TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Serda (K) Ghea, Srikandi Anggar Nasional

By 23 Mar 2016 14:46Bilik Prestasi
anggar

Ditengah hingar-bingar melambungnya prestasi beberapa atlet yang terlahir dari Kawah Chandradimuka, kini Komando Wanita TNI AD (Kowad) menambah satu lagi perbendaharaan atlet di cabang olah raga anggar menghiasi rangkaian prestasi prajurit. Dara kelahiran Cimahi, 18 juni 1995 yang ketika duduk di bangku SMP kelas 2 baru menggemari olahraga anggar tersebut bernama Khatrin Ghea Endarwati. Sebelumnya sejak sekolah dasar ia menekuni olahraga bola voli, namun karena ia merasa sekian lama bergelut dengan voli tidak menampakkan perkembangan, akhirnya ia memutuskan untuk beralih ke olahraga anggar.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, olahraga anggar yang digeluti selama ini mengantarkannya menjadi seorang Kowad yang direkrut TNI AD dari sumber atlit berprestasi dan menjadi seorang profesional dengan berbagai fasilitas yang didapat.

Tim Redaksi yang merasa penasaran mengapa cabang olahraga anggar menjadi pilihannya, berupaya menjumpainya di Wisma Prestasi Pajajaran Bandung tempat dilaksanakannya TC (Training Center) Serda (K) Ghea untuk persiapan PON XIX/2016. Disela-sela istirahat latihan, Ghea dengan senang hati meluangkan waktu istirahatnya untuk  berbincang-bincang selama kurang lebih 1 jam. Bertempat di loby wisma, sambil menyeka keringat, Ghea menceritakan awal ketertarikannya menekuni olahraga anggar hingga berprestasi seperti sekarang ini.

anggar1

Ghea, sulung dari dua bersaudara menghabiskan masa sekolahnya di kota Cimahi. Sekolah Dasar Setiamanah Mandiri-1 menjadi pilihannya karena pertimbangan dekat dengan tempat tinggalnya. Sejak duduk di kelas III SD, ia tekun berlatih bola voli dan kerap terpilih mewakili kelasnya untuk bertanding. Setelah tamat SD ia melanjutkan sekolah ke SMP-9 Bandung. Waktu terus berjalan dan aktivitas olahragapun berubah. Ketika menginjak kelas II SMP, saat usianya 15 tahun tepatnya tahun 2007, Ghea mengawali kegemarannya bermain anggar di klub FFC (Ferdian Fencing Club) Bandung sampai dengan sekarang. Salah seorang paman Ghea yang pernah menjadi atlet nasional, kini menjadi pelatih di klub FFC dan telah banyak mencetak atlet anggar nasional. Di klub tersebut Ghea bersama beberapa rekannya berlatih anggar.

Pada mulanya sang paman hanya mengajak untuk berlatih anggar sekedarnya, tetapi lama kelamaan Ghea menjadikannya sebagai hobi, dengan pertimbangan bahwa anggar ternyata bukan sekedar berolahraga seperti pada umumnya yang mudah untuk dikuasai. Ada sisi lain dari olahraga anggar yang membutuhkan strategi dan keterampilan saat beraksi di lapangan. Strateginya sangat bergantung pada diri sendiri bukan tim, karena atlet dituntut harus lincah, reaktif dan tepat sasaran. Berarti untuk menggeluti olahraga tersebut dibutuhkan latihan fisik yang terukur dan juga mengasah otak untuk berfikir kapan mengambil langkah secara cepat dan tepat. Berbekal kemauan yang kuat dan latihan ketat, Ghea berhasil menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perkembangan positif tersebut mendapat perhatian dari  pelatih, selanjutnya Ghea dipercaya untuk diikutkan pada turnamen-turnamen tingkat daerah. Meski hanya tingkat lokal, namun hal itu dirasakan sangat bermanfaat untuk menambah jam terbang.

Debut pertama kali yang diikutinya yakni kejuaraan daerah di Bandung tahun 2008 bersama klub FFC. Di ajang tersebut Ghea mulai menunjukkan kemampuannya dengan  meraih juara III. Sejak saat itu kehadirannya pada cabang olahraga anggar di Jawa Barat mulai diperhitungkan. Kesempatan berikutnya yaitu di tahun 2009, Ghea berkesempatan mewakili Jabar mengikuti kejurnas anggar di Jakarta. Dalam ajang tersebut Ghea yang masih minim jam terbang, kembali meraih juara III.

Perlahan namun pasti, setelah mencoba menutupi celah kekurangan selama ini, pada kesempatan berikutnya kerja keras Ghea mulai menampakkan hasil.

Di kancah nasional maupun internasional kemunculan Ghea sebagai atlet anggar wanita mulai menorehkan prestasi. Pada kejuaraan WRG internasional di Jakarta tahun 2011 ia berhasil menasbihkan diri sebagai juaranya. Berikutnya pada kejuaraan anggar Asean junior 2012 yang berlangsung di Bali, ia berhasil meraih juara II. Pada kejuaraan nasional tahun 2013 yang berlangsung di Jakarta, Ghea kembali berhasil meraih juara pertama. Pada tahun yang sama, sekalipun belum berhasil membawa pulang medali, Indonesia sudah memberi kepercayaan penuh atas prestasinya untuk mengikuti kejuaraan dunia anggar di Kroasia.

Setelah lulus SMU, tepatnya di SMA-6 Bandung pada tahun 2013, Ghea mendapat dorongan dari keluarga agar mau bergabung menjadi prajurit Kowad melalui jalur perekrutan atlet berprestasi di Kodam III/Siliwangi. Meski melalui jalur khusus, jangan dibayangkan bahwa proses seleksi akan berjalan mulus, karena faktanya semua tahapan seleksi yang dijalaninya dilakukan sesuai dengan tuntutan persyaratan. Setelah proses penyaringan dinilai memenuhi persyaratan, akhirnya Ghea beserta 173 peserta yang lulus seleksi secara resmi mengikuti pendidikan di Pusdik Kowad, Lembang Bandung. Mulai saat itu Ghea resmi menjadi Siswa Secaba PK Angkatan XXI Angkatan tahun 2013.

_MG_8704

Selama 5 bulan Ghea mengikuti jalannya pendidikan dasar kemiliteran. Setelah pendidikan dasar dinyatakan lulus, Ghea diharuskan melanjutkan pendidikan spesialisasi di Pusat Pendidikan Kesehatan Jakarta selama 4 bulan. Selama mengikuti pendidikan, semua aktivitas anggar yang sebelumnya dilakukan menjadi vakum sama sekali.

Setelah 9 bulan melaksanakan pendidikan militer akhirnya sekitar bulan Maret tahun 2014 Ghea dinyatakan lulus dengan menyandang pangkat Sersan Dua Kowad (K) dan mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas di Dinas Jasmani TNI AD (Disjasad), Cimahi sebagai tenaga medis. Di usia yang relatif muda dengan dukungan fisik dan mental yang prima, Serda (K) Ghea mendapat rekomendasi dari pimpinan TNI AD selain melaksanakan tugas pokoknya juga kembali aktif sebagai atlet anggar.

Kecintaannya terhadap olahraga anggar serta dukungan penuh dari Kadisjas sebagai pembina olahraga di Disjasad yang selalu memberikan perhatian khusus kepada para atlet, mendorong Ghea untuk tetap bergabung dengan Klub FFC dalam rangka memelihara dan meningkatkan kemampuan agar lebih berprestasi di kancah nasional dan internasional dan tentunya untuk mengharumkan nama TNI, Bangsa dan Negara.

Ghea sebelumnya tidak menduga bila olahraga anggar yang digelutinya dapat mengantarkannya menjadi seorang abdi negara, yang dituntut memiliki tanggung jawab besar baik pribadi maupun profesi sebagai prajurit TNI AD. Tanggung jawab ini dipandangnya sebagai sumber motivasi positif untuk berprestasi optimal. Bagaimana tidak, ternyata pendidikan militer yang diikutinya semakin meningkatkan mental bertanding dan daya juang yang tinggi, sehingga Ghea merasakan ada rasa optimis dan percaya diri yang semakin baik.

Sesekali Ghea meringis sambil memegang paha dan bagian perutnya ketika wawancara berlangsung, sehingga mendorong Tim Redaksi ingin mengetahui apa sesungguhnya yang dirasakannya. Menurut pengakuan dara peranakan ayah Sunda dan ibu Ambon ini, bahwa ia mengalami memar pada sebagian paha dan perut dikarenakan kena tusukan senjata anggar waktu latihan beberapa hari yang lalu. Masih menurut Ghea, bahwa hal itu lumrah dialami oleh setiap atlet anggar. Ghea bersyukur pada Allah SWT karena selama menjadi atlet anggar belum pernah mengalami cidera fatal yang mengakibatkan terhambatnya proses latihan maupun pertandingan.

Ghea juga menceritakan, bahwa olahraga anggar pernah merenggut nyawa atletnya. Peristiwa tersebut dialami oleh atlet anggar peraih medali emas olimpiade 1980 asal Rusia, Vladimir Smirnov yang tewas pada 28 Juli 1982, akibat mengalami kerusakan otak sembilan hari setelah pertandingan. Peristiwa tragis itu diakibatkan dari foil/pedang lawan menembus pelindung wajah yang dikenakannya  lalu menembus bola mata hingga masuk ke jaringan otak.

Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, Ghea selalu ekstra waspada dalam setiap kegiatan anggar.

Menurut gadis berkulit sawo matang ini, senjata yang digunakannya sekarang adalah senjata degen (epee), yaitu pedang berbentuk segitiga dengan alur berparit, pada pangkalnya tebal dan samping ke ujung kecil, agak kaku. Ujungnya datar dan berpegas dengan pelindung tangan besar, beratnya 750-770 gram. Bagian bawah pedang berfungsi untuk menangkis dan ujungnya untuk menusuk.

a95adebb-3a56-416f-8945-03242154ea01

Selanjutnya Ghea juga menjelaskan bahwa pada cabang olahraga anggar ada 3 (tiga) senjata/pedang yang digunakan, yaitu floret (foil), sable (sabre) dan degen (epee). Senjata anggar seperti floret  dan sabre pernah dicoba Ghea, tetapi tidak cocok dengan karakter “menyerang dan menghindar cepat” yang dianut Ghea. Senjata degen dianggap cocok karena semua tubuh, mulai dari kepala sampai kaki bisa digunakan sebagai sasaran senjata, yang sudah barang tentu menuntut kecepatan dalam bergerak untuk menyerang dan menghindar.

Dapat dibayangkan betapa olahraga yang digeluti Ghea selaku atlet anggar sangat beresiko. Apalagi selama 9 bulan melaksanakan pendidikan praktis sepi dari kegiatan anggar. Untuk itu setelah aktif menjadi prajurit Kowad di Disjasad,  Ghea harus memulai latihan dari nol untuk mengejar keterampilan taktik dan teknik anggar yang tertinggal. Hal itu dilakukan Ghea setiap ada waktu luang, mengingat dalam waktu dekat akan diselenggarakan Porda (Pekan Olah Raga Daerah) Jabar.

Dengan perjuangan yang gigih, setelah dari pagi hari hingga sore hari melaksanakan kuajiban sebagai prajurit, selanjutnya pada malam hari harus melaksanakan latihan keras demi untuk mengejar target masuk tim inti anggar Kotamadya Bandung sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Porda.  Dengan usaha yang maksimal akhirnya Ghea berhasil memperoleh kesempatan bertanding bersama tim. Selama dua pekan pertandingan, usaha maksimal Ghea berhasil menyumbangkan perolehan 1 Emas dan 1 Perunggu dari nomor  perseorangan dan beregu bagi Kotamadya Bandung. Di akhir bulan September 2015 lalu, Ghea baru saja mempersembahkan medali perak pada Turnamen Internasional Thailand Open.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri baginya, karena berhasil mengharumkan nama TNI AD, Bangsa dan Negara.

Dari berbagai lomba yang selama ini diikutinya ada satu hal yang sangat berkesan baginya, yakni ketika memperoleh kesempatan untuk menjadi Duta Indonesia mengikuti pertandingan Anggar Internasional di Croatia. Meski saat itu Ghea belum mampu berbicara banyak dikarenakan lawan yang dihadapi merupakan para jawara anggar yang sudah lama malang melintang di pentas dunia, namun Ghea bertekad akan menunjukkan kemampuan yang lebih apabila memperoleh kesempatan kembali  tampil di kancah anggar internasional. Semuanya itu ia lakukan demi untuk mengharumkan nama TNI AD yang telah menempanya menjadi sosok yang lebih tangguh dan percaya diri.

Selaku hamba Tuhan yang lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua, seorang Ghea  tak pernah lupa akan jasa mereka. Ia mempunyai keinginan mulia untuk membahagiakan keduanya dengan hasil jerih payah yang selama ini diraihnya. Ghea memastikan akan memberi segala yang ia punya,  demi kebahagiaan ayah-bunda tercinta.  (Redaksi)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Serda (K) Ghea, Srikandi Anggar Nasional