TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

TNI Masih Berjibaku Padamkan Api

By 21 Oct 2015 09:38Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

Memadamkan api yang berkobar di lahan gambut bukan perkara mudah, tak hanya dibutuhkan keberanian tapi juga kecerdasan dalam membaca arah angin. Di tengah cuaca ekstrem yang saat ini terjadi, api bisa me­liuk-liuk menari bak manusia dengan ketinggian mencapai 60 meter. Api juga bisa meloncat semaunya mengikuti arah angin yang berhembus kencang de­ngan kecepatan rata-rata 35 km/jam.

Danyon   Armed  10/Kostrad   Letkol   Arm  Toar   Pioh  yang di­jumpai di Posko Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (TNI, BNPB,   dan  PT Bumi Andalas Per­mai)  di Air Sugihan, Ogan Ko­mering Ilir, Sumatera Selatan, dalam keterangannya mengata­kan kondisi alam seperti itu yang saat ini dihadapi anggotanya dan regu pemadam kebakaran per­usahaan.

Saya sendiri takjub melihat kejadian ini, kepala api bisa se­tinggi 60 meter, terlihat jelas karena malam hari. Saya dan tim pun tidak berani mendekati, jadi pemantauan dilakukan dari jarak, sekitar 1 kilometer, kata Toar seperti dikutip Antara. Ia mengutarakan itu sembari menunjukkan rekaman video yang diambil pada 12 Oktober di kawasan distrik Air Sugihan milik PT BAP (perusahaan pema­sok Asia Pulp & Paper/APP).

Ia mengatakan, pemacjaman kebakaran pada tahun ini meng­hadapi tantangan luar biasa karena dihadapkan pada cuaca ekstrem yang ditandai dengan angin kencang dan udara yang sangat kering.

Padahal, dari sisi sarana dan prasarana, beserta personel, menurutnya, relatif terpenuhi yakni hampir seribu orang lebih personel TNI sudah diturunkan di Sumatera Selatan, beserta dukungan beberapa unit pesa­wat water bombing, helikopter dan pesawat tanpa awak (drone) untuk memantau titik api.

Jika api sudah setinggi 60 meter, siapa yang bisa menahan. Mau seribu orang pun yang dija­jarkan untuk memadamkan api, tidak akan efektif, yang ada ma­lah rebutan masuk kanal untuk menyelamatkan diri,  ujar Toar yang sudah berada di lokasi Air Sugihan kurang lebih satu bulan bersama 167 orang personel TNI.

Ia membawa 350 personel yang kemudian disebar di bebe­rapa titik yakni di OKI, Ogan Ilir, dan Musi Banyuasin. Sejak bera­da di lokasi tersebut, titik api di distrik Air Sugihan sudah berha­sil dijinakkan dan saat ini sedang proses penyemprotan sisa kebakaran untuk mengu­rangi dampak asapnya. Petugas memusnahkan  asap  dari lahan yang terbakar dengan menyem­protkan air yang disuplai dari kanal menggunakan pompa.

Untuk Distrik Air Sugihanini, sudah terkendali, tinggal move up atau memusnahkan asapnya saja supaya tidak ada hotspot lagi. Tapi yang saat ini sedang  berkobar  di  Distrik Bagan Tengah semua personel difokuskan ke sana, kata dia. Ia melanjutkan, untuk mengopti­malkan upaya pemadaman api ini, TNI bersama regu pemadam kebakaran   perusahaan  juga membuat embung seperti arah­an dari Panglima TNI ketika berkunjung ke lokasi tersebut belum lama ini.

Embung   juga   dibuat   karena   bisa   juga  untuk  menahan per­gerakan  api,  intinya berbagai upaya dilakukan terus, terma­suk mengoptimalkan kanal se­kat basah (lahan dibersihkan dari tumbuhan kemudian di­lumuri lumpur dari kanal,  kata dia.  Tak hanya mengopti­malkan kanal, sejak empat hari lalu, di lokasi tersebut telah menggunakan racun api (fiame freeze) yakni sejenis cairan kimia yang digunakan untuk mematikan kepala api.

Pesawat Asing

Sementara sejumlah pesawat asing yang berupaya membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, sekarang ini terkendala dengan jarak pandang yang terbatas dan lokasi sumber air, sehingga api sulit dipadamkan.

Terhitung enam hari sejak mulai beroperasi sejumlah kapal bantuan asing terkendala de­ngan jarak pandang hanya 700 meter di sejumlah lokasi, menja­di faktor penyebab sulitnya memadamkan api kebakaran hutan dan lahan melalui udara dengan bom air, kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Wiliem Rampangile di Palembang, Selasa.

Sejumlah wilayah yang terja­di kebakaran hutan dan lahan itu seperti di Cengal dan Pedamaran Kabupaten Ogan Kome­ring Ilir, hanya pesawat milik Malaysia saja dengan kapasitas 5.000 liter air cukup efektif men­jangkau lokasi tanpa harus kem­bali mengisi air ke pangkalan.

Sementara pesawat Hercules N 405 LC milik Australia walau berkapasitas  lebih  besar  menca­pai  15  ribu  liter air, sulit men­jangkau  lokasi,  karena terkendala jarang pandang yang ter­batas.

Di samping itu, menurut Wiliem, dua kendala dihadapi dalam upaya memadamkan api keba­karan hutan dan lahan di wilayah Sumsel  sekarang  ini  adalah jarak pandang terbatas karena dise­limuti asap pekat, kemudian sumber air mulai kering.

Sementara Menkopolhukam, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan  pada  kunjungan  ker­janya ke Sumsel, Selasa menga­takan bahwa bantuan asing sejumlah negara sahabat akan diperpanjang. Hal itu, melihat keefektifan da­lam upaya memadamkan api ke­bakaran hutan dan lahan dengan menambah dua unit pesawat dari Rusia berkapasitas 12 ton air diharapkan tiba malam nanti.

Kami sudah melakukan evaluasi soal ini dan sudah ada hasil cukup bagus terkait bantu­an asing, walaupun akan ada yang pulang dan datang seperti pesawat dari Rusia bakal tiba malam nanti,  kata Luhut Binsar Pandjaitan. Menurut dia, dalam kondisi seperti sekarang ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya dengan memfokuskan dan me­minimalkan dampak bencana ka­but asap terjadi, sambil menung­gu datangnya musim hujan.

Ia berharap, dengan  berbagai  upaya  tersebut tidak terlalu ber­dampak membahayakan baik kesehatan masyarakat maupun roda perekonomian di Indonesia. (Sumber: HU SuaraKarya)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

TNI Masih Berjibaku Padamkan Api