk tidak melakukan impor beras konsumsi, dan akan diupayakan dengan menjaga standing crops yang ada. Impor beras dari Vietnam yang diberitakan oleh media massa itu dilakukan untuk berjaga-jaga.

3. Kejadian El Nino di Indonesia dan Perkembangan Impor Beras

El Nino terbukti telah mempengaruhi tingkat produksi padi. El Nino yang kuat menyebabkan beberapa lahan sawah mengalami kekeringan sehingga produktivitasnya menurun, dan bahkan ada yang mengalami puso (gagal panen). Menurunnya tingkat produksi padi/beras nasional akibat adanya El Nino yang kuat. dampak kekeringan yang kuat pada tahun 1997 menyebabkan Indonesia harus impor beras pada tahun 1998 mencapai 7,2 juta ton. Pada tahun 2014/2015 kondisi kekeringan/El Nino yang terjadi lebih kuat dari tahun 1997, namun demikian sampai bulan September 2015 Indonesia belum melakukan impor beras, sekalipun jumlah penduduk lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari upaya-upaya antisipasi dini dan penanganan secara masif yang dilakukan pemerintah melalui program UPSUS untuk mengurangi dampak Elnino, terbukti produksi padi/beras masih meningkat terhadap tahun sebelumnya.

4. Upaya Peningkatan Produksi dan Peranan Inovasi Teknologi

Keberhasilan peningkatan produksi padi yang dicapai pada tahun 2015 di atas tidak terlepas dari program Upaya Khusus (UPSUS) padi yang sedang dilakukan pemerintah di seluruh Indonesia, yang meliputi: Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) seluas 2,6 juta ha untuk meningkatkan luas areal tanam dan atau Indeks Pertanaman (IP); Optimasi lahan (Opla) seluas 1,03 juta ha untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas, memberi alat dan mesin pertanian/alsintan (traktor R2 sebanyak 26.100 unit, traktor R4 sebanyak 1.000 unit, pompa air sebanyak 3.340 unit dan rice transplanter 5.000 unit, dan juga, power thresher dan harvester) dengan tujuan mempercepat pengolahan lahan, tanam, panen, mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan ketersediaan air. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadi (GP-PTT) padi (inbrida dan hibrida) untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan petani dan kelestarian lingkungan, penyediaan bantuan benih dan pupuk untuk meningkatkan produktivitas pengembangan System of Rice Intensification (SRI) untuk meningkatkan produktivitas. Pengendalian OPT dan kekeringan untuk mempertahankan produksi dan pendampingan/pengawalan oleh seluruh jajaran di Kementerian Pertanian dengan melibatkan TNI dan Perguruan Tinggi.

Dalam acara tersebut juga menteri pertanian bersama Kasad berkesempatan untuk melakukan panen padi. Sebelumnya menteri pertanian memberikan bantuan traktor bagi para petani yg ada di wilayah tersebut.
panen7panen6panen0panenpanen 5panen 4panen3

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Modernisasi Pertanian Sebagai Tonggak Kebangkitan Menuju Kedaulatan Pangan