TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

TNI Bukan Alat Politik

By 16 Dec 2017 22:04Kodam V/Brawijaya
7a__4_

TNI AD – Surabaya. Perayaan Hari Juang Kartika (HJK) dan HUT Kodam V/Brawijaya ke-69 tahun ini, seakan memancing antusias masyarakat sekitar untuk mendatangi lapangan Makodam V/Brawijaya, Jumat (15/12/2017).

Selain menyajikan berbagai kendaraan tempur milik prajurit TNI-AD, dalam acara tersebut juga menyajikan berbagai atraksi hingga drama kolosal yang dipentaskan oleh salah satu komunitas Kesenian di Kota Surabaya.

7a__9_

Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman, M. A mengatakan bahwa tepat 72 tahun lalu, merupakan sebuah catatan penting dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, yang dikenal dengan sebutan peristiwa Palagan Ambarawa.

“Meski dengan senjata dan perlengkapan yang sangat sederhana, kesatuan-kesatuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang merupakan cikal bakal TNI, bersama rakyat berhasil memenangkan pertempuran secara gemilang dengan memukul mundur tentara Sekutu yang memiliki persenjataan dan kemampuan taktik serta strategi perang yang jauh lebih modern di masa itu,” kata Mayjen TNI Arif membacakan amanat tertulis Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).

Selain itu, lanjut Pangdam, keberhasilan tersebut tidak hanya sebagai prestasi dalam meningkatkan moril perjuangan di wilayah Indonesia saja. Akan tetapi, juga memberikan dampak politis secara internasional dan dampak psikologis kepada sekutu, dikarenakan TNI dan rakyat Indonesia mampu menunjukkan semangat perjuangan dalam peristiwa tersebut.

7a__3_

“Palagan Ambarawa adalah simbol kemanunggalan TNI AD dan rakyat Indonesia. Hubungan antara TNI AD dan rakyat bukanlah sebatas hubungan profesionalitas belaka, namun lebih dari itu, TNI AD memiliki hubungan biologis dengan rakyat Indonesia karena dilahirkan dari rakyat sehingga senantiasa membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” jelasnya.

Dijelaskan Pangdam bahwa, TNI AD juga telah berkomitmen untuk membantu tugas-tugas pemerintah serta meringankan kesulitan rakyat, yang dilaksanakan melalui Operasi Militer Selain Perang (OMSP). “Sebagai salah satu wujud komitmen tersebut, pada tahun 2015, TNI AD telah membantu Kementerian Pertanian dalam melaksanakan Program Ketahanan Pangan,” tandas Pangdam Brawijaya.

Mayjen TNI Arif juga mengingatkan bahwa saat ini karakter asli Bangsa Indonesia yang bercirikan Pancasila sedang menghadapi tantangan yang besar, diantaranya gaya hidup hedonisme, individeualisme, Narkoba, pornografi. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu menggali kembali nilai-nilai luhur budaya Bangsa sebagai kekebalan atau imunitas Bangsa dalam mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Adapun nilai-nilai luhur tersebut diantaranya adalah sikap menghargai perbedaan, semangat untuk bersatu, pantang menyerah dan rela berkorban, patriotisme dan percaya diri, kebersamaan dan gotong-royong.

Tak hanya menyajikan drama kolosal yang menceritakan pertempuran di Ambarawa, Jawa Tengah yang berlangsung sejak 20 hingga 15 Desember 1945 lalu, berlangsungnya drama kolosal yang melibatkan masyarakat itu, juga menyuarakan pesan-pesan Jenderal Besar Raden Soedirman, ketika berpesan kepada para prajuritnya.

“Tadi sudah disampaikan pesan-pesan Jenderal Soedirman melalui drama kolosal yang berlangsung tadi, bahwa TNI bukanlah suatu alat politik. TNI bekerja demi kejayaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya usai memimpin pelaksanaan upacara.

Masyarakat yang membanjiri lapangan Makodam itu, juga dihibur dengan adanya pertunjukkan Bela Diri Militer (BDM) Yong Moodo, sekaligus atraktsi terjun payung yang dilakukan oleh prajurit TNI dari berbagai Kesatuan TNI di Surabaya.

Hadir dalam kegiatan itu diantaranya Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Soekarwo, Kapolda Jatim, Kas Armatim, Kasdivif 2/Kostrad serta Tokoh Agama dan masyarakat di wilayah Jawa Timur. (Pendam V/Brw).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

TNI Bukan Alat Politik