TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Imlek 2567: Perayaan Multikultur yang Sederhana

By 11 Feb 2016 12:01Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-1

Yati (40) tertegun saat sua­minya, Eri (40), penge­mudi becak di Pinang Ba­ris, Medan, memberikan dua potong kecil ayam goreng ke­padanya Ayam goreng itu di­masukkan ke dalam plastik be­kas gelas air mineral. Yati sem­pat bingung. Tampaknya suami Yati tidak memakan ayam go­rengnya sehingga ia membung­kus dan memberikan kepada is­trinya untuk dibawa pulang.

Yati dan Eri, Senin, 8 Februari 2016, di­jamu makan siang oleh tokoh multikultur Kota Medan, Sofyan Tan, pada open house perayaan tahun baru Imlek 2016 di rumah Sofyan di Kompleks Taman Kasuari, Medan.

Ratusan warga bersama Men­teri Hukum dan HAM Yasona Laoly, Pelaksana Tugas Guber­nur Sumut Tengku Erry Nuradi, Kepala Kepolisian Daerah Su­mut Inspektur Jenderal Ngadino, Panglima Daerah Militer I Bukit Barisan Major Jenderal TNI Lodewyk Pusung, Wali Kota Medan terpilih Zulmi Eldin, dan sejumlah tokoh masyarakat Sumut menikmati hidangan se­derhana. Makanan yang tersedia di empat meja prasmanan ada­lah ayam goreng, taoco, gulai nangka, dan kerupuk.

Sofyan, yang kini anggota Ko­misi VII DPR dari PDI-P dan lebih sering di Jakarta, tetap menggelar open house di Medan. Tiga tahun ini saya datang ka­lau Rak Sofyan Tan open house, kata Yati, perempuan Jawa yang berhijab.

Ratusan tamu dari berbagai kalangan hadir sejak pukul 12.00 hingga pukul 18.00. Tetangga saya bahkan tadi datang bersa­ma lima anaknya, tutur Yati.

Tamu pejabat duduk di ruang tamu keluarga yang tidak terlalu lebar, sedangkan warga duduk di deretan kursi merah yang disu­sun di jalan depan rumah Sof­yan Tan. Semua nyaman dijamu makan sederhana, tak ada yang istimewa.

Keistimewaan yang terjadi justru pada terasanya kekayaan multikultur di Medan dalam makan siang itu. Sofyan Tan yang Tionghoa dan beragama Buddha mendapat ucapan sela­mat tahun baru dari beraneka suku yang ada di Medan, seperti Tionghoa, Melayu, Jawa, Batak Toba, Karo, Nias, Mandailing, Simalungun, Pakpak, India, dan Padang. Semua hadir merayakan kedatangan .Tahun Monyet Api. Pemeluk Islam,  Kristen Protes­tan, Katolik, Hindu, dan Buddha memberikan selamat. Tukang becak hingga gubernur.

Sofyan mengatakan, ia tak pernah membagi angpao saat perayaaan Imlek untuk  masya­rakat Mereka hadir bukan ka­rena uang, katanya. Semua ha­dir untuk mengucapkan selamat tahun baru. Gong Xi Fat Chai.

Namun, yang lebih tinggi da­ripada itu adalah perayaan akan  kehidupan multikultur di Me­dan yang terjaga harmonis.

Badan Pusat Statistik Sumut dalam demografi.bps.go.id Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa sehari-hari penduduk Indonesia menyebut­kan, belasan suku ada di Sumut. Suku Batak menjadi suku ter­banyak dengan jumlah 5,7 juta orang. Namun, BPS mengga­bungkan laporan Batak sebagai satu kesatuan,meskipun sejati­nya terdiri dari Batak Toba, Ka­ro, Simalungun, Mandailing, Pakpak Dairi, Angkola, Tapanuli, dan Dairi. Tradisi dan kebudayaan masing-masing su­ku ada perbedaan.

Suku Jawa 4,3 juta jiwa, Me­layu (771.600), Tionghoa (340.300), dan suku lain seperti India, Banten, Sunda, Cirebon, Madura, Dayak, Papua, dan lain­nya berjumlah ribuan orang. Medan adalah kota bercampurnya suku-suku itu.

Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Usman Pelly mengatakan, tidak ada suku dominan di Medan. Domi­nan dalam hal ini adalah jum­lahnya terbanyak,  menguasai  perekonomian, dan memiliki ke­budayaan yang dominan. Ber­beda dengan daerah lain yang punya suku dominan, suku lain yang masuk ke daerah itu akan luluh mengikuti suku dominan. Di Medan, semua suku tumbuh bersama membentuk kebudaya­an sendiri, budaya Medan, yang egaliter dan toleran. (Sumber: HU Kompas)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Imlek 2567: Perayaan Multikultur yang Sederhana