TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Negara Ekuator dalam Ancaman Perang

By 08 Oct 2015 11:52Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan ancaman perang yang dilatarbelakangi perebutan sumber energi sangat berpotensi terjadi di negara-negara yang berada di ekuator atau garis khatulistiwa seperti Indonesia.

Hal itu ditegaskan Gatot saat mengikuti bincang-bincang de­ngan Keluarga Besar MNC Group bertajuk Memahami An­caman, Menyadari Jati Diri Mo­dal Membangun Menuju Indone­sia Emas di Auditorium MNC Tower, Jalan Kebon Sirih, Men­teng, Jakarta Pusat, kemarin.

Gatot menjelaskan, potensi peperangan tersebut semakin terbuka seiring dengan sema­kin menipisnya persediaan energi fosil yang terdapat di se­jumlah negara Timur Tengah. Kondisi ini semakin diperparah dengan pertambahan pendu­duk yang berjalan dengan cepat.

Berdasarkan data yang ada, jumlah penduduk dunia pada 1800 hanya berjumlah 1 miliar. Kemudian 130 tahun kemu­dian bertambah 1 miliar. Na­mun hanya dalam kurun waktu 30 tahun kini penduduk dunia sudah mencapai 3 miliar. Bahkan 15 tahun kemudian menjadi 4 miliar.

Selanjutnya 12 tahun kemu­dian atau sekitar 2 011 lalu, jum­lahnya naik menjadi 7 miliar. Dari hasil perhitungan, menu­rut Gatot, jumlah penduduk du­nia diprediksi mencapai 12,3 miliar dengan 9,8 miliar pendu­duk hidup di daerah nonekuator, sedangkan 2,5 miliar lain­nya berada di ekuator. Padahal, idealnya, bumi hanya mampu menampung 3 miliar-4 miliar penduduk. Saat ini 41.000 anak meninggal dunia per hari, 15 juta anak per tahun. Ini ter­jadi pada anak-anak karena ke­miskinan,  kuranggizi, ujarnya.

Bertambahnya jumlah penduduk yang cukup pesat ini, me­nurut Gatot, tidak dibarengi de­ngan ketersediaan energi. Ber­dasarkan data British Petro­leum (BP) pada2011, sisa energi fosil dunia tinggal 45 tahun, yakni hingga sekitar 2056. Ada­pun sisa energi fosil di Indonesia tinggal , 8 tahun bila tidak ada peningkatan kebutuhan energi

BP memprediksi pada 2035 jumlah konsumsi energi akan naik sebesar41% dan diprediksi pada 2043 energi akan habis. Menurut Gatot, semakin tipis­nya sumber energi fosil dan be­lum ditemukannya energi pengganti mendorong negara-negara mencari sumber energi lain. Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki garis pantai terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada menjadi mag­net bagi banyak negara yang ingin menguasainya.

Menurutnya, sekitar 70% konflik di dunia berlatar bela­kang energi. Energi benar-benar krisis. Negara yang tengah berkonflik seperti Nigeria, Kongo, Yaman, Irak, Mesir, Su­riah semua penghasil minyak. Mereka terlibat konflik dan sampai saat ini masih konflik. Jadi perang yang tadinya kare­na energi fosil beralih kepada pa­ngan, air, dan energi,  sebutnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mengakui, ada perkembangan baru dalam membangun hegemoni untuk bisa menguasai Indonesia. Salah satunya melalui proxy war a tau perang dengan mengguna­kan pihak ketiga sehingga sulit membedakan mana kawan dan lawan. Proxy war ini merupakan perang yang masuk melalui berbagai sendi kehidupan masya­rakat seperti membeli dan me­nguasai media massa untuk melakukan pembentukan  opini, menciptakan rekayasa social, dan sebagainya.

Kemudian mengadu domba TNI Polri sehingga mengganggu stabilitas nasional. Memben­turkan lembaga penegak hu­kum, memecah belah partai politik, dan membuai generasi muda dengan seks bebas dan narkoba dan sebagainya. Da­pat saya pastikan perang akan terjadi di ekuator. Inilah ancam­an bangsa Indonesia ke depan. Tahun 2043 tinggal 28 tahun lagi, apakah anak cucu kita bisa hidup layak, tanya Gatot.

Gatot mencontohkan, lepas­nya Timor Timor merupakan salah satu bentuk nyata dari proxy war yang terjadi di Indone­sia. Gatot juga mencontohkan bagaimana runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit bukan karena invasi, melainkan karena konflik yang terjadi dari dalam.

Sementara itu modal de­mografi dapat dilakukan de­ngan melestarikan kearifan lo­kal seperti menghidupkan kembali semangat    gotong   royong.   Kita  juga  punya  Pancasila   yang nilai-nilainya sangat luhur. Sebab TNI tidak bisa mengha­dapi sendiri. Dalam mengha­dapi ancaman ini kita harus bersatu,  ujarnya.

Dalam kesempatan itu, mantan Pangdam V/Brawijaya ini juga mengajak CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo un­tuk menggunakan media yang dimilikinya untuk membangun ketahanan nasional.

Mantan Pangkostrad ini juga berharap MNC Group da­pat membantu menyosialisasi gagasan agar UU Komponen Ca­dangan dapat segera disahkan dan diundangkan. Bahkan Ga­tot mengaku siap mengurangi prajuritnya 30% secara ber­tahap bila UU Komponen Ca­dangan disahkan. Media mas­sa bisa menumbuhkan rasa cin­ta kepada bangsa dan memaha­mi ancaman,  ujarnya.

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengapresiasi langkah Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang memberikan satu perspektif mengenai kon­disi saat ini, yaitu Indonesia te­ngah menghadapi proxy war.  Panglima memberikan satu perspektif hati-hati, hari ini kita sedang    menghadapi   proxy war.   Bagaimana   ancaman  asing me­masuki Indonesia, dengan ber­bagai cara. Cara ekonomi, bu­daya, dan sebagainya. Kita ha­rus hati-hati sebagai bangsa, kepentingan nasional harus dijfcga, ujarnya.

Disinggung soal pentingnya peran media massa, Hary mengakui bahwa media harus konstruktif dan menjaga kepentingan nasional. Hal yang menyangkut masyarakat luas harus diproteksi dan dilindungi. Bahkan MNC Group akan menambah konten berita yang menyangkut ketahanan nasional.

Secara otomatis begitu, itu kewajiban kita. Apa yang disampaikan Pak Gatot memang benar. Apalagi sebentar lagi Indonesia masuk dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), investasi tetap dibutuhkan, tapi kepentingan harus kita jaga, terutama yang menyangkut masyarakat menengah kebawah,  ujarnya.

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menilai Indonesia harus menyiapkan ketahanan nasional dengan baik dan segera, baik ketahanan pangan maupun hal yang terkait dengan ipoleksosbud. Apa yang disampaikan Pak Gatot menjadi sangat penting tatkala eskalasi ancaman proxy war menjadi masif, sumber daya alam harus kita selamatkan dengan mengedepankan system pertahanan holistik meliputi penyiapan ketahanan nasional, sebutnya. (Sumber: HU Seputar Indonesia)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Negara Ekuator dalam Ancaman Perang