ArtikelHikmah Ramadhan

Kesempatan Itu Ahirnya Datang Terima Kasih Ya Allah

Oleh 09 Mei 2019 No Comments
#TNIAD 

Bismillah, Motivasi cerita seklumit yang mungkin tak ada makna. Seingat saya, saya mulai berpuasa Ramadhan sejak usia 7 tahun namun dengan berbagai proses, misalnya puasa beberapa hari saja kemudian sisanya bablas, puasa sampai Dzuhur hingga akhirnya puasa penuh sampai Maghrib. Selama berpuasa sampai dengan usia saya sekarang ini, ada banyak pengalaman berkesan yang unik dan menjadi kenangan hingga sekarang.

Setiap Ramadhan tiba di mushola dekat rumah  ada kegiatan rutin setelah sholat subuh berjamaah lalu dilanjutkan dengan kegiatan ceramah.

Bulan Ramadhan hari ketiga waktu saya mulai ikut berpuasa, saya diajak oleh tante terkadang om ke mushola  untuk sholat subuh berjamaah, lalu mendengarkan ceramah singkat yang biasa kita kenal kuliah tujuh menit (KULTUM).

Awal saya diajak suka saya tanyakan pada om atau tante kenapa ceramahnya singkat.

“Mereka sering jawab biar ga ngantuk kamu nang” jawab mereka. Saya tidak tanyakan lebih lanjut sebab saya tak mempedulikan hal itu. Yang terpenting saya bisa hadir dan dapat mendengarkan ceramah dengan jarak dekat, tidak seperti hari-hari biasa jika ada pengajian atau acara keagamaan saya hanya bisa nyimak dari jauh.

Pada hari ke lima dibulan Ramadhan, saya usia 10 apa 9 tahun gitu lupa, kala itu ceramah ustad yang membuat saya terkesan hingga saat ini pak USTAD dalam ceramahnya membahas tentang wajibnya manusia mengajak manusia lainnya untuk berbuat baik. Untuk mengajak ke jalan Allah, “terutama di bulan Ramadhan seperti ini” kata beliau pada kami jamaah yang hadir.

Selain isi ceramahnya yang menarik untuk saya dengarkan cara serta penyampaiannya beliau menggunakan bahasa indonesia. Bahasa yang jarang digunakan untuk ceramah di kampung saya.

Setelah ikut KULTUM di mushola lalu  saya diajak jalan-jalan ke kampung sebelah, dan rasanya sungguh luar biasa. Ada rasa senang, sedih juga kenapa momen seperti ini hanya bisa saya rasakan di bulan Ramadhan saja.

Kesempatan seperti ini hanya di waktu Ramadhan saja bisa saya dapatkan. Bisa ke mushola, ikut jalan pagi bersama saudara, dan banyak kegiatan yang dapat saya ikuti bila di hari atau bulan lainnya om dan tante tidak sempat mengajak saya untuk sejenak keluar rumah. mereka sudah sibuk dengan kesibukan sekolah atau rutinitas lainnya.

Pengalaman yang tak kalah unik dan sampai saat ini masih sulit saya lupakan adalah di waktu saya hampir tenggelam disungai.

Dulu di kampung saya belum ada kamar mandi di rumah, beda demak sekarang, sudah banyak bahkan hampir semua rumah ada kamar mandi di dalamnya. Dulu jika ingin mandi dan aktifitas lainnya yang berhubungan dengan air ya harus ke sungai.

Kejadian ini saya usia 11 tahun, ceritanya begini, saya ke sungai untuk mandi supaya segar maksud hati, puasa waktu itu kebetulan musim sedang memasuki kemarau jadi cuaca sedang panas-panasnya.

Baca juga:  Unik Ajakan TNI di Perbatasan

Karena kurang hati-hati, saya terpleset dan terjatuh ke sungai, jika tidak ada orang yang menolong mungkin saya bisa hanyut.

Akibat kejadian itu saya takut untuk ke sungai sampai sekarang.

Jika dekat sungai, kuping saya tidak dapat mendengarkan apapun kecuali suara air bergemuruh dan sering saya coba lupakan kejadian itu tetapi hingga saat ini belum berhasil juga.

Kejadian ini pada tahun 2006, Saya sedang di tempat pendidikan khusus tuna netra Balai Pendowo di Kudus, Jawa Tengah.

Dalam masa pendidikan tahun ke dua, saya dan shahabat saya di panggil ke kantor oleh pembimbing Kami atau istilah umum wali kelas. Selama saya sekolah di lembaga tersebut saya berusaha untuk disiplin dan menjadi siswa yang setidaknya bisa dikatakan baik. Selama saya di sini memasuki kantor pembimbing baru satu kali waktu awal saya masuk disini. Jika kali ini saya dipanggil pastilah ada yang sudah saya langgar.

“Ada apa ya di kita suruh ke kantor? Tanya supri shahabat saya. Daripada bertanya-tanya, mending kita langsung saja kesana” jawab saya singkat.

Kalian tau kenapa di panggil ke kantor? Tanya pembimbing kami. Dengan,  bersamaan saya dan sahabat saya jawab tidak tau.

“Begini Hadi dan kamu Supri dengarkan dan tolong simak penjelasan saya dengan seksama ya. Bulan depan kan ulang tahun Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) dan dalam rangka memeriahkan ulang tahun tersebut, setiap lembaga maupun organisasi mengutus salah seorang anggota, siswanya untuk hadir untuk menyampaikan aspirasi juga mendukung agar Pertuni semakin semangat untuk memperjuangkan disabilitas netra supaya memiliki kesempatan seperti rakyat lainnya, dan pada acara tersebut akan ada sosialisasi tentang HP bicara. Nah, kalian berdua kami utus untuk kesana karena dari 60 siswa yang ada di pendowo. Hanya kalian berdua yang lancar bahasa Indonesia, kalian juga selama dua tahun disini paling rajin mengikuti extra kulikuler terutama extra komputer bicara dan HP bicara.”

Tanpa memberi kesempatan pada kami untuk berpendapat, pembimbing kami terus saja menyampaikan informasi serta alasan kenapa kami di panggil ke kantor, dan penjelasan kenapa harus kami yang ditunjuk untuk hadir di acara HUT PERTUNI bulan depan.

Padahal jika boleh berpendapat alasan yang dikemukakan pembimbing kami itu tak semuanya benar. Saya memang suka mengikuti kegiatan yang diadakan oleh lembaga termasuk extra.

Soal hobi sebenarnya saya paling suka jika membaca diperpustakaan sekolah. Bagi saya membaca itu ibarat makanan pokok. Komputer bicara atau HP, itu saya kurang tertarik mempelajarinya.

Tapi, saya ingat pesan kakek sebelum saya berangkat kesini “seraplah ilmu yang ada di sekolahan nanti tanpa memilah dan memilih” pesan itulah yang saya pegang hingga saat ini..

Baca juga:  Tinjauan Sekilas Tentang Perang Terorisme Sebagai Strategi Perang Asimetrik Modern Abad 21

Ada rasa ragu juga saat pembimbing menunjuk saya untuk ke HUT pertuni, tapi apa salahnya jika sedikit pengetahuan ini  untuk disebar luaskan. Tentunya dengan batasan-batasannya.

Banyak siswa disini yang rajin ikut extra juga, soal berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia memang iya saya akui hanya beberapa orang saja yang bisa berbahasa indonesia dengan lancar diantaranya saya dan supri shahabat saya, terlebih paham.

Bukan salah mereka sebenarnya tetapi keadaanlah yang membuat mereka kurang wawasan apa lagi mempelajari bahasa indonesia. “Bisa bahasa Indonesia serta menggunakannya dalam bercakap-cakap ya ketika ada di ini mas” kata mereka pada saya ketika  kami santai-santai di asrama.

Sebelum mereka masuk ke lembaga pendidikan khusus tuna netra, kegiatan mereka hanya di kamar dan tidak pernah mendengarkan atau bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.

Sulit di percaya memang, tetapi faktanya seperti itu adanya.

Sebenarnya kegiatan Saya tak jauh beda dengan mereka, hanya saya  masih beruntung ketimbang mereka, sebelum masuk di balai pendowo ini kegiatan saya sehari-hari juga di kamar jika bercakap-cakappun tak pernah menggunakan bahasa indonesia, tetapi waktu itu om dan tante setiap belajar kelompok bersama teman-temanya seringnya di rumah. Ketika mereka sedang belajar kelompok bersama teman sekelasnya , mereka sering menggunakan bahasa indonesia dalam membaca soal atau diskusi, dan saya sering curi dengar dari kamar.

Ditambah sering mendengarkan radio, jadi saya bisa tahu misal (kamu) itu apa maksudnya. Saya dari kecil memang hobi mendengarkan radio, Kakek yang membelikannya untuk saya. “Ini radio buat hiburan kamu di kamar” kata kakek pada saya.

Jadi radio adalah tempat belajar berbagai pengetahuan serta teman dikala jenuh datang. Lewat radiolah saya bisa tahu demak itu kabupaten kebonagung adalah kecamatan dan seterusnya.

Meski hanya di  imajinasi saja saya bisa tahu, tetap saya bersyukur karenanya. Ada sih keinginan dan harapan untuk bisa pergi ke kecamatan atau kabupaten, jikalau mungkin saya ingin pergi ke provinsi secara nyata suatu saat nanti.

Ah, rasanya tak mungkin ada kesempatan itu untuk seseorang seperti saya.

Ketika semua keluarga pada rutinitas saya di kamar mendengarkan radio, chanel radio yang sering saya dengarkan adalah RRI. Buat saya radio tersebut banyak manfaatnya,  untuk saya. Selain menyiarkan berita RRI juga menyiarkan atau memutar cerita dongeng sanggar cerita dan kegiatan belajar mengajar layaknya di sekolah. Dari radiolah saya dapat belajar banyak mulai dari mengenal sejarah hingga bahasa negri indonesia ini.

Ketika saya mendapat kesempatan mengenal dunia luar, memasuki lingkungan pendidikan alhamdulillah saya mampu dengan cepat untuk menyesuaikan. Bukan bermaksud sombong loh ya. Alasannya seperti yang sudah saya sampaikan di atas, untuk (ABZ) dan merangkai kata sebenarnya saya sudah sedikit paham, jadi ketika masuk ke pendowo tinggal menyesuaikan saja.

Baca juga:  Angkatan Darat yang Semakin Membuka Diri

Waktu yang telah di tunggu ahirnya tiba, saya dan shahabat saya berangkat ke semarang ke kantor pertuni dengan menggunakan mobil lembaga. Saya baru tau seperti apa kota semarang, dan tidak disangka, saya dapat berkunvjung ke studio RRI semarang.

Keinginan sedari kecil dan harapan yang selalu saya hapuskan dari pikiran ini meski hati kecil sering berkata bahwa kesempatan itu pasti akan kamu dapat suatu saat nanti, tetapi saya mencoba menekan dan membuang jauh harapan dan keinginan tersebut dari pikiran saya. Bisa ikut rangkaian kegiatan ramadhan di luar rumah buat saya sudah luarbiasa.

Saat ini impian itu keinginan dan harapan yang sudah lama saya lupakan ternyata dapat saya raih dengan tak disangka. Saya bisa mengunjungi profensi yang sudah lama saya ingin pergi berkunjung dan menikmati udara didalamnya, sekaligus bisa berkunjung ke studio RRI. Radio yang jadi tempat saya belajar.

Ceritanya begini saya diajak mampir shahabat saya ke rumahnya ketua Pertuni. Tak disangka ternyata  Rumah beliau dekat dengan  studio RRI. Dan ketika saya mampir ke rumah beliau, sama beliau kami di ajak berkunjung ke sana, itulah jalan ceritanya saya bisa berkunjung ke studio RRI, Dapat langsung menyentuh, memasuki ruang siarann serta berkenalan dengan para penyiar RRI. Jujur kesempatan seperti ini adalah impian terbesar saya dari dulu ternyata 2006 impian itu dapat saya raih. Ternyata sang pencipta memberi jalan supaya saya bisa benar secara nyata berkunjung kesana.

“Ini hikmahnya kita nurut kata guru Hadi” kata sahabat saya.

Memang, saya akui tak mungkin ada kesempatan bisa berkunjung ke studio RRI radio favorit saya jika tak ada arahan dari pembimbing untuk mewakili lembaga.

Untuk itu janganlah berpikir soal ketidakmampuan ketika ada kesempatan yang terbuka untuk Kita. Bisa jadi kesempatan tersebut adalah tangga untuk meraih cita atau impian Kita.

Pelajarilah semua yang ada disekitar Anda, tentunya maksimal kemampuan ya, karena bisa jadi suatu saat ilmu itu sangat kita butuhkan.

Jangan ragu, selama ada yang mau mengajarkan atau membimbing kita, bersungguh-sungguhlah dalam menyerap ilmunya, bisa jadi Allah menitipkan solusi masa depan kita melalui ilmu atau orang yang kurang kita sukai. Mempelajari ilmu yang sesuai hobi itu boleh, tetapi pengetahuan lainnya juga harus dipelajari serta dipahami. Misalnya Anda mempelajari ilmu militer, Anda juga harus pelajari ilmu agama serta lainnya supaya Anda tetap rendah hati dan jadi manusia yang berjiwa besar juga bijaksana.

Itulah sekelumit pengalaman di waktu saya berjumpa dan menjalani puasa di lingkup sekolah dan pengalaman sebelum sekolah. Meski singkat dan tak menarik, semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Berita Terkait

Komentar