Kostrad

Kesulitan Proses Persalinan, Rose (19) Diselamatkan Satgas Yonif 328

Oleh 16 Jun 2019 Tidak ada komentar
Kesulitan Proses Persalinan, Rose (19) Diselamatkan Satgas Yonif 328
#TNIAD 

JAKARTA, tniad.mil.id – Jalani kesulitan dalam proses persalinan yang tidak normal, dan kemudian sang bayi meninggal karena mengalami hipotermia, Rose (19) warga Kampung Mosso, berhasil diselamatkan oleh Tim Kesehatan Satgas Yonif PR 328

Hal tersebut disampaikan oleh Dansatgas Pamtas Yonif PR 328/Dgh Kostrad, Mayor Inf Erwin Iswari, S.Sos., M.Tr (Han)., dalam rilis tertulisnya, Jayapura, Minggu (16/6/2019).

Dijelaskan Dansatgas, kejadian tersebut bermula ketika Sekretaris Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Jayapura Yessi (suami Rose) meminta tolong kepada Satgas untuk membantu persalinan prematur yang dialami istrinya.

“Menurut laporan anggota Dan Pos Satgas (Lettu Arm Ilham), Bapak Yessi datang sekitar pukul 03:00 WIT, dan meminta bantuan atas proses persalinan prematur yang dialami istrinya, Rose,” ungkapnya.

“Ketika melihat langsung, ternyata kondisi bayi dalam keadaan terbalik, yang keluar itu kaki bayi dahulu dari rahim sang Ibu,” imbuhnya.

Dari kondisi itu, lanjutnya, Rose mengalami kesulitan dalam melahirkan bayi yang menurut bapaknya Prematur.

“Ini tidak hanya membahayakan bayi saja, namun juga keselamatan sang ibu. Alhamdulilah saat itu proses persalinan berjalan dengan lancar dan keduanya selamat,” ujar Erwin.

Namun, kata Erwin, tak lama kemudian, kondisi bayi memburuk, sehingga oleh personel Satgas segera di bawa ke Rumah Sakit (RS) Kota Barat.

“Bayi laki-laki itu, didiagnosa perawat mengalami hipotermia dan kekurangan oksigen, sehingga nasibnya tidak tertolong. Dimungkinkan karena proses persalinannya yang prematur dan kondisi sungsang,” jelasnya.

“Sementara itu, Ibu Rose, kondisinya sehat dan dalam poses pemulihan,” tambahnya.

Dikatakan Erwin, dari berbagai informasi yang diperolehnya, Hipotermia atau permasalahan pada bayi yang baru lahir disebabkan karena proses peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin.

“Dari beberapa referensi yang saya baca, saat pertama kali bayi keluar dari rahim, merupakan kondisi kritis karena memerlukan berbagai perubahan biokimia dan Faali,” ujar Erwin.

“Dimana peredaran darah melalui plasenta digantikan fungsi paru-paru, berfungsinya saluran cerna untuk menyerap makan, berfungsinya ginjal mengeluarkan bahan tidak terpakai untuk mempertahankan homeostatis kimia darah, fungsi hati menetralisir dan mengekresi racun dalam tubuh, serta lain sebagainya,” rinci Erwin.

Jadi, lanjutnya, kondisi awal bayi itu sangat rentan dan memerlukan perhatian dan perlakuan khusus.

“Apalagi jika sang bayi dilahirkan prematur. Sesungguhnya kondisi mereka masih belum siap dengan perubahan-perubahan tadi,” tegasnya .

Dari peristiwa itu, Erwin menegaskan bahwa semua pihak (keluarga Yessy, anggota medis Satgas, maupun RS) telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Ibu dan Bayi.

“Namun semuanya kembali kepada kodrat Yang Maha Kuasa. Semoga keluarga kembali lekas pulih dan dapat mengikhlaskan sang bayi,” imbuhnya.

Untuk meringankan beban keluarga Yessi, abituren Akmil 2002 ini pun menyampaikan bahwa pihaknya telah membantu penyiapan pemakaman bagi sang bayi.

“Sebagai bentuk rasa bela sungkawa dan membantu meringankan keluarga, kita bantu pemakaman jenazah,” paparnya.

Terpisah, atas kejadian yang dialami istri dan anaknya, Yessi mengaku sudah ikhlas dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Saya Ikhlas, ini sudah takdir saya dan keluarga,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada personel Satgas, atas bantuan dan kerja kerasnya, mulai dari proses melahirkan hingga pemakaman jenazah.

“Terima kasih pada Satgas yang dengan ikhlas membatu saya,” tandasnya. (Dispenad).

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel