TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Bukan Tentara Biasa

By 07 Mar 2016 March 8th, 2016 Kliping
logo-tni-ad-featured-1600×900-3

OLEH SELAMAT GINTING

Awalnya hanya sebagai korps tentara cadangan umum, namun akhirnya Kostrad menjadi komando utama strategis TNI.

Belum genap 15 tahun Republik berdiri, tetapi pergolakan demi pergolakan bersenjata di sejumlah daerah seperti tiada henti. Kondisi itu membuat geram Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB) merangkap sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Memang sejumlah Komando Daerah Militer (Kodam) telah dibagi habis untuk melindungi sejumlah provinsi di Tanah Air. Namun, sebagai perwira tinggi paling senior di Indonesia, Nasution melihat ada beberapa kendala jika ada pergolakan di daerah. Karena itu. Kodam perlu dibantu pasukan dari pusat.

Unsur kedekatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), misalnya, kerap mempersulit penyelesaian konfik bersenjata, seperti kasus PKI Madiun, PRRI/Permesta, Kahar Muzakar, DI/TII, RMS, dan lain-lain. Belum lagi kendala geografis serta kecakapan prajurit yang akan ditugaskan ke daerah operasi.

Saya pikir Indonesia perlu memiliki sebuah komando militer yang memiliki mobilitas tinggi untuk bisa digerakkan ke daerah operasi dalam satu komando tentara. Sebuah korps tentara cadangan umum Angkatan Darat, kata Nasution dalam sebuah percakapan dengan penulis pada sekitar 1995 di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Apalagi, Indonesia sedang berkonflik dengan Belanda mengenai status Irian Barat. Belanda tetap mengakui Irian Barat masih menjadi bagian dari wilayahnya. Sehingga, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) harus mempersiapkan kemungkinan buruk, yakni bertempur untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Untuk menjangkau wilayah di ujung timur Indonesia itu tidak mudah. Diperlukan operasi khusus baik melalui udara maupun laut atau pantai untuk bisa masuk ke wilayah tersebut. Karena itu, diperlukan pasukan dengan kualifikasi penerjun payung (para/parasut) ataupun amfibi.

Ya. pasukan dengan kualifikasi para yang bisa bergerak cepat dengan logistik minimum ke medan operasi di sejumlah daerah gejolak bersenjata. Akhirnya pada 27 Desember 1960, jenderal bintang empat itu membentuk Korps Tentara (Korra) 1 Tjadangan Umum Angkatan Darat diberi akronim Tjaduad.

Ia memilih Brigadir Jenderal Soeharto sebagai panglima Korra 1 Tjaduad. Untuk pasukannya diambil dari tiga Kodam di Pulau Jawa yang memiliki kualifikasi para. Kualifikasi yang mampu diterjunkan dari pesawat terbang ke daerah operasi tempur. Misalnya, dari Kodam Siliwangi, batalion infanteri (yonif) 330 para, 328 para, dan 305 para; dari Kodam Diponegoro, yonif 454 para dan dari Kodam Brawijaya, yonif 530 para. Sehingga, sekurangnya ada 12 yonif yang berada di bawah kendali operasi Tjaduad.

Batalion-batalion tersebut menjadi bagian dari brigade infanteri para yang berkedudukan di bawah dua komando tempur (kopur) yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur, dan Cilodong, Depok. Selanjutnya, istilah kopur diubah menjadi divisi infanteri (divif). Dan divif 2 berpindah markas dari Cijantung ke Singosari. Malang, Jawa Timur. Divif 1 tetap bermarkas di Cilodong, Depok.

Pemukul strategis 

Tiga bulan kemudian, KSAD Jenderal Nasution mengesahkan pasukan cadangan tersebut terhitung 6 Maret 1961. Tanggal tersebut kini dijadikan sebagai hari lahirnya Tjauad. Dua tahun kemudian, Korra I Tjaduad dilebur menjadi Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Batalion-batalion infanteri para menjadi pasukan mobil inti dari brigade infanteri para dan divisi infanteri lintas udara.

Tjaduad pun membentuk resimen zeni tempur (menzipur) 1, batalion zeni tempur (yonzipur) 9 para, yonzipur 10 amfibi, yonzipur 7, dan lima batalion zeni konstruksi (yonzikon). Sehingga, Kostrad memiliki delapan batalion zeni dengan beragam spesialisasi ditambah sejumlah kompi zeni khusus. Selanjutnya, batalion-batalion zikon berada di bawah resimen zeni konstruksi (menzikon) 2 dan menzikon 3. Kemudian setelah operasi Trikora (Tiga Komando Rakyat) selesai, dialihkan komandonya ke Direktorat  Zeni Angkatan Darat.

Selain itu, Tjaduad juga membentuk batalion perhubungan tempur (yonhubpur) para, batalion intendans (yonint) para, batalion polisi militer angkatan darat (yonpomad) para, batalion peralatan (yonpal), dan batalion angkutan (yonang).

Termasuk membentuk brigade kavaleri (brigkav) 1, batalion kavaleri (yonkav) 1 tank, yonkav 8 tank, dua kompi kavaleri (kikav) intai. Dua brigade artileri (brigar). enam batalion artileri medan (yonarmed) 9,10,13, serta 8,10,12. dan baterai armed. Selanjutnya, sebutan brigar diubah menjadi resimen artileri medan (menarmed). Beberapa batalion pun dialihkan ke Kodam.

Tjaduad yang bermetamorfosis menjadi Kostrad pada 1963 bukan lagi tentara cadangan biasa. Tetapi, justru menjadi satuan pemukul strategis Angkatan Darat. Panglima Tjaduad otomatis berubah nama menjadi panglima Kostrad.

Mayor Jenderal Soeharto kembali didaulat menjadi panglima pertama Kostrad. Bahkan, menjadi panglima Angkatan Darat Mandala (ADLA) untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Inti dari pasukan Angkatan Darat untuk merebut Irian Barat tak ayal adalah pasukan Tjaduad/Kostrad selain pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang dibantu sejumlah pasukan dari beberapa Kodam.

Sejak saat itu, Kostrad merupakan komando utama Angkatan Darat terbesar jika dibandingkan dengan Kodam-Kodam. Posisi Kostrad menjadi strategis karena di bawah komando operasi panglima ABRI sebagai pasukan pemukul reaksi cepat serta di bawah pembinaan KSAD.

Setelah komando utama ini berdiri, nyaris tidak ada operasi TNI yang tidak melibatkan Kostrad. Kesatuan tentara ini pun menjadi salah satu pilihan favorit bagi prajurit. Banyak prajurit yang mengidam-idamkan untuk menjadi bagian  Dharma Putra  Kostrad.       (Sumber: HU Republika)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Bukan Tentara Biasa