Artikel

Andai Ada Kostrad dalam Pelajaran Sejarah Sekolah

Oleh 11 Mar 2019 One Comment
#TNIAD 

“Ingat, pasukan pemukulnya Indonesia itu, ya Kostrad ini” (Mayjen TNI Edy Rahmayadi, saat menjabat sebagai Pangkostrad, 2015).

Dari Gambir, Menggempur Belanda di Irian Barat

Suatu siang pada Februari 1962, di Markas Komando Korra-1/Caduad (Korps Tentara-1 Cadangan Umum Angkatan Darat), wajah tampan Panglima Komando Mandala, justru tak nampak mumet. Rambut ikal halusnya beriak kecil dan tersisir ke belakang, membingkai wajahnya yang nampak tenang, tapi fokus dalam menyusun strategi.

Bersama pemegang tongkat komando lainnya, ia susun strategi atas 70.000 personil tentara gabungan tiga matra (AD, AL, AU) dari berbagai satuan, yang digabung dalam satu payung: Komando Mandala. Pasukan komando ini untuk melaksanakan Operasi Jayawijaya, yang bertujuan merebut kembali Irian Barat (Papua) ke pangkuan Indonesia.

Markas Komando Korra-1/Caduad berada di jalan Medan Merdeka Timur, di seberang stasiun Gambir Jakarta Pusat. Markas ini dijadikan basis awal penyusunan strategi penyerbuan ke Biak (lokasi markas AL dan AU Belanda), sebelum pasukan bergeser ke Markas Komando Mandala di Ujung Pandang (Makasar). Markas tersebut dipilih karena Komando Caduad merupakan kekuatan inti dari Komando Mandala sebagai pelaksana Operasi Jayawijaya.

Panglima Komando Mandala berhidung bangir itu adalah Brigjen TNI Soeharto, yang juga Komandan Korra-1/Caduad. Ia kelak menjadi Pangkostrad pertama saat Korra-1/Caduad, yang didirikan pada 6 Maret 1961, berubah nama pada Februari 1963 menjadi KOSTRAD (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat).

Baca juga:  Harta Calon Panglima TNI Diperiksa PPATK Dulu Dong

Selanjutnya, tanggal 6 Maret selalu diperingati sebagai milad Kostrad setiap tahun. Dan pada 6 Maret 2019 ini, Kostrad genap berusia 58 tahun.

Kostrad memiliki kelengkapan Alutsista yang mumpuni, sebab satuan berjuluk Darma Putra ini memanggul tugas sebagai penyelenggara dan pelaksanakan fungsi utama, dalam pengembangan kekuatan, pertempuran dan administrasi. Pun sebagai satuan Komando Utama (Kotama), Kostrad juga memiliki fungsi organik militer seperti intelijen, operasi dan latihan, pembinaan personel, logistik, dan teritorial serta fungsi organik pembinaan dalam perencanaan, pengendalian dan pengawasan.

Kekuatan Kostrad saat ini berada pada 3 (tiga) Divisi Infanteri (Divif) yakni di Divif-1 di Cilodong (Depok), Divif-2 di Singosari (Malang), dan Divif-3 di Pakatto (Gowa, Sulawesi Selatan). Secara bertahap Kostrad terus meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dengan menaikkan status seluruh batalyon infanterinya menjadi Raider, Mekanis Raider, atau Para Raider. Artinya?

Kualifikasi Raider adalah kemampuan khusus prajurit untuk menghadapi terorisme, antigerilya maupun perang berlarut. Biasanya, mobilisasi pasukan Raider ini melalui mobilisasi udara (mobud), menggunakan helikopter. Sedangkan Para Raider atau pasukan yang diterjunkan dari udara, sudah pasti berkualifikasi terjun payung. Jadi Para Raider artinya pasukan khusus yang bisa diterjunkan dari udara, di mana pun dan melalui cara apapun, sekaligus memiliki kemampuan operasi raider.

Bayangkan, setelah terjun dari ketinggian ribuan kaki di udara, pasukan ini langsung menggempur musuh dalam perang paling sulit dan dalam waktu yang panjang. Itu sebabnya mengapa para Prajurit Darma Putra dikenal sangat tahan dalam bertempur. Makin lama dan berlarutnya sebuah peperangan, prajurit Kostrad makin kuat.

Baca juga:  PERESMIAN SALON KIRANA DIVIF 2 KOSTRAD

Andai Pasukan Darma Putra Masuk dalam Pelajaran Sejarah

Sangat disayangkan bila ada anak bangsa yang belum mengenal atau belum pernah mendengar nama besar Kostrad sebagai pasukan tempur Republik Indonesia. Bukankah dalam sejarah Indonesia mempertahankan kedaulatannya dari musuh-musuh pengganggu Kostrad selalu hadir sebagai ‘pasukan pemukul’?

Takdir Kostrad sebagai pemukul musuh negara, perlu diberi tempat dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Sebagai pasukan inti Angkatan Darat, jejak Kostrad ada dalam setiap pertempuran. Sebut saja operasi penumpasan pasukan komunis PGRS/Paraku di belantara Borneo pada 1962-1966, penumpasan PKI tahun 1965, Operasi Trisula 1968 yang menumpas para pelarian pelaku G30S/PKI di Madiun, Operasi Trikora, Operasi Seroja, hingga Operasi Tinombala di Poso, dan masih banyak lagi sejarah yang telah torehkan oleh Kostrad demi negeri ini.

Bukan bermaksud mengecilkan peran satuan-satuan lain, jika usulan mengenai kiprah Kostrad diperkenalkan di sekolah-sekolah. Bila perlu ada sesi pelajaran sejarah dengan prajurit sebagai penuturnya. Tentu, tanpa gerutuan dan protes “Tentara jangan masuk ke sekolah” atau “militerisasi sekolah” dari luar lembaga.

Bukankah Kostrad, sebagaimana juga satuan-satuan lain dalam TNI, memang layak diperkenalkan ke siswa-siswi sekolah, tentunya dalam koridor pendidikan karakter dan kebangsaan? Bukankah penting bagi generasi muda kita, untuk menjiwai dan betul-betul mengenal arti perjuangan dalam mempertahankan NKRI? Toh negara kita tak seperti Amerika Serikat, China, atau negara-negara lain yang memberlakukan wajib militer. Kita semua memahami porsi masing-masing, antara sekolah dengan lembaga militer. Satu sama lain tentu tak berkehendak untuk menggantikan tugas dan peran masing-masing.

Baca juga:  Kebersamaan dan Gotong Royong Menangkal Individualisme

Namun dalam hal pembentukan “National Character”, diakui atau tidak, membutuhkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme yang diharapkan mampu membangkitkan kembali nilai-nilai kebangsaan. Sekarang memang tak ada perang. Tapi pernahkan siswa-siswi sekolah menyadari, berapa ribu prajurit yang gugur sejak tahun 1945 hingga kini, demi mempertahankan Ibu Pertiwi?

Kostrad, pasukan berlambang Cakra pada baret hijaunya ini, telah terbukti ditakuti lawan dan disegani kawan. Laiknya Cakra, senjata pamungkas Dewa Wisnu, pasukan Kostrad diturunkan paling akhir: saat jalan lain tak ada lagi, selain perang. Daya tebas Cakra yang dahsyat, membuat lawan pasti lumat. Di dalam dan luar negeri, dari penugasan prajurit Kostrad di perbatasan negeri, hingga di “blue line” Lebanon, apakah masih kurang sebagai bukti?

Dirgahayu ke-58 Kostrad. Cakra!

Maria Dominique,
(Penulis Buku dan Pemerhati TNI)
Jakarta, 6 Maret 2019.

Sincerely yours,
Maria D. Erfinanto

Berita Terkait

Join the discussion One Comment

  • Franky berkata:

    Sebagai salah satu orang yang menjalankan pendidikan di indonesia ini, benar terasa bahwa kostrad tidak pernah di bahas secara langsung dan jelas, hanya pembahasan tentang tni secara garis besar yang di singgung di rancah pendidikan

Komentar