TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

DIGDAYA di Kawasan Regional

By 09 Feb 2016 12:49Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Paradigma pertempuran akan bergeser dari mandala yang disiapkan dan tidak berpenghuni, menjadi mandala perang di daerah perkotaan yang berpenduduk.

Hanya Indonesia, Filipina, Brunei Darussalam, Timor Leste, dan Papua New Guinea yang belum memiliki tank kelas berat (MBT). Kekuatan tank yang dimiliki Indonesia masih di bawah rata-rata kemampuan yang dimiliki sebagian besar negara di kawasan regional sekitar Indonesia.

Dan baru Singapura dan Australia yang memiliki kendaraan tempur MBT jenis Leopard. Kedua negara tersebut kini menjadi negara yang diperhitungkan di kawasan regional.

Itulah hasil kajian Pusat Kesenjataan Kavaleri pada 2012 tentang kemampuan negara-negara di kawasan regional yang belum memiliki tank kelas berat. Saat itu Indonesia belum memiliki MBT, kata Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav), Brigadir Jenderal Anang Dwitono, di ruang kerjanya di Bandung pada tanggal 25 Januari 2016 lalu.

Ya, kondisi kendaraan tempur (ranpur) satuan Kavaleri TNI AD (Kavad) sebelum kedatangan tank Leopard, secara umum sangat memprihatinkan. Sebagian besar sudah berusia sangat tua. Dalam tabel organisasi dan peralatan TNI AD, dari sekitar 1.058 unit ranpur yang dimiliki peralatan kavaleri, hanya sekitar 15,9 persen yang tergolong ke dalam alat utama sistem senjata (alutsista) baru. Atau dibuat di atas tahun 1980. Sedangkan sisanya sekitar 84,1 persen adalah alutsista yang sudah tua dengan tahun pembuatan sebelum atau di bawah tahun 1980.

Adapun kondisi siap operasional seluruh ranpur satuan Kavad hingga tahun 2012, hanya sejumlah 598 unit atau sebanyak 56,52 persen. Ranpur Kavad yang dimiliki dikategorikan ke dalam ranpur tank dan panser. Dengan kondisi tersebut, peremajaan atau rematerialisasi ranpur secara bertahap merupakan pilihan yang mutlak. Hal ini penting agar satuan kavaleri menjadi kekuatan pertahanan yang dapat diandalkan oleh TNI AD sebagai salah satu satuan manuver, ujar Anang yang pernah menjadi komandan Pusdik Kavaleri.

Kepala Puskom Publik Kemenhan, saat itu Brigadir Jenderal Sisriadi menyatakan, pada kuartal terakhir 2013 telah ditandatangani kontrak pembelian tank, kendaraan Infanteri antara Indonesia dan Jerman. Dalam kontrak tersebut disebutkan, jumlah tank yang akan dipasok oleh Rheinmetall adalah 103 tank Leopard 2 upgrade (ditingkatkan kualitasnya), terdiri atas 42 Leopard 2A4 dan 61 Leopard 2RI, 42 kendaraan Infanteri Marder 1A3 upgrade, dan 11 kendaraan recovery dan engineering untuk satuan Zeni dari stok Angkatan Darat Jerman.

Rencana Indonesia membeli tank Leopard, sempat menggemparkan pemberitaan dalam dunia militer. Hal ini setelah parlemen Belanda menolak penjualan tank bekas tersebut ke Indonesia, padahal sudah melampaui batas waktu yang ditetapkan. Akhirnya Pemerintah Indonesia, beralih memesan tank baru Leopard 2A4 serta Leopard 2RI dari Jerman. Tank Leopard 2RI (Republik Indonesia) merupakan paket upgrade Leopard 2 Revolution yang disesuaikan dengan keinginan TNI AD. Dua unit pengiriman pertama Leopard 2A4 berbarengan dengan dua unit Marder 1A3 telah mendarat di Jakarta pada tanggal 23 September 2013.

Kendaraan tempur itu langsung ambil bagian dalam perayaan HUT TNI 5 Oktober 2013. Selanjutnya, pada Agustus 2014 telah datang kiriman 52 kendaraan dari Jerman yang terdiri atas 24 Leopard 2A4 dan 28 IFV Marder. Pada awal September 2015 datang lagi 25 kendaraan yang terdiri atas 14 unit MBT Leopard 2A4, dua unit Leopard AEV2 Kodiak, dua unit Leopard ARV2 Buffel, satu unit Leopard AVLB, dan enam unit Marder 1A3. Sedangkan kendaraan engineering dan recovery sudah terkirim lima unit.

Menyusul kemudian 61 MBT Leopard 2RI/Revolution, enam IFV Marder 1A3, dan enam kendaraan engineering dan recovery. Berdasarkan data dari Kementerian Pertahanan, menurut jadwal, Rheinmetall akan mengirimkan seluruh pesanan pada kuartal keempat 2016.

Tantangan kavaleri

Satuan Kavaleri di masa mendatang, menurut Brigjen Anang, akan menghadapi tantangan yang berbeda. Bukan lagi dalam bentuk pertempuran di masa lalu yang relatif linier atau datang dari arah depan dan menggunakan taktik konvensional. Melainkan bertempur di daerah berpenduduk. Paradigma pertempuran akan bergeser dari mandala yang disiapkan dan tidak berpenghuni, menjadi mandala perang di daerah perkotaan yang berpenduduk. Hal ini merupakan tantangan yang harus mampu diselesaikan oleh satuan Kavaleri TNI AD.

Jadi ada tuntutan bertempur di medan yang relatif tertutup bangunan, serta mampu mengatasi kendala medan dan menghadapi tank musuh dengan teknologi tinggi. Termasuk menggunakan perlindungan yang sangat baik. Itulah tantangan yang perlu dijawab melalui penyiapan prajurit dan satuan kavaleri secara baik, ujar Anang.

Di samping itu, kata jenderal kelahiran Mojokerto, 22 Juli 1962 tersebut, faktor ketelitian atau akurasi penembakan menjadi sangat penting. Sebab, keberhasilan melumpuhkan kekuatan utama musuh khususnya ranpur MBT, menjadi penentu utama keberhasilan pertempuran. Sehingga keberadaan ranpur MBT sangat dibutuhkan satuan kavaleri TNI AD.

Di sisi lain, pertempuran juga akan menghadapi medan bervariasi. Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam berupa daerah hutan, perkotaan, rawa-rawa, perairan dan pegunungan, merupakan daerah yang sangat bervariasi. Sehingga perlu penyesuaian terhadap medan tersebut. Di samping pengadaan ranpur heavy tank (tank kelas berat) jenis MBT, kavaleri juga masih memerlukan jenis medium tank (tank kelas sedang) dan light tank (tank kelas ringan).

MBT adalah jenis ranpur penggempur yang memiliki klasifikasi kelas berat atau kelas medium dengan kapabilitas menghasilkan daya kejut dan daya gempur yang dasyat. Klasifikasi kelas berat memiliki berat di atas 40 ton, dipersenjatai kanon kaliber 120 mm atau 125 mm. Klasifikasi kelas medium memiliki berat antara 15-40 ton, dipersenjatai kanon kaliber 90 mm atau 100 mm atau 105 mm.

Klasifikasi kelas ringan memiliki fungsi pengamanan, angkut personel atau logistik/administrasi. Beratnya maksimal 15 ton, dengan senjata SMS atau SMB atau maksimal kanon 30 mm. Kebutuhan jenis ranpur disesuaikan dengan medan dan musuh yang dihadapi. Untuk itu TNI perlu menyetarakan kemampuan tempur darat dengan dengan mendatangkan alat utama sistem senjata yang memadai dengan negara kawasan Tujuannya agar Indonesia memiliki posisi tawar yang seimbang dengan negara kawasan. Sampai saat ini, ada sejumlah jenis MBT yang terbaik dan sudah terbukti kehandalannya di medan operasi dari masa ke masa. Di antaranya MBT Leopard, Jerman dan Abrams, Amerika Serikat, ujar lulusan Lemhannas 2013 itu.                (Sumber: HU Republika)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

DIGDAYA di Kawasan Regional