TNI AD - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Satgas Yonif 328/Dgh, Bantu Lestarikan Seni Marawis di Perbatasan RI-PNG

By 08 Mar 2019 Dinas Penerangan
2A (3)

JAKARTA, tniad. mil. Id – Guna menjaga kelestarian seni dan budaya bangsa, prajurit Satgas Pamtas Yonif PR 328/DGH memberikan pelatihan kesenian Marawis kepada Ibu-ibu di Kampung Yammua, Distrik Arso, perbatasan RI-PNG.

Tersebut disampaikan Dansatgas Yonif 328/DGH, Mayor Inf Erwin Iswari, dalam rilis tertulisnya, di Kabupaten Keerom, Papua, Jumat (8/3/2019).

Diungkapkan Dansatgas, Distrik Arso merupakan wilayah yang banyak dihuni para pendatang dan transmigran yang sudah berpuluh-puluh tahun, dan disana mayoritas penduduk beragama Islam.

“Marawis disini merupakan salah satu kesenian masyarakat, yang juga pernah di lombakan. Ini tentu bagian dari seni yang memperkaya keragaman budaya di wilayah perbatasan, dan Marawis ini merupakan salah satu kegiatan rutin Ibu-ibu Kampung Yammua yang dilaksanakan seminggu sekali,” ujar Erwin Iswari.

Berdasarkan hal tersebut, menurut Erwin, anggota Pos Satgas Yonif PR 328/DGH pimpinan Sertu Cece, yang ada di wilayah tersebut pun tergerak untuk turut melatih kesenian Marwis bagi ibu-ibu setempat.

Menurut Erwin, syair dalam kesenian Marwis yang berisi ungkapan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para Wali dan permohonan doa kepada Allah SWT, membuat keimanan dan ketakwaan warga di Kampung Yammua tersebut semakin tebal.

“Juga semakin meningkatkan kerukunan antar umat beragama disana,” tegasnya.

“Ini tentu positif dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa di wilayah perbatasan ini, sehingga kita perlu turut melestarikan kesenian yang merupakan kebangaan warga Yammua,” tambah Erwin .

Lebih lanjut Erwin menjelaskan bahwa pola permainan Seni Marawis yang sangat sederhana namun membutuhkan konsentrasi yang tinggi tersebut menurut warga adalah sebagian dari amal ibadah.

“Semakin sering manggung, maka kian banyak amal yang diperoleh mereka,” ujarnya.

“Dalam sajian seninya sendiri terlihat rumit karena para pemain harus saling mengisi nada. Teknik ini di kalangan pemain Marawis dikenal dengan istilah ‘tanya dan jawab’. Nah, dari permainan inilah lahir tiga bentuk irama atau pukulan dalam Marawis, yakni Sarah, zahefa dan Zapin,”tambah lulusan Akmil tahun 2002 ini.

Sementara itu Faqih, koordinator kegiatan Marawis Kampung Yammua mengatakan bahwa Kampung Yammua pernah mengikuti perlombaan Marawis yang diselenggarakan di tingkat Distrik.

“Kampung kami memang aktif dalam kesenian Marawis, dan kami mengucapkan syukur dengan kehadiran personel Satgas yang dapat membantu melatihkan Ibu-ibu maupun anak-anak di kampung ini. Kami berharap dengan bantuan dan pelatihan yang diberikan Bapak-Bapak TNI dapat meningkatkan prestasi Marawis Kampung Yammua,”harap Faqih. (Dispenad).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Satgas Yonif 328/Dgh, Bantu Lestarikan Seni Marawis di Perbatasan RI-PNG