TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Serda (K) Ni Luh Gede Yeni Wahyu Dewi, Kowad Perkasa Pendulang Medali Emas

By 04 Feb 2016 09:31Bilik Prestasi
tinju-i-gede

“Selagi peluang membentang di depan mata, maka songsonglah peluang tersebut dengan semangat pantang menyerah, hidup merupakan perjuangan yang harus disikapi dengan optimis”. Kata bijak yang menjadi motto hidup tersebut terlontar dari seorang prajurit Kowad bernama Serda (K) Ni Luh Gede Yeni Wahyu Dewi yang merupakan anggota Paldam III/Siliwangi.

Dara manis kelahiran Desa Sembung, Bali, 24 Mei 1992 yang merupakan abituren Secaba PK XX tahun 2012 ini adalah satu-satunya anggota Kowad yang mampu meraih medali emas dan meraih gelar The Best Boxer Women Indonesia tahun 2013. Prestasi itu ia raih pada event akbar Kejuaraan Nasional Sarung Tinju Emas Piala Pangdam I/BB 2013 di kota Medan Sumatera Utara. Serda (K) Ni Luh Gede Yeni Wahyu Dewi yang biasa dipanggil dengan nama Yeni oleh teman-temannya ini merupakan petinju andalan dari Sasana Tinju Siliwangi Boxing Camp Kodam III/Siliwangi, yang juga tercatat sebagai Atlet Tinju Pelatda PON Jawa Barat yang diproyeksikan merebut Medali Emas dari Cabang Tinju Kelas 57 Kg Putri pada PON XIX tahun 2016 mendatang bagi kontingen Jawa Barat.

tinju1

Target medali emas pada PON XIX tahun 2016 yang dibebankan dipundaknya tidak mustahil dapat diraihnya mengingat prestasi yang telah diukir serta pengalamannya ikut dalam berbagai event Kejuaraan Tinju sejak tahun 2007, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional yang selama ini cukup menjanjikan peluang, ditambah dengan kerja keras dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri serta tekad untuk mempersembahkan yang terbaik bagi dunia olah raga khususnya tinju. Bakat bertinju yang mengalir pada diri Yeni berasal dari sang ayah I Made Nada, yang juga mantan petinju amatir Provinsi Bali. Pada saat sang ayah melakukan latihan dan pertandingan, Yeni kecil selalu hadir mendampinginya.

Sebelum terjun ke dunia tinju Yeni telah aktif terlibat pada olah raga beladiri Pencak Silat. Namun olahraga Pencak Silat yang ditekuninya tidak memberikan kesan mendalam. Yeni pernah mengikuti lomba Pencak Silat mewakili sekolahnya SMA-1 Mengwi Bali, tetapi pada lomba itu ia mengalami kegagalan dan tidak memperoleh tropi sama sekali. Dalam situasi yang agak mengecewakan, lalu sang ayah menyarankan agar Yeni mencoba berlatih tinju. Gayungpun bersambut, Yeni pada saat itu langsung tertarik dengan saran sang ayah tercintanya. Sejak itulah dibawah bimbingan sang ayah hari demi hari dilaluinya dengan berlatih tinju, dan semakin lama bakat tinjunya pun semakin terlihat dan semakin terasah. Rutinitas berlatih dengan sang ayah yang dilakukan dari hari ke hari membuatnya semakin jatuh cinta pada cabang olah raga tinju yang di Indonesia lazim dilakukan oleh kaum pria tersebut.

Kecintaannya terhadap olahraga tinju bukan tanpa kendala, karena sang ibu Ni Wayan Suwarni yang berprofesi sebagai penjahit, belum mengiklaskan putrinya menggeluti cabang olahraga “keras” seperti tinju. Yeni, anak pertama dari tiga bersaudara mengutarakan alasan mengapa sang ibu menolak pilihan hobinya itu.

Sang ibu memandang olahraga tinju tidak sesuai dengan kodrat wanita, sangat bertolak belakang bagi wanita yang identik dengan kecantikan, keindahan serta kelembutan. Karena bertinju dapat berakibat wajah menjadi lebam dan berdarah akibat pukulan petinju, tuturnya menirukan ucapan sang ibu. Bahkan tidak jarang ayah dan ibunya berselisih paham hanya karena pilihan olah raga tinju. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya sang ibundapun merestui keinginan kuat Yeni untuk terus menekuni olahraga ‘adu jotos” ini. Apalagi selama berlatih keselamatan fisik dan jiwa terjaga dengan baik, sehingga apa yang menjadi kekhawatiran sang ibu tidak terbukti. Yang lebih membuat sang ibu rela putri kesayangannya bergelut di dunia tinju adalah prestasi yang telah diraih oleh Yeni, justru menimbulkan rasa bangga bagi keluarganya.

Menurut Serda (K) Yeni, olah raga tinju bukanlah olahraga yang keras dan menakutkan untuk digeluti oleh perempuan. Selama petinju mengetahui dan menguasai teknik dasar bertinju dengan benar, kita tidak akan mengalami cedera fatal yang mengancam keselamatan jiwa. Tinju justeru dapat melatih kebugaran stamina dan jiwa kita, memupuk semangat juang pantang menyerah dan berani menghadapi resiko serta mengendalikan nafsu amarah. Yeni mengungkapkan dukanya ketika badan letih, sakit-sakit dan wajah sedikit lebam dan melawan berat badan yang naik menjelang pertandingan. Targetnya adalah bertanding di kelas ideal 57 kg, sehingga harus menjaga berat badan agar tetap ideal untuk bertanding. Bila sampai beratnya melebihi, hal itu merupakan masalah besar yang harus segera diatasi dan disesuaikan.

Hal yang menyenangkan bagi dirinya yaitu pada saat mengikuti pertandingan bisa meraih kemenangan dan meraih prestasi terbaik yang mampu mengangkat nama baik keluarga, satuan, dan daerah yang dibelanya. Diawali pada tahun 2007 saat duduk di kelas I SMA, ia mengikuti Kejuaraan Nasional Marinir Cup di Jakarta di kelas 57 kg. Pada Kejurnas yang baru pertama kali di ikutinya, Yeni berhasil meraih medali emas. Sontak saja peraihan medali emas pada ajang tersebut membuat bangga tidak saja bagi diri Yeni pribadi, tetapi juga kedua orang tuanya dan orang-orang terdekatnya. Dia berkeyakinan bahwa tinju adalah salah satu pilihan yang pantas digeluti oleh kaum Hawa dan terbaik bagi kehidupannya di masa datang.tinju2

Prestasi yang telah berhasil dihimpun Serda (K) Yeni selama berkarier di dunia tinju diantaranya adalah peraih Medali Emas Kejurnas Marinir Cup di Jakarta 2015, Medali Emas Sarung Tinju dan Gelar Petinju Terbaik Wanita se Indonesia di Denpasar Bali, Medali Emas Kejurnas di Aceh, Medali Emas Pra PON XVIII 2013 di Papua, Medali Emas Sarung Tinju Emas di Medan Sumut 2013, The Best Boxer Woman pada Kejurnas Piala Pangdam I/BB di Medan 2013, Medali Emas Piala Bupati Banjarnegara-II 2012 Jawa Tengah, Medali Emas Porda Jabar 2014 di Bekasi, dan Gelar Petinju Amatir Terbaik Wanita Indonesia Februari 2015. Prestasi Yeni terus gemilang. Kejuaraan demi kejuaraan yang diikutinya diraihnya dengan kemenangan. Prestasi tinju juga telah mengantarkannya menjadi prajurit Kowad, serta memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Ia rela melepas statusnya sebagai Mahasiswa Semester V di IKIP PGRI Denpasar Bali, demi untuk menjadi Prajurit Kowad.

Dia berobsesi meraih prestasi terbaik dalam berbagai kejuaraan tinju, walau untuk meraih itu membutuhkan kerja keras, mengorbankan waktu dan tenaga untuk berlatih 4 jam setiap hari, pagi 2 jam dam sore 2 jam. Yeni berharap tinju mampu mendorong kariernya menjadi Perwira Kowad di kemudian hari, sekaligus ia berharap bisa menghadiahkan rumah bagi orang tua dan adik-adik tercintanya di Bali. Serda (K) Yeni tak lupa menyampaikan terima kasih kepada Komandan dan Pimpinan dimana ia mengabdikan diri atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya untuk melaksanakan aktivitas tinju di selasela tugasnya sebagai prajurit Kowad. Tak lupa juga ucapan terima kasih kepada rekan seprofesi dan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan untuk terus berkarya, meraih prestasi terbaik di dunia tinju. Yeni juga berpesan dan mengajak anggota Kowad untuk tidak khawatir terjun menekuni dunia tinju.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Serda (K) Ni Luh Gede Yeni Wahyu Dewi, Kowad Perkasa Pendulang Medali Emas