Kliping

Tingkatkan Profesionalisme Prajurit, TNI AD Latihan dengan US Army

Oleh 26 Nov 2015 Desember 2nd, 2015 Tidak ada komentar
TNI Angkatan Darat
#TNIAD 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dalam rangka meningkatkan profesionalisme prajuritnya rutin melaksanakan berbagai    latihan,     baik   latihan   tingkat   perorangan,    unit/ ke­lompok, tingkat satuan mau­pun latihan antar negara. Sep­erti yang dilaksanakan beberapa saat lalu yaitu latihan bersama dengan Tentara Angkatan Da­rat Amerika Serikat (US Army), yang diberi nama Latihan ‘Garu­da Shield’, bertempat di daerah latihan Kostrad, Gunung Sen­tul, Cibenda, Sukabumi. Latih­an tersebut dibuka dan ditutup oleh Kepala Staf Divisi Infanteri 1 Kostrad Brigjen TNI Agus Suhardi didampingi Wakil Koman­dan Divisi Infanteri 25 USARPAC (United States Army Paci­fic), Brigadir Jenderal Gary Brito. Penutupan latihan Garu­da Shield juga disaksikan oleh Panglima Corp 1 Angkatan Da­rat Amerika, Mayor Jenderal Ed­ward F. Dorman.

Latihan Garuda Shield ta­hun 2015 ini merupakan yang ke-9 kalinya dilaksanakan, de­ngan melibatkan 830 prajurit dari kedua negara yang terdiri dari prajurit TNI Angkatan Da­rat 380 orang dari satuan Yonif Linud-328/17/1 Kostrad dan Prajurit Angkatan Darat Ameri­ka Serikat (US Army) sebanyak 450 orang berasal dari satu­an Divisi Infanteri 25 Usarpac. Latihan dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 24 hingga 28 Agustus dengan materi latihan difokuskan pada materi operasi perdamaian dengan metode gladi posko CPF (Command Post Exer­cise), latihan geladi lapang FTE (Field Trairdng Exercise) dan ma­teri patroli dalam rangka operasi pemeliharaan perdamaian serta materi perawatan dan evakuasi kesehatan yang diperuntukkan bagi personel kesehatan.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Mulyono, dalam amanat penutupan latihan yang dibacakan Kasdivif 1 Kostrad Brigjen TNI Agus Suhardi me­ngatakan, latihan bersama ini selain    bertujuan   untuk   mening­katkan  keterampilan  dan ke­mampuan profesionalisme pra­jurit, juga sebagai sarana un­tuk meningkatkan kerjasama dan jalinan persahabatan antar Angkatan Darat kedua negara. Oleh karena itu, Kasad berharap interaksi antar prajurit peser­ta latihan, baik dalam kegiatan latihan  maupun  kegiatan lain yang   menyertainya,  dapat men­jadi wahana yang efektif untuk membangun komunikasi dan berbagi pengalaman, yang pada akhirnya dapat menumbuh­kan sikap saling percaya, saling mengerti dan saling menghargai. Kasad berharap latihan bersa­ma ini dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang, dan dilaksanakan secara konsisten sehingga terwujud interoperabilitas/kerjasama militer internasional yang sangat diperlukan un­tuk mewujudkan stabilitas ke­amanan di kawasan yang men­jadi perhatian kedua negara.

Pernyataan hampir senada juga disampaikan oleh Brigadir Jenderal Gary Brito, Wakil Kom­andan Divisi Infanteri 25 USAR­PAC, yang menyatakan bahwa Garuda Shield merupakan lati­han penting yang memungkink­an Indonesia dan Amerika Seri­kat untuk berhubungan, bu­kan saja dalam latihan militer, tapi juga sebagai partner dalam wilayah Asia Pasifik.

Garuda Shield adalah salah satu latihan bersama anta­ra TNI Angkatan Darat dengan Angkatan Darat Amerika Seri­kat dibawah naungan USPACOM (United States Pacific Com­mand), dan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan ker­ja sama, mempererat hubungan bilateral serta menumbuhkan saling pengertian diantara Ang­katan Darat kedua negara, khu­susnya dalam penyamaan per­sepsi proses pengambilan keputusan yang berada  dalam  suatu komando  pengendalian  tingkat  brigade ke bawah dengan meng­gunakan prosedur pengambi­lan keputusan yang disamak­an standarnya oleh PBB de­ngan menggunakan MDMP (Military Décision Making Process) yang juga banyak digunakan oleh militer negara-negara lain di dunia. Namun sesuai dengan perkembangan dan keberhasi­lannya, latihan Garuda Shield saat ini tidak lagi hanya melak­sanakan latihan tentang pros­es pengambilan keputusan saja yang dikembangkan dalam CPX (Command Post Exercise), teta­pi USARPAC dalam hal ini US Army menambahkan kegiatan FTX (Field Training Exercise) dan  ENCAP (Engineering  Civic Assis­tance Project) pada latihan Garu­da Shield guna lebih mempere­rat kerjasama kedua Angkatan Darat, khususnya dalam berb­agi ilmu pengetahuan di bidang kemiliteran dan lebih mendekat­kan hubungan US Army dengan masyarakat Indonesia yang berada di pedesaan dengan mem­bangun atau merenovasi fasili­tas-fasilitas umum masyarakat. Latihan Bersama ini juga meru­pakan salah satu upaya pelak­sanaan fungsi pembinaan latih­an dan meningkatkan profesion­alisme bagi personel satuan ja­jaran TNI Angkatan Darat yang akan melaksanakan tugas se­bagai pasukan operasi perda­maian PBB.

Latihan bersama Garuda Shield merupakan latihan ber­sama antar negara yang dise­lenggarakan oleh host Nations Indonesia khususnya TNI den­gan konteks peacekeeping opera­tions yang telah dimulai sejak ta­hun 2007. Latihan ini juga salah satu bagian dari program GPOI (Global Peacekeeping Operation Initiative) di kawasan Asia Pa­sifik dalam rangka menyiapkan personel militer yang memenuhi standar untuk penugasan misi PBB di seluruh dunia.

Pada tahun 2015 ini, latih­an Garuda Shield telah dilak­sanakan untuk kesembilan ka­linya dan hasil dari latihan ini telah banyak pengetahuan yang didapat oleh prajurit TNI, khu­susnya TNI Angkatan Darat, baik itu dalam sistem penyeleng­garaan latihan berskala interna­sional, doktrin dalam pengambi­lan keputusan maupun kerjasa­ma militer internasional (intero­perability) dan kerjasama sipil militer dalam hubungan organi­sasi internasional (interagency).

Latihan bersama ini juga telah mencetak banyak praju­rit TNI yang memenuhi standar penugasan PBB, mulai dari lev­el Perwira Tinggi sebagai Force Commander, Perwira Menengah sebagai Sector Commander dan Stafnya, maupun Perwira Perta­ma sebagai staf dalam misi PBB. Ditambah ribuan prajurit yang telah mengikuti FTX dianggap mampu dan layak melaksanakan tugas di medan penugasan PBB yang sebenarnya.

Saat ini terdapat beberapa latihan GPOI di Asia Pasifik, seperti Cobra Gold di Thailand, Shanti Doot di Bangladesh, Khan Quest di Nepal, Keris Strike di Malaysia dan khusus di Indone­sia latihan    tersebut    diberi   nama    dengan   sandi,  code   name, ope­ration ‘GARUDA SHIELD’.   Un­tuk kawasan Asia Pasifik sen­diri, latihan GPOI seluruhnya be­rada dibawah supervisi USPACOM dan khusus latihan antar Angkatan Darat diselenggarakan oleh USARPAC.

Cikal bakal terbentuknya latihan bersama Garuda Shield, bermula dari kerjasama bilateral antara TNI AD dan USPACOM melalui forum USIBDD (United States Indonesia Bilateral Defence Discussion) pada tahun 2006, pada saat itulah tercetus permintaan dari TNI AD agar In­donesia memiliki latihan dalam rangka melatih calon-calon pa­sukan yang akan terlibat dalam kontingan Garuda dengan ma­teri sesuai SGTM (Standard Generic Training Module) sebelum diberangkatkan ke Misi PBB yang sebenarnya.

Permintaan TNI Angkatan Darat tersebut direspon oleh USPACOM sehingga pada ta­hun 2007 untuk pertama kali­nya diselenggarakanlah Garuda Shield 01/07 di Divisi Infanteri 1 Kostrad Cilodong, dengan materi CPX, Geladi Posko setingkat Bri­gade gabungan yang beroperasi dalam tingkat staf Sektor Misi PBB. Dengan kesuksesan Ga­ruda Shield 01/07 maka pada tahun berikutnya dilaksanakan kembali Latihan Garuda Shield 02/08 yang diselenggarakan Ko­dam Jaya dengan materi yang sama setingkat Brigade pada Sektor Misi.

Perlu diketahui, dalam satu tahun USPACOM melaksanakan seluruh latihan GPOI di ber­bagai negara seluruh kawasan Asia Pasifik dan memilih salah satu latihan sebagai latihan pun­cak yang dinamakan Capstone. Garuda Shield 03/09 yang lalu merupakan event Capstone, latihan puncak di kawasan Asia Pasifik, sehingga kerjasama bu­kan lagi bilateral namun menjadi multilateral dengan  melibatkan 22 negara.  Materi  yang dilatih­kan pun berbeda dengan dua latihan Garuda Shield sebelum­nya, yakni ada tambahan ma­teri FTX, yaitu latihan drill teknis setingkat peleton. Untuk latihan CPX diselenggarakan di Padalarang Bandung dengan ma­teri 1 tingkat lebih tinggi yakni pada level United Nations Force HQUNFHQ  sedangkan FTX di­laksanakan di Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat.

Pada Garuda Shield 04/10 diselenggarakan Kodiklat TNI AD dan  pelaksanaan  CPX   hanya  bersifat  bilateral  antara Indone­sia-Amerika.  Adapun untuk ma­teri CPX diturunkan 1 tingkat le­bih rendah, kembali seperti awal pelaksanaan Garuda Shield yak­ni Misi PBB setingkat Sektor Misi dan pelaksanaannya bertempat di Padalarang Bandung. Sedang­kan FTX, dilaksanakan di Pusdikif Cipatat dengan melibatkan lima negara sebagai peserta latih­an. Pada Garuda Shield 04/10 mulai diadakan CIMIC (Civil Military Coordinations)/program HCA (Humanitarian Cwic Action) diantaranya program ENCAP yang mana konsep dasarnya mi­rip seperti TMMD (TNI Manung­gal Membangun Desa) dan MEDCAP (Medical Civic Actions Programs) yang mirip Program Pe­ngobatan Massal.

Tahun   2011,    pelaksanaan   CPX   Garuda   Shield 05/11 dilak­sanakan berbeda tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu dilaksanakan di kompleks mili­ter tepatnya di Pusdikzi, Bogor. Hal ini dikarenakan GPOI tidak lagi memberikan bantuan dana, sehingga mulai tahun 2011 pro­gram ini hanya dibiayai oleh kedua belah pihak saja, USARPAC dan TNI. Perubahan  terse­but   membuat   konsep   latihan   ini  kembali ke  konsep   asal   yak­ni   latihan    bilateral   Indonesia-Amerika (TNI AD dan USARPAC). Adapun yang berbeda pada ma­teri CPX yakni penambahan pelaku setingkat Batalyon seba­gai Player dalam rangka penyi­apan unsur inti Satgas UNIFIL yang akan bertugas di Libanon pada tahun tersebut dengan dua tingkat yang dikendalikan, yak­ni pada  level  Brigade (Sector Le­vel) dan level Batalyon (Battalion Level). Untuk progam FTX dan HCA tetap, dilaksanakan seper­ti tahun sebelumnya.

Tahun ke-6,  yaitu  tahun 2012,  pelaksanaan  Garuda  Shield di­laksanakan di Malang dengan penyelenggara Divif 2 Kostrad, dilaksanakan di kompleks mili­ter tepatnya PLDC (Patriot Leadership Development Center), Pusdik Belanegara, Rindam VBrawijaya. Konsep CPX dikem­balikan ke konsep asal yakni hanya  1  tingkat  saja,  level  Bri­gade  (Sector Level).  Untuk pro­gam FTX dan HCA tetap dilaksanakan seperti tahun-tahun se­belumnya.

Sedangkan pelaksanaan latih­an Garuda Shield yang ke-7 ta­hun 2013 dilaksanakan di Depo Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam V/Brawijaya dan Pusat Latihan Tem­pur Marinir (Puslatmar), Situ­bondo dan dibagi menjadi Kolat Gabungan (CTOX), Geladi Posko (CPX), Geladi lapang (FTX), Pener­bang (Aviation) dan Kesehatan (Medical) serta kegiatan Bhakti sosial dilaksanakan selama 1 bulan mulai 1 September sam­pai dengan 30 September 2013.

Dalam  pelaksanaan  Latma  Ga­ruda  Shield   Tahun  2014 meru­pakan yang ke-8, pelaksanaan­nya difokuskan pada beberapa materi latihan. Pertama, materi operasi perdamaian (PBB) den­gan metode Gladi Posko (CPX). Selanjutnya, peserta yang ber­beda akan melaksanakan Lati­han Geladi Lapang (FTX) dengan materi Operasi Lawan Insurjensi. Yang ketiga, materi perawatan dan evakuasi kesehatan bagi per­sonel kesehatan, dan yang ter­akhir adalah latihan bersama personel Penerbad atau Aviation dalam operasi taktis dengan ban­tuan serangan udara.

Hingga saat ini, Garuda Shield telah terselenggara sebanyak sembilan kali, dan sukses mem­berikan pengalaman bagi Perwi­ra Angkatan Darat kedua nega­ra dalam hal proses pengambilan keputusan dengan mengguna­kan MDMP, sehingga jika ked­ua Angkatan Darat dilibatkan dalam satu wilayah untuk men­jaga perdamaian terhadap nega­ra yang sedang berkonflik maka diharapkan tidak terjadi kesala­han  prosedur dan  tidak memak­an waktu yang lama dalam me­mutuskan cara bertindak yang benar. Tidak hanya memperoleh ilmu tentang MDMP saja bagi peserta yang tergabung dalam CPX, namun para peserta latihan lainnya yang tergabung dalam kelompok FTX dan ENCAP akan mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ruang lingkup organisasi dan tugas-tugas yang ada di PBB serta pengetahuan tentang orga­nisasi, prosedur, aturan dan hu­kum-hukum yang berlaku dalam suatu misi PBB beserta unsur NGO pendukung lainnya.

Secara, umum, dari pelaksa­naan latihan Garuda Shield dapat ditarik kesimpulan bahwa lati­han ini telah memberikan peserta latihannya suatu wawasan yang luas, pengetahuan taktik, teknik militer yang terbaru dari penga­laman aplikatif yang didapat­kan oleh US Army saat melak­sanakan penugasan misi PBB di berbagai belahan dunia, dan se­cara khusus perwira-perwira TNI AD yang terlibat langsung dalam CPX mendapatkan pengetahuan, pengalaman dan wawasan luas tentang mekanisme pelaksanaan gladi posko, proses pengambi­lan keputusan yang lazim digu­nakan oleh militer negara-negara maju di dunia, sehingga sangat memungkinkan untuk terjadi­nya percepatan    kemajuan    pada     TNI   AD     dalam   kesetaraan pengetahuan militer, kemampuan militer, modernisasi manajemen militer, modernisasi sistem ko­munikasi, modernisasi  sistem   pembinaan  latihan dengan  mi­liter negara-negara maju di du­nia.(Sumber: HU Pelita)

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel