TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Serda (K) Wahyu Rianti, Atlet Triathlon Indonesia

By 08 Jun 2017 11:35Bilik Prestasi
Serda wahyu rianti1

TNI AD. Triathlon adalah olahraga uji ketahanan fisik yang luar biasa, terdiri dari tiga macam cabang olahraga yaitu renang, sepeda dan lari (marathon) dengan beragam jarak tempuh. Seorang Atlet harus menyelesaikan secara kontinyu setiap tahapannya, sehingga atlet yang memiliki mental, fisik dan kecerdikan luar biasa akan berpeluang besar menjuarai olahraga ini.

Tidaklah berlebihan bila pemenang dari olah raga ini dijuluki sebagai Ironman. Meski terkesan sebagai olahraga “super” karena menuntut kemampuan fisik yang sangat besar, namun olahraga yang dianggap berat inilah yang kini digeluti oleh srikandi TNI AD bernama Serda (K) Wahyu Rianti, prajurit wanita kelahiran Lumajang Jawa Timur 8 Juli 1997 lalu.

Serda wahyu rianti2

Serda (K) Wahyu Rianti

Wahyu, demikian panggilannya sehari-hari, sulung dari dua bersaudara ini sejak kecil sudah menyukai olahraga renang dan atletik. Tidak heran bila ia mampu melakukan kegiatan renang hingga berkilometer jaraknya. Dengan tinggi badan 159 cm dan berat 54 kg tentu sangat ideal menopang beban latihan fisik yang cukup besar.

Dara manis yang terlahir dari pasangan ayah bernama Slamet Riko Nubiyanto dan ibu bernama Rinawati yang sama-sama berprofesi sebagai pedagang ini tentu sangat senang memperoleh dukungan penuh dari kedua orangtuanya untuk melakukan aktivitas yang tidak biasa tersebut. Ayah dari Wahyu Rianti sebelumnya merupakan atlet renang Propinsi Jawa Timur.

Aktivitas ayah di sekitar kolam renang membuat Wahyu kecil sudah sangat akrab dengan kolam renang dibawah bimbingan intensif dari sang ayah. Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah, Hampir semua lomba ketangkasan renang di wilayahnya berhasil ditaklukkannya.Suatu hari, seorang rekan sang ayah secara mendadak meminta tolong agar Wahyu bersedia menggantikan posisi salah seorang atlet Triathlon wanita yang telah terdaftar pada lomba yang akan dilaksanakan besok harinya, yang secara mendadak tidak bisa ikut lomba.

Tentu sang ayah merasa keberatan dengan permintaan rekannya itu. Namun tidak demikian halnya dengan Wahyu yang belum tahu apa itu Triathlon, secara diam-diam rupanya “nguping” pembicaraan itu dari dalam kamar. Bergegas Wahyu menghampiri sang ayah seraya mengatakan bahwa ia berkenan mencoba tawaran itu, hingga sang ayah mengijinkannya. Demi menjaga kerahasiaan “atlet siluman,” akhirnya pada tengah malam itu juga Wahyu berangkat ke titik kumpul para peserta. Keesokan harinya Wahyu yang berperan sebagai atlet pengganti namun tetap atas nama atlet aslinya, sudah berada di tepi pantai tempat bersiapnya para peserta Triathlon.

Ketika bendera start dikibarkan, para pesertapun beradu cepat menceburkan diri ke laut. Masing-masing peserta berupaya sekuat tenaga menjadi yang terdepan pada bentangan air laut sejauh 1,5 km. Semua tahapan lomba diselesaikan dengan baik hingga Wahyu akhirnya mampu memposisikan diri sebagai runer up. Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Mereka memuji apa yang sudah dicapai anaknya, karena pada lomba perdana sudah sanggup menunjukkan prestasi gemilang meskipun bukan yang pertama. Pencapaian yang telah diraih tidak membuatnya larut, dibawah bimbingan sang ayah, olahraga renang yang ditekuni selama ini menjadi bertambah besar porsi latihannya.

Selain pantang menyerah, Wahyu memang anak yang cerdas. Berbagai tantangan, di bidang akademis maupun olahraga yang ditekuninya selalu berhasil diatasinya. Setamat SLTA Wahyu sempat mendaftarkan diri menjadi calon prajurit WanitaTNI, namun keberuntungan belum berpihak kepadanya.

Pada kesempatan berikutnya, Wahyu kembali mencoba peruntungan mengikuti seleksi penerimaan calon bintara Kowad Unggulan di Ajenrem 083/Malang. Dalam kesempatan tersebut ia dinyatakan lulus dan bergabung dengan 41 calon lainnya di Pusat Pendidikan Kesehatan TNI AD, Jakarta untuk selanjutnya menjalani proses seleksi akhir. Selama 5 bulan lamanya Wahyu dan kawan-kawan mengikuti pendidikan Kowad. Selama proses pendidikan berlangsung, semua aktivitas olah raga yang biasa dilakukan, dibekukan sama sekali. Sekitar bulan Februari 2016 Wahyu dilantik menjadi Sersan Dua,  selanjutnya diwajibkan mengikuti pendidikan kejuruan di Pusdikpal selama 4 bulan lamanya. Pada bulan Agustus 2016 kemarin, Wahyu dinyatakan lulus pendidikan kejuruan dan mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas di Secapa TNI AD, Bandung.

Setelah menjadi seorang prajurit, kini pola kehidupan Wahyu menjadi lebih tertib, teratur dan lebih terbina, karena semua aktivitasnya serba terjadwal dan memperoleh penanganan secara profesional. Yang lebih membahagiakannya adalah Pimpinan TNI Angkatan Darat memberikan dukungan seluas-luasnya kepada Wahyu untuk mengembangkan kariernya hingga ke tingkat internasional.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Serda (K) Wahyu Rianti, Atlet Triathlon Indonesia

06 min