Kostrad

Satgas Yonif 731/Kabaresi Gelar Proses Rekonsiliasi antar Umat Beragama Desa Waringin

Oleh 09 Mei 2019 No Comments
Img 20190509 Wa0023
#TNIAD 

JAKARTA, tniad.mil.id – Sebagai bagian dari proses Rekonsiliasi konflik antar umat beragama yang pernah terjadi di Desa Waringin serta masih adanya indikasi laten yang sewaktu-waktu bisa timbul kembali, Satgas Yonif 731/Kabaresi gelar khitan massal, pembagian Sembako kepada warga yang kurang mampu dan makan pattita bersama.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif 731/Kabaresi, Letkol Inf Hendra Hirawanto dalam rilis tertulisnya

Menurut Hendra pertikaian yang masih sering timbul di daerah ini menyebabkan orang mudah sekali salah paham sehingga kekerasan muncul disini, sehingga muncul ide untuk memanggil & mengumpulkan beberapa tokoh agama dan tokoh pemuda untuk membahas proses rekonsiliasi antar masyarakat yang masih sangat dibutuhkan.

“Dikarenakan antar warga masih muncul saling ketidakpahaman dan saling curiga akibat dampak trauma konflik yang pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Perpecahan kerusuhan yang terakhir terjadi pada tanggal 11 September 2011 di lorong Desa Waringin antara umat Muslim dan Nasrani yang menjalar ke berbagai sudut di Kota Ambon lainnya.

“Bentrokan itu, pada awalnya dipicu karena kesalahpahaman anatara warga pemuda Desa Waringin yang pada saat itu tengah dalam kondisi dipengaruhi oleh Miras,” ujar Hendra.

Berlanjut sampai dengan 12 September 2011, dua kelompok massa saling melempar batu, memblokir jalan dan merusak kendaraan di sejumlah titik di Kota Ambon serta sejumlah rumah warga dibakar.

“Akibat peristiwa ini, tujuh orang tewas, lebih dari 60 orang Luka-Luka, dan ribuan orang mengungsi,” sambung Hendra.

Selanjutnya, Hendra menjelaskan bahwa untuk lebih mempererat tali silaturahmi antar kedua umat beragama yang pernah saling berselisih paham ini. Maka Satgas Yonif 731/Kabaresi menjembataninya, dengan membuat khitan massal bagi umat Muslim yang dipersiapkan dan dikerjakan oleh umat Nasrani.

“Untuk pembagian Sembako yaitu dari pihak Muslim menyiapkan dan membagikan kepada yang membutuhkan sedangkan untuk makan pattita sendiri umat Muslim dan Nasrani saling bahu membahu dalam menyiapkan makanannya,” terangnya.

Sementara itu, pembukaan acara makan pattita yang dihadiri oleh Danki SSK IV Lettu Inf Vicody Andreas, menyampaikan dalam sambutannya kepada seluruh warga yang hadir bahwa, “kekerasan dan pertikaian merupakan hal yang tidak berguna dan tidak bermoral. Bangsa-Bangsa sudah seringkali memenangkan kemerdekaan melalui peperangan. Tetapi itu hanyalah kemenangan sementara, kekerasan tidak pernah memberikan perdamaian abadi,” ucapnya.

Di akhir masa purna tugas Satgas Yonif 731/Kabaresi, Danki SSK IV juga berpesan kepada seluruh masyarakat Maluku agar lebih menjaga stabilitas keamanan dan meningkatkan kerukunan antar suku, agama dan ras yang masih sering menjadi hal yang rawan terjadinya pertikaian di daerah Maluku ini.

“Pesan dan kesan yang tersampaikan dalam acara ini hendaknya menjadi motivasi dan pelecut perdamain dan harus tertularkan kepada pihak-pihak lainnya,” pungkasnya. (Dispenad)

Komentar