TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Panglima TNI : Kehadiran Komandan Sebagai Solusi Bukan Beban

By 27 Jan 2017 13:23Puspen TNI
15

 

Komandan juga sebagai teman, bisa bebas dengan anak buah, juga sebagai guru yang bisa mendidik anak buahnya dan juga sebagai pelatih yang bisa memberikan latihan-latihan serta sebagai orangtua memberikan suri tauladan kepada anak buahnya, sehingga tidak ada jarak antara pemimpin dengan yang dipimpin.

“Itulah pemimpin sebagai Komandan, jadi tidak mudah menjadi pemimpin, apalagi menjadi guru atau pelatih. Jadikan kehadiran Komandan sebagai solusi bukan beban,”ungkap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, saat memberikan pengarahan kepada 1.156 peserta Apel Komandan Satuan (AKS) TNI tahun 2017, di Markas Divisi Infanteri-1/Kostrad Cilodong, Jawa Barat, Rabu (25/01/2017).

Dikatakan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Komandan harus berani menegakkan aturan tanpa diskriminasi, satu kata dengan perbuatan, menjadi contoh tauladan sehingga menginspirasi anak buahnya. “Jangan membuat kebijakan yang merugikan prajurit dan keluarganya,”katanya.

Panglima TNI menyatakan, TNI membutuhkan pemimpin andal yang mampu membaca jaman, memiliki niat berbuat yang terbaik, berpikir cerdas, mempunyai ambisi sesuai kemampuan serta menyiapkan kader yang akuntabel dan mempunyai kemampuan media majemen. “Ingat profesi prajurit itu mulia, prajurit yang bermartabat mempunyai dedikasi tinggi terhadap profesi. Prajurit TNI harus rendah hati, tidak arogan serta mencintai rakyat, jadi harus bangga dengan profesi dan satuannya,” ujarnya.

Menurut Panglima TNI, pemimpin yang luar biasa harus bisa memanfaatkan peluang dengan baik. Bila tidak memanfaatkan peluang adalah sial, punya peluang tidak dimanfaatkan adalah bodoh. “Saya yakin para Komandan Satuan adalah pemimpin yang luar biasa, kerja keras tidak cukup, harus berpikir lebih banyak dan memiliki komitmen serta tulus ikhlas dalam menyelesaikan tugasmu. “Walaupun tidak menjadi yang terbaik akan tetapi selesaikan dengan akhir yang baik dan membanggakan,” jelasnya.

Panglima TNI juga menyampaikan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Menurutnya, persaingan ekonomi terus terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat, sehingga melahirkan krisis ekonomi yang menjadi pemicu terjadinya kompetisi global dan terjadi secara ketat yang cenderung tidak sehat. Hal ini mengakibatkan krisis ekonomi dan kompetisi global, yakni dengan meningkatnya tingkat kejahatan dan yang paling penting adalah hancurnya tatanan masyarakat serta krisis ekonomi pasti menyebabkan depresi ekonomi, dan krisis ekonomi akan sebanding dengan meningkatnya kejahatan dan konflik.

Menyinggung perkembangan Proxy War di Indonesia, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan tegas menyatakan bahwa, Indonesia saat ini sudah menjadi rebutan negara lain karena kaya energi dan sumber daya alam yang menjadi salah satu negara ekuator di dunia. “Indonesia sebagai negara ekuator dan sangat kaya energi dan sumber daya alam adalah warning yang patut menjadi kekhawatiran bangsa Indonesia dimasa yang akan datang,” ucapnya.

Apel Komandan Satuan (AKS) TNI tahun 2017 dengan tema “Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional dan Dicintai Rakyat Siap Melaksanakan Tugas Pokok” diikuti oleh 1.156 orang terdiri dari para Komandan Batalyon, Komandan KRI dan Komandan Skadron Udara serta Komandan Satuan Operasional yang setingkat di tiap-tiap angkatan sampai dengan Pangkotama Pembina/Operasoional dan satuan kerja (Satker)

Para peserta meliputi unsur pimpinan terdiri dari Panglima TNI dan Kepala staf Angkatan sebanyak 4 orang, Mabes TNI sebanyak 57 orang. Dari TNI AD terdiri dari para Komandan Batalyon sampai dengan Panglima Komando Utama (Pangkotama) sebanyak 641 orang. Dari TNI AL meliputi para Komandan KRI sampai dengan Panglima Armada, para Komandan Batalyon Marinir sampai dengan Komandan satuan Korp Marinir 323 orang dan dari TNI AU para Komandan Skadron sampai dengan Panglima Komando Operasi sebanyak 119 orang, peninjau dan moderator 12 orang.(Puspen TNI )

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Panglima TNI : Kehadiran Komandan Sebagai Solusi Bukan Beban