TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Perikanan Budidaya dan Budaya Bahari

By 13 Jul 2016 08:09Kodam XVI/Patimura
13 Juli 2016 B

(Ambon,13/7) Selama ini masyarakat lokal kita tertumpu pada sektor perikanan tangkap yang dianggap praktis dan langsung menghasilkan uang. mereka berpikir dgn peralatan seadanya seperti Kail, Umpan ataupun Jala dan dilengkapi sebuah perahu, bisa langsung melakukan penangkapan ikan dan dihari itu pula kelihatan Pendapatan yang diperoleh dari hasil tangkapan yang didapat.

Budaya ini sudah berlangsung lama dan turun temurun. Laut dijadikan pusat mata pencaharian praktis ditengah kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Tanpa disadari karena adanya perubahan Lingkungan (Global warming) , kerusakan Lingkungan, Aksi Penangkapan Ikan secara Illegal secara tidak langsung berdampak pada terjadinya degradasi potensi sumberdaya ikan di Laut, musim yang berubah, kondisi alam yang kadang tidak bersahabat menyebabkan Nelayan Sulit Beraktifitas.

Potensi SDI (sumberdaya ikan) sulit diprediksi karena ikan selalu melakukan Ruaya/ Migrasi dari suatu perairan ke perairan yang lain, Walaupun assesment stok kita lakukan, Namun belum tentu data tersebut bisa dikatakan Riil dan terperinci berdasarkan Spesies. Jumlah stok juga tidak berbanding lurus dengan jumlah produksi yang dilakukan. Ikan (dalam arti luas) perlu dimanfaatkan sebaik mungkin dan berkelanjutan salah satu dengan memaksimalkan potensi Perikanan Budidaya ( Emas Biru).

Selama ini sektor budidaya bagaikan The sleeping Giant (Raksasa yg sedang tidur) yang apabila dikelola secara baik akan menjadi Harapan baru dalam pengelolaan Sumberdaya Perikanan serta lokomotif utama perekonomian daerah dan nasional kedepan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Lembaga PBB untuk urusan Pangan dan Pertanian(FAO) Food and Agriculture melakukan pertemuan yang dilaksanakan pada 11 – 15 Juli 2016 di Kota Roma Italy. FAO Diikuti 194 Negara anggota termasuk Indonesia dan sudah menetapkan dan meluncurkan ‘The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA)’ sebuah laporan dan dokumen terkait perikanan dan budidaya yang menjadi referensi para anggota FAO dalam memenuhi kebutuhan ikan di dunia. SOFIA ditetapkan dalam sidang ke-32 Committee on Fisheries (COFI) yang digelar FAO di Plennary Hall, markas pusat FAO di Viale delle Terme di Caracalla, Roma, Dari data di SOFIA, produksi ikan dunia pada tahun 2025 diproyeksikan sebesar 196 juta ton, yang terdiri dari 52% berasal dari perikanan budidaya dan 48% dari perikanan tangkap.

Proyeksi ini meningkat signifikan dari data produksi ikan pada 2014 yang sebesar 167,2 juta ton, dengan rincian 44% perikanan budidaya dan 56% perikanan tangkap, jumlah konsumsi ikan pada tahun 2014 per kapita mencapai 20 kg Dengan proyeksi kondisi Perikanan tersebut maka ini memperlihatkan harapan baru yang dimana sektor perikanan budidaya kedepan semakin mengalami peningkatan yang signifikan.

Oleh karena itu program emas biru yang sementara digalakan di Maluku yang diinisiasi oleh Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, sudah sangatlah tepat guna meningkatkan produksi perikanan dari sektor budidaya dan merupakan salah satu cara untuk merubah mindset berpikir, yang selama ini terfokus pada hasil produk perikanan tangkap, seharusnya dengan trend perikanan dunia seperti diatas maka kita harus dapat mengendalikan sektor perikanan tangkap dan meningkatkan sektor perikanan budidaya, karena produk dan hasil budidaya yang kita lakukan dapat terlihat jelas baik jumlah dan spesiesnya. Karena ini berkaitan dengan data produksi Real Perikanan Budidaya.

Perikanan Budidaya mungkin kurang diminati masyarakat karena berkaitan dengan sarana prasarana budidaya, Benih, Pakan, Pemasaran dan waktu panen yang relatif membutuhkan kesabaran, ketelitian dan keuletan serta disiplin. Seharusnya dengan kondisi tersebut memotivasi kita menjadikan Budidaya sebagai Tabungan Perikanan secara baik dan jika dikelola secara profesional, terarah,terpadu dan berkelanjutan maka akan menjadi modal dalam peningkatan pendapatan penghasilan masyarakat.

Kondisi laut yang kadang kurang bersahabat, dan waktu penangkapan ikan yang kadang tak menentu dikarenakan musim dan kendala umpan hidup bagi Nelayan pole and Line seharusnya dapat menjadi catatan serius bagi para nelayan kita untuk bisa mencoba mengembangkan Sektor usaha perikanan Budidaya tanpa harus meninggalkan profesi Nelayan tangkap yang selama ini digeluti. Kedepan kiranya ada hubungan kerjasama baik antara pemerintah, Swasta, dan masyarakat yang harus ditingkatkan guna bisa mengembangkan sektor perikanan budidaya dari hulu sampai ke hilir. Karena dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan lewat regulasi, swasta melakukan investasi dan masyarakat sebagai pelaku kegiatan budidaya harus saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.

Jika ketiga elemen ini bisa bekerja bersinergi dan terintegrasi secara terkordinasi maka Harapan untuk menjadikan Budidaya sebagai penopang lokomotif pembangunan ekonomi nasional akan terwujud….(AMRULLAH USEMAHU,S.Pi.Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia – Tim Emas Biru Pattimura)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Perikanan Budidaya dan Budaya Bahari