Kostrad

Lagi, Peninggalan Senjata Bersejarah Perang Dunia II Diserahkan Warga

Oleh 21 Apr 2019 No Comments
#TNIAD 

JAKARTA, tniad.mil.id – Dengan penggalangan dan pendekatan secara persuasif serta kekeluargaan seorang warga Kab. Halmahera Utara serahkan senjata bersejarah sisa perang Dunia II.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Pengamanan Daerah Rawan (Satgas Pamrahwan) Letkol Inf Indra Hirawanto, dalam rilis tertulisnya, Sabtu (20/4/2019).

Menurut Indra, sejata yang diserahkan warga yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada Pos 4 SSK 1 Mede tersebut yaitu senjata jenis SMB Browning Machine Gun, Kal 12,7 MM termasuk 10 butir amunisinya.

Berdasarkan pengakuan warga yang tinggal di sekitar Danau Galela Kab. Halmahera Utara tersebut, lanjut Indra bahwa senjata itu telah dia simpannya sejak lama pasca ditemukannya beberapa waktu yang lalu.

“Di Daerah Galela Barat Kabupaten Halmahera Utara tepatnya di Danau Galela, banyak peralatan tempur yang di tenggelamkan. Diantaranya pesawat tempur, helikopter, tank, dan masih banyak senjata senjata besar lainnya,” ucap Letkol Inf Indra Hirawanto.

Lulusan Akmil tahun 2001 ini pun menjelaskan, senjata ini adalah senapan mesin berat yang dirancang setelah berakhirnya Perang Dunia I oleh John Browning. Senapan mesin ini diberi julukan “Ma Deuce” oleh tentara Amerika Serikat.

Baca juga:  482 TKI llegal Berhasil Diamankan Oleh Satgas Pamtas Yonif 611/Awang

Penamaan resmi senapan ini juga berbeda-beda, terangnya. Misalnya Browning Machine Gun, Heavy Barrel, Cal. 50, M2, HB, dan Flexible.

“Senapan mesin M2 Browning banyak dipakai sebagai senapan mesin kendaraan tempur dan kendaraan udara oleh Amerika Serikat sejak tahun 1920-an sampai saat ini. Dari Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, sampai Invasi Irak. M2 Browning merupakan senapan mesin berat utama NATO, dan banyak dipakai negara-negara lain juga sampai sekarang,” imbuhnya.

Lebih lanjut Indara memaparkan bahwa pertempuran Morotai terjadi pada tanggal 15 September 1944 pada akhir Perang Dunia II.

Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya.

Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Philipina, yang pada kala itu pulau Morotai sendiri masih diduduki oleh Jepang untuk menginvasi Philipina, Indonesia dan sebagian Malaysia.

Perang yang menewaskan ratusan tentara dari kedua kubu itu disebut-sebut sebagai salah satu perang terbesar didunia. Sementara sisa-sisa perang di Morotai meninggalkan alat-alat perang di bawah laut.

Baca juga:  Wakasad Ikut Menjadi Delegasi Indonesia Pada GBC Malindo ke-41 di Bali

Senada dengan Dansatgas, Danpos 4 SSK I Mede Sertu Agustinus Ian Laturake menyampaikan bahwa pelaksanaan pendekatan secara persuasif seperti ini akan terus digalang sampai dengan masa bakti penugasannya selesai.

“Kami akan terus mensosialisasikan dan menghimbau kepada warga yang masih menyimpan senjata api tanpa izin untuk menyerahkan kepada aparat keamanan,” pungkasnya.

Untuk diketahui bahwa Pulau Morotai sebagian besar berupa hutan dan memproduksi kayu serta damar dan sangat strategis sebagai jalur perdagangan di timur Indonesia. Selain itu, Pulau Morotai memiliki kekayaan alam seperti Emas, Biji besi dan lain-lain, juga potensi wisata bahari yang mempesona. (Dispenad)

Berita Terkait

Komentar