TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Keprihatinan Yanita Sari Membuahkan Prestasi

By 23 Mar 2016 Bilik Prestasi
IMG_2120 – Copy

“Bisa karena biasa“. Mungkin istilah tersebut sangat tepat bila ditujukan kepada Serda (K) Yanita Sari. Dara kelahiran Kota Batam, 8 Desember 1993 tersebut sangat wajar bila memilih karier sebagai atlet marathon. Betapa tidak, ia adalah bungsu dari 5 bersaudara dari pasangan seorang ibu rumah tangga bernama Supriyaningsih dan ayah seorang pelatih Atletik/Lari Jarak Jauh bernama Prayitno. 

Saudara Sulung Yanita Sari bernama Shinta Wanti adalah atlet senior marathon nasional yang juga merupakan anggota Kowad berpangkat Sersan Mayor. Salah seorang kakak laki-laki Yanita bernama Agus Suprayitno adalah pelari handal nasional peraih Medali Emas pada Lomba Marathon Asean Games Myanmar yang baru lalu. Agus juga  anggota TNI AD berpangkat Sertu, yang kini bertugas di Secapa TNI AD. Pembinaan yang disiplin dan terarah dari orang tuanya menjadikan semua anaknya memiliki masa depan yang cerah.

Masa kecil Yanita dijalani dengan liku-liku yang cukup menyentuh perasaan. Pada umur 3 tahun ia sudah harus hidup terpisah dari kedua orang tuanya yang berada di Batam sebagai buruh, menumpang di kediaman sang nenek di Magelang. Kondisi perekonomian sang nenek ditopang dari hasil penjualan pakaian atau barang-barang bekas.

Yanita selalu mendampingi nenek menjajakan gelar dagangannya di emper pasar tradisional Magelang. Sedikit rejeki yang diperoleh digunakan sebagai nafkah bagi lima orang cucu yang hidup bersama dalam gubuk nenek. Dengan situasi yang serba terbatas tersebut kakak-kakak Yanita mencari peruntungan rejeki dari kemampuannya sebagai atlet hanya demi sekedar mengatasi kebutuhan diri sendiri. Sementara Yanita kecil dan nenek terus berpacu dengan waktu. Dengan beratapkan terik matahari  mereka terus berharap orang lain mau membeli barang bekas yang dijualnya.

Rutinitas itu terus berjalan dari hari ke hari tanpa terhenti oleh terpaan hujan maupun panas. Yanita yang bertubuh kecil, kini telah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar dan semakin rajin membantu neneknya. Setiap hari sepulang sekolah ia langsung menuju pasar untuk membantu nenek. Sebelum magrib tiba, Yanita dan nenek mengemas dagangan dan kembali ke rumah dengan berjalan kaki yang berjarak sekitar 4 km, untuk kemudian besok pagi kembali menggelar dagangannya.

Pekerjaan berberes rumah yang dulu biasa dikerjakan nenek, kini Yanita telah terbiasa melakukannya. Terkadang bila kakak-kakaknya sedang tidak melakukan kegiatan olahraga antar kampung (Tarkam), pekerjaannya menjadi lebih ringan karena terbantu oleh kakak. Tanggung jawab sebagai pelajar pun tak lupa dilakukannya meski dengan dukungan perlengkapan sekolah yang sangat terbatas.

Hal yang cukup membahagiakannya adalah ketika salah seorang kakak yang mendapatkan hadiah lomba atletik berupa televisi berwarna 14 inch. Sejak itu bila ada waktu senggang selalu dimanfaatkan Yanita untuk menghibur diri menonton televisi sekaligus menambah wawasan. Pada waktu senggangnya, Yanita yang saat itu duduk di kelas II SD, menyaksikan tayangan televisi tentang salah seorang kakaknya yang dielu-elukan karena berhasil menjuarai ajang marathon di salah satu kota di Jawa Tengah. Keadaan itu menjadi motivasi awal Yanita untuk ikut berlatih menjadi atlet marathon.

Melihat keinginan kuat sang adik, para kakak menyarankan agar Yanita memilih olahraga yang lain yang tuntutan kegiatan fisiknya lebih ringan seperti bulutangkis, tenis lapangan dan sebagainya. Tetapi Yanita terlanjur teguh pada pendiriannya, bahkan ia menggabungkan diri dengan sebuah klub atletik yang ada di dekat rumahnya. Keinginan keras didukung dengan kemampuan fisik dan mental yang baik menjadikan Yanita berada di jalur atletik yang diharapkannya.

Pada saat Yanita duduk di kelas IV SD bakatnya sudah berkembang dan pada saat kelas V SD sudah berhasil menjuarai Lomba Marathon Tingkat Pelajar Nasional di Semarang, Lomba Borobudur Internasional di Magelang, Lomba Marathon Milo 10 km di Jakarta.

IMG_20150821_090445

Kedua orang tua Yanita yang berada di Batam terus memantau perkembangan anak bungsunya. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya sang ayah mengundurkan diri dari pekerjaannya di Batam untuk selanjutnya lebih memberikan perhatian kepada putra-putrinya di Magelang. Setelah berada di Magelang, sang ayah mendirikan klub atletik sekaligus menjadi pelatih marathon untuk membina putra-putrinya dan tentunya para putra daerah yang berminat dan berbakat untuk menjadi atlet.

Selain mendirikan klub atletik, Pak Prayitno juga mendirikan bengkel las di kediaman nenek.  Selama berada dalam pembinaan sang ayah, perkembangan olahraga Yanita semakin mengagumkan.  Betapa tidak, selama hidup bersama sang nenek, mental Yanita telah terbina oleh keterbatasan. Rupanya Tuhan sudah menakdirkan keprihatinan yang sempat dialami Yanita merupakan bekal untuk membuahkan prestasi.

Pada tahun 2009, Yanita berhasil menjadi juara 1 pada Lomba Lari Gawang 2.000 m (Stepleeches) Remaja Yunior Nasional, yang diselenggarakan di Senayan Jakarta. Selain itu pada tahun yang sama ia juga berhasil meraih juara 1 Jatim Open pada nomor lari 3000 m Stepleeches, dan juara 2 kejurnas remaja yunior pada nomor lari 1500 m di Surabaya. Selanjutnya Yanita meraih juara 3 POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) nomor lari 1500 m dan 5000 m di Yogyakarta.

Tahun   2010   Yanita   berhasil   meraih juara 2 Kejurnas Remaja Yunior pada nomor lari 1500 m dan 5000 m di Jakarta. Berikutnya pada tahun 2011, ia berhasil menjadi  juara 2 Kejurnas Remaja Yunior pada nomor lari 5000 m dan 3000 m Stepleeches Jakarta, dan juara 3 Kejurnas Senior nomor lari 3000 m Stepleeches di Jakarta.

Pada tahun 2012, tepatnya dalam kejuaraan “Panglima TNI Open” yang diselenggarakan di Magelang Jawa Tengah, Yanita berhasil meraih juara 1 nomor lari 10.000 m dan 3.000 m Stepleeches (Lari Gawang), dan juga meraih juara 2 lari 5.000 m.

Pada momen “Panglima TNI Open” 2012 inilah awal perjalanan Yanita meniti karier sebagai prajurit Kowad. Ketika ia berhasil mengalahkan para pesaing lainnya dalam lomba, Tim Pemandu Bakat dari Secapa TNI AD menawarkannya untuk bergabung menjadi prajurit Kowad.  Tanpa pikir panjang Yanita pun menyetujui tawaran tersebut. Sebelumnya Yanita sempat berpikir, mana mungkin organisasi tempat mengabdinya “orang-orang berprestasi” tersebut bersedia menerimanya. Ternyata organisasi TNI AD memiliki alasan tersendiri sehingga siap menampung putra-putri terbaik milik bangsa.

Menjadi prajurit TNI AD ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Yanita yang memiliki segudang prestasi ternyata tidak sertamerta memperoleh kemudahan dalam proses seleksi. Ia diperlakukan sama seperti para pendaftar lainnya, harus mengikuti semua tahapan kegiatan yang dilakukan dalam seleksi.  Situasi semakin terasa sulit ketika waktu seleksi bersamaan dengan pelaksanaan PON XVIII di Riau.

Setelah memperoleh kebijakan tentang pengaturan waktu seleksi pada akhirnya kedua kegiatan tersebut, baik seleksi calon prajurit Kowad maupun keikutsertaan pada PON XVIII di Riau dapat dilalui dengan lancar dan menuai hasil yang diharapkan.

Setelah dinyatakan lulus seleksi akhirnya Yanita beserta 171 orang calon prajurit terpilih  mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara Prajurit Karier Angkatan ke XX. Selama 5 bulan ia mengikuti jalannya pendidikan dasar kemiliteran di Pusdik Kowad Lembang Bandung. Setelah lulus, Yanita diharuskan melanjutkan pendidikan spesialisasi di Pusdik Ajen TNI AD  Bandung selama 4 bulan.20140831_093129_1 - Copy

Setelah 9 bulan melaksanakan pendidikan militer akhirnya pada bulan Maret 2013 Yanita dinyatakan lulus dan ditempatkan di Secapa TNI AD Bandung. Di usia 20 tahun dengan dukungan fisik dan mental yang terbina, Yanita, disamping tugas pokoknya sebagai prajurit, kembali aktif sebagai atlet marathon yang siap melambungkan citra TNI AD setinggi mungkin, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Selama menjadi anggota TNI AD, Serda (K) Yanita telah menghimpun beberapa prestasi, diantaranya adalah Juara-III Kejurnas 3.000 m Stepleeches (Lari Gawang) Senior tahun 2014, Juara-II Piala Panglima TNI tahun 2014 10.000 m, Juara-I HUT TNI 10.000 m di Jakarta, Juara I HUT kota  Samarinda  10.000  m kategori Umum Nasional, dan Juara-II Balikpapan 10 K kategori Umum Nasional.

Gadis manis pemilik tinggi badan 165 cm dan memiliki hobi olahraga, kuliner, serta traveling ini tetaplah gadis ramah yang bersahaja namun tetap enerjik, sama seperti sifat kedua orangtuanya. Yanita tetaplah seperti Yanita yang dulu, yang konsisten terhadap tugas dan tanggung-jawabnya. Berbagai prestasi yang melambungkan namanya semakin menambah rasa syukurnya kepada Sang Pencipta yang telah memberikan kemampuan kepada keluarga besarnya. (Redaksi).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Keprihatinan Yanita Sari Membuahkan Prestasi