TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Winarsih, Kartini Modern Jago Tembak

By 04 Feb 2016 09:06Bilik Prestasi
kartini

Ora et Labora adalah sebuah adagium klasik dari para kaum agamis tertentu yang hidup menyepi dalam keheningan doa dan menghidupi diri mereka dengan tetap bekerja melalui kerajinan tangan. Ora artinya berdoa. Labora artinya bekerja. Jika hanya berdoa saja memang tidak bisa mengubah keadaan. Dengan bekerja saja, tanpa berdoa, tidak ada spirit yang menjiwai kerja. Meskipun hal itu merupakan “motto” usang, namun sangat relevan digunakan untuk memotivasi diri demi menggapai kesuksesan yang diharapkan.

Tak terkecuali, Kartini modern bernama Sertu (K) Winarsih yang kini tengah mereguk buah manis hasil kerja keras menekuni kegiatan menembak, mengaku selalu memegang prinsip “Berdoa dan Bekerja Keras”. Karena menurutnya suatu keberhasilan tidak akan terwujud tanpa adanya usaha dan berdoa, serta dalam usaha harus diwujudkan dengan berlatih tanpa mengenal lelah. Tidak ada orang yang hebat, yang ada hanya orang-orang yang terlatih, ungkap Sertu (K) Winarsih sambil membersihkan senjatanya seusai melakukan latihan menembak di Lapangan Tembak Denintel Dam IV/Diponegoro, Semarang, ketika berbincang dengan Redaksi Majalah Palagan.

Gadis desa kelahiran Kebonromo Kec. Ngrampal Kab. Sragen Jawa Tengah 17 Maret 1985 ini merupakan putri dari pasangan Bapak bernama Sukidi Hadiwiyono dan Ibu Suwarti. Kedua orang tuanya dimasa lalu merupakan keluarga pekerja keras yang gigih demi menafkahi ketiga anaknya dengan harapan agar memiliki masa depan yang lebih baik. Dengan modal seadanya kedua orang tua Winarsih berjualan kelontong di pasar sebagai sumber nafkah.

Sejak kecil ia sudah dididik bekerja keras, didikan yang keras menjadikannya sejak awal SD sudah mampu membaca dan menulis. “Alhamdulillah berkat kerja keras dan doa yang dipanjatkan orangtua, kakak tertua, saya bisa merasakan hasil kerja keras itu,” kata Winarsih. Kakak pertama Winarsih (laki-laki) berhasil menjadi Perwira TNI AD yang sekarang berdinas sebagai Perwira Utama di BAIS TNI Jakarta. Kakak kedua Winarsih (wanita) sekarang sudah menjadi bidan desa di Kampung Sragen dan Winarsih selaku anak paling bungsu memilih berkarier mengikuti jejak kakak pertamanya dengan menjadi anggota Korp Wanita Angkatan Darat (KOWAD). Dengan bermodalkan kerja keras dan doa yang terus menerus dipanjatkan serta laku prihatin kedua orang tua, Tuhanpun mewujudkan harapan kedua orang tua dengan menjadikan ketiga anaknya sebagai putra-putri yang membanggakan.

Awal kisah Winarsih menjadi anggota Kowad dimulai dari keinginan kuatnya mengikuti jejak sang kakak yang telah lebih dahulu menjadi prajurit. Tiba pada suatu kesempatan Winarsih pun bersaing dengan peminat sebayanya untuk mengikuti seleksi penerimaan calon Bintara Kowad di desanya. Keberuntungan ternyata berpihak kepadanya karena ia berhasil melampaui beberapa tahapan dan dinyatakan lulus seleksi.

Selanjutnya Winarsih melaksanakan pendidikan dasar militer di Pusat Pendidikan Kowad Lembang selama lima bulan. Setelah lulus dilanjutkan dengan kursus kecabangan Bintara Zeni di Pusdikzi Bogor selama empat bulan. Seusai mengikuti pendidikan kejuruan selanjutnya ia dipercaya untuk mengikuti kursus Intelijen selama 3 bulan di Pusdik Intel Ciomas Bogor pada tahun 2007. Berbekal ilmu demolisi dan intelijen inilah yang mengantarkan dirinya bertugas di Satuan Deninteldam IV/Diponegoro sampai sekarang.

Selama melaksanakan pendidikan ada rasa bangga yang kuat memotivasi semangatnya karena ada anak seorang pedagang sederhana dari kampung yang bisa menjadi seorang anggota TNI AD. Dari kondisi itulah yang semakin memicu semangat Winarsih berjanji akan berusaha memberikan yang terbaik buat negara, dan akan selalu berusaha membanggakan kedua orang tuanya. Pada tanggal 18 Februari 2006 Winarsih secara resmi dilantik menjadi anggota Kowad berpangkat Sersan Dua.

Di awal karir sebagai prajurit wanita, ia tidak ingin perjalanan pengabdiannya di TNI AD berlalu biasa-biasa saja. Ia ingin sepanjang menjalankan tugas dilalui dengan penuh tantangan dan prestasi. Berbagai informasi tentang olah raga berusaha diperolehnya dan akhirnya diputuskan untuk mencoba bergabung ke cabang olahraga bola voli.

Dengan penuh semangat dan kerja keras Winarsih yang bercita-cita menjadi atlet Angkatan Darat, seusai jam kerja meluangkan waktu 2 sampai 3 kali seminggu berlatih voli di sebuah club voli. Jarak antara mess kowad dengan tempat latihan voli biasa ditempuh satu jam dengan sepeda motor. Setelah berlatih dengan serius selama 2 tahun lebih, akhirnya Winarsih terpilih menjadi pemain voli professional. Pada tahun 2009 ia mendapat kepercayaan untuk mengikuti kejuaraan voli antar matra dalam rangka memperebutkan “Panglima TNI Cup”.

Prestasinya di bidang olah raga voli dapat dibilang cukup baik, akan tetapi sebagai seorang prajurit dituntut harus dapat melaksanakan kegiatan apapun sesuai perintah. Pada akhir tahun 2009 Winarsih mendapatkan perintah dari pimpinannya untuk mengikuti seleksi menembak dalam rangka menghadapi turnamen menembak “Piala Kasad”. Agak sedikit berlawanan memang dengan olah raga voli, namun karena ia adalah seorang prajurit yang patuh dan taat kepada perintah atasan, maka dengan penuh rasa tanggung jawab perintah itu dilaksanakan.

Dari beberapa puluh anggota Kowad Kodam IV yang mengikuti seleksi, Winarsih masuk dalam 6 besar dan mendapat kepercayaan Komandan mengikuti pemusatan latihan menembak. Dalam turnamen perdana yang dilaksanakan bulan Februari 2010 Winarsih yang telah berupaya sekuat tenaga melakukan yang terbaik, namun karena kurangnya pengalaman harus mengakui keunggulan lawan dan belum bisa mendapatkan medali perorangan ataupun team. Pada pertengahan tahun 2010 tepatnya bulan Mei, Winarsih kembali mendapatkan surat perintah untuk mengikuti seleksi lomba menembak AARM (Asean Armies Rifle Meet) di Malaysia. Perasaan senang bercampur takut dan cemas berkecamuk di benaknya karena lomba menembak dirasakan masih merupakan kegiatan baru, sementara para petembak senior yang memiliki kemampuan lebih baik dan telah beberapa kali mengikuti kejuaraan tidak berhasil lolos seleksi.

Namun dengan semangat dan latihan keras serta rasa optimisme yang tinggi Winarsih berupaya melakukan yang terbaik. Alhasil dari 20 petembak pistol putri terbaik se Indonesia, Winarsih masuk dalam 6 besar petembak terpilih dan berangkat ke Malaysia. Hasil dari lomba menembak di Malaysia, Winarsih belum mampu meraih prestasi dalam kelas perorangan, akan tetapi dalam lomba menembak tim ia ikut menorehkan prestasi. Winarsih pernah memendam rasa khawatir pada suatu saat nanti akan menerima dua perintah mengikuti lomba voli dan menembak dalam waktu yang bersamaan. Ternyata apa yang menjadi kekhawatiran itu akhirnya terjadi juga, tepatnya pada awal Februari 2011 ia mendapatkan surat perintah untuk bergabung di training center voly dalam rangka PORAD (Pekan Olahraga Angkatan Darat) di Surabaya.

tembak1 Pada saat pemusatan latihan voli sedang berlangsung, pada bulan Mei 2011 ia kembali mendapatkan surat perintah untuk mengikuti seleksi menembak AARM di Jakarta. Pada saat itu ia sempat bingung mendahulukan yang mana. Tapi atas keputusan bersama dari komando atas Winarsih diperintahkan untuk melaksanakan seleksi menembak AARM di Jakarta. Setelah satu bulan berlangsung kembali Winarsih mendapatkan perintah dari Kodam IV untuk mengikuti pertandingan bola voli mewakili kodam IV di ajang Porad Surabaya. Rasa bangga bercampur sedih dirasakannya karena Winarsih harus mondar mandir Jakarta-Semarang-Surabaya beberapa kali seorang diri. Tak terbayangkan bagaimana seorang wanita berjuang seorang diri dengan segenap tenaga, dilakukan demi membela kehormatan bangsa dan negara yang dicintainya. Di tengah kecamuk kekecewaan seketika timbul keyakinan bahwa perjuangan yang sedang berjalan merupakan langkah awal menuai keberhasilan. Prajurit tidak boleh cengeng, kepercayaan yang diberikan tidak boleh disia-siakan, berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, gumamnya dalam hati.

Perjuanganpun tidak sia-sia, karena pada kedua cabang olah raga yang digeluti semuanya mendapatkan prestasi yang membanggakan. Pada tahun 2012 kembali Winarsih mengikuti seleksi dalam rangka lomba menembak AARM di Brunei dan ia kembali lolos seleksi. Dalam lomba tembak AARM di Brunei tersebut Winarsih berhasil membawa timnya meraih hasil yang menggembirakan. Rasa suka cita meraih prestasi di Brunei berlanjut hingga kembali ke tanah air, karena sepulang dari Brunei, Winarsih memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dipersunting oleh Kapten Inf Yuniar Kusumawardana, yang bertugas di Yonif 405/SK Banyumas. Angan-angan menjalani bulan madu setelah pernikahan belum dapat terlaksana karena Winarsih harus segera bergabung dengan pusat pelatihan menembak. Hingga tahun 2013, tahun pertama pernikahan, Winarsih masih mendapat support suami untuk mengikuti seleksi menembak AARM yang saat itu akan dilaksanakan di negara Myanmar.

Berkat doa dan ridho suami, disertai upaya kerja keras, Winarsih berhasil mempersembahkan medali emas perorangan petembak pistol putri Angkatan Darat terbaik se ASEAN, medali emas Match 1 dan beberapa medali team. Dari hasil yang diperoleh, Winarsih merasakan pengorbanan yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. Dan perolehan kali ini dirasakan sangat istimewa karena baik di nomor perorangan maupun di nomor beregu/team sama-sama meraih prestasi terbaik. Hal itu pula yang membuat Winarsih tak kuasa menahan air mata haru karena mampu membuat Sang Merah Putih berkibar di ujung tiang tertinggi diatas bendera negara ASEAN lainnya. Prestasi serupa berturut-turut diraihnya hingga kemarin AARM tahun 2014 di negara Vietnam, Winarsih masih mampu mempertahankan gelar juara I Perorangan Pistol Putri. Dua tahun berturut-turut trophy perorangan pistol putri masih bisa dipertahankannya, yang selama dua tahun sebelumnya 2011 dan 2012 selalu dipegang oleh Sgt Major Rachel Liaw petembak putri asal Singapore.

“Semua prestasi yang saya raih tidak terlepas dari orang-orang tercinta seperti suami, orang tua, keluarga, serta seluruh rakyat Indonesia yang selalu mendoakan demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia,” ucap Winarsih merendah. Lebih lanjut Winarsih mengungkapkan bahwa ketangguhannya di bidang Voli maupun menembak tidak serta merta melupakan kodratnya sebagai wanita. Ia masih menyimpan harapan besar ingin menjadi ibu dan istri terbaik bagi suami dan anaknya kelak.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Winarsih, Kartini Modern Jago Tembak