Kodam V Brawijaya Kawal Distribusi Pupuk

By 26 Nov 2015 10:33Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Memasuki musim tanam, petani diresahkan dengan melambungnya harga pupuk bersubsidi jenis urea.

Komando Daerah Militer (Kodam) V/Brawijaya siap menindak tegas penyelewengan pupuk bersubsidi untuk para petani. Hal itu    disampaikan    Kepala   Staf     Daerah    Militer    (Kasdam) V/ Brawijaya, Brigjen Joppye Ones W.

Kami terus berkoordinasi dengan Di­nas Pertanian Jawa Timur maupun kabu­paten/kota di Jawa Timur untuk pendis­tribusian pupuk bersubsidi tersebut. Kami dengan ketat terus memantau dan mengawasi, tandas Brigjen Joppye Ones W, seusai simulasi antisipasi terorisme di Pasuruan, Jawa Timur, kemarin.

Langkah tegas dilakukan Kodam V/Brawijaya atas proses distribusi pupuk. Lantaran, Jawa Timur saat ini sudah mulai memasuki musim tanam. Na­mun, bayangan kelangkaan pupuk bersubsidi terutama jenis urea, selalu membayangi.

Saat ini proses pendistribusian masih berjalan lancar. Namun, jika dari hasil evaluasi ditemukan ada penyelewengan, pasti akan ditindak tegas. Kami akan menyelesaikannya ke ranah hukum, tandas Brigjen Joppye.

Di Kabupaten Pasuruan, memasuki musim tanam ini, patani diresahkan dengan melambungnya harga pupuk bersubsidi jenis urea. Dari harga subsidi sebesan Rp 90.008 kemasan 50 kilogram atau Rp l.800/kilogram. Saat ini harganya mencapai Rp l20.000/sak.

Di sisi Jain, ketersediaan air Waduk Gajah Mungkur (WGM), Wonogiri, JawaTengah, yang masih sangat minim pasca musim kemarau, diperkirakan sulit untuk memasok Dam Colo timur dan barat secara ideal. Hal itu akan berdampak buruk terhadap sedikitnya 7.000 hektare tanaman padi berumur 40 hari-50 hari di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jateng

Kalau hujan belum turun secara ru­tin, pengelolaan tanaman padi di sawah teknis Dam Colo timur jelas akan tergang­gu, jelas koordinator paguyuban petani pengguna air (P3A) Dam Colo timur, Sarjanto Jigong, di Polokarto, kemarin.

Dengan umur tanaman rata-rata an­tara 40 hari hingga 50 hari, dibutuhkan genangan air yang tidak sedikit. Namun, WGM sebagai sumber pasokan air Dam Colo belum mampu melakukan maksi­mal sejak pintu dam dibuka kembali mu­lai 5 November lalu, tambah Jigong.

Belum normal

Menurut Jigong, peralihan musim kemarau ke musim hijau di wiiayah Sukoharjo dan terutama di wilayah pegunungan seribu yang menjadi hulu WGM dan kali Bengawan Solo sejauh ini belum normal. Ramalan BMKG yang menyebutkan musim hujan akan terjadi mulai minggu ketiga November, masih meleset, sehingga hujan masih jarang terjadi.

Saat ini elevasi air waduk yang masih jauh di bawah normal, yakni mencapai 127 meter di atas permukaan laut (dpl). Elevasi itu belum mencukupi untuk ke­pentingan irigasi pertanian.

Dengan elevasi yang belum mencapai 130 meter dpl, pasokan air yang masuk ke Dam Colo timur baru 3,7 meter ku­bik/detik. Ini jelas sangat kurang untuk sawah teknis di Sukoharjo, tambah Jigong lagi.

Pejabat Perum Jasa Tirta I Bengawan Solo, Winarno Susiloardi, menyatakan peralihan musim kemarau ke musim hujan belum membuat elevasi air WGM memiliki volume air yang cukup.

Sawah teknis wilayah Dam Colo ti­mur yang membentang dari Kabupaten Sukoharjo sisi timur yang berlanjut ke wilayah Kabupaten Karanganyar dan juga Kabupaten Sragen, umur tanaman padi berbeda-beda. Di wilayah Karang­anyar dan Sragen sudah memasuki MT I untuk panen Maret. Adapun untuk Sukoharjo tanaman padi masih dalam MT III yang akan panen pada Januari mendatang.

Perlu penyelamatan segera. Pemkab perlu membantu, terutama  tentang   ke­tersediaan  pupuk   subsidi   dan   juga obat-obatan. Sejauh ini teman-teman petani masih maksimal menangani hama. Mudah-mudahan gangguan wereng cokelat tidak separah musim sebelum­nya, sehingga nantinya bisa panen maksimal,  kata Jigong.(Sumber: HU Media Indonesia)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Kodam V Brawijaya Kawal Distribusi Pupuk