Penulis Disabilitas

Dulu, Sekarang, dan Esok

Oleh 16 Sep 2019 Tidak ada komentar
hadi keluarga
#TNIAD 

Bismillah, Seorang dosen masuk ke dalam ruangan kuliah, kemudian mengeluarkan satu kotak domino yang telah diberi nomor secara berurutan. Ia lalu menegakkan seluruh domino itu satu persatu.

Para mahasiswa mengira pasti sang dosen hendak memperlihatkan efek domino. Mereka memperhatikan dengan seksama.

“Kalian perhatikan baik-baik, Saya akan menjatuhkan domino pertama dan lihat apa yang terjadi.” Lantas dijatuhkanlah bagian yang berada paling depan tersebut.

Tentu semua orang yang berada di ruangan itu tahu bahwa yang terjadi berikutnya adalah seluruh domino itu akan ikut berjatuhan secara berurutan dari depan ke belakang. Dan memang itulah yang terjadi.

“Domino ini sengaja Saya tulis angka, untuk menunjukkan bahwa sejatinya setiap papan domino ini mewakili usia kita,”

Seperti kebiasaan sang dosen, hari itu beliau juga menerangkan dengan sebuah metafora,

“Maka kalian ingatlah, apa yang terjadi pada kita tahun ini adalah hasil dari perbuatan, minset, serta pola pikir tahun lalu. Dan apa yang dilakukan dan minset kita tahun ini akan menentukan seperti apa kita di tahun yang akan datang. Karena seluruh rangkaian usia kita saling berhubungan, seperti domino ini!”

Tidak cukup dengan ucapan saja, beliau lalu meraih sebuah spidol dan menuliskan dengan huruf yang besar di papan tulis,

Today is yesterday’s effect. And today is tomorrow’s cause.

Para mahasiswa menyadari pelajaran yang sangat berharga pada hari itu, bahwa masa depan ditentukan sikap kita pada hari ini.

Prinsip seperti ini dijabarkan dalam Al-Quran pada kisah Nabi Yusuf yang menganjurkan sang raja Mesir agar bersikap bijak selama tujuh tahun. Karena apa yang terjadi pada tujuh tahun berikutnya ditentukan dari sikap sang raja saat itu.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

Nabi Yusuf berkata, “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Surat Yusuf : 47).

Kalaulah rangkaian usia ini tak saling berhubungan antara dulu, sekarang, dan akan datang, tentulah Nabi Yusuf tak akan mengajarkan tentang hal tersebut.

Jelas sudah, siapa yang memperbaiki sikap, minset, serta kesiapan lahir dan batin di hari ini, akan baiklah pula keadaannya di masa depan. Setop sikap dan kebiasaan yang merugikan dan bakal berdampak pada kehidupan di masa depan, seperti malas, dan menunda berbuat baik. Dan yang tak kalah pentingnya dengan selalu menyertakan positif, ikhlas, juga semangat dalam pikiran sejalan dengan langkah..

Senantiasa dekati Allah dalam kelapangan juga ketika dalam kesempitan. Ingatlah Ia di setiap bahagia dan sedih kita. Jangan pernah melupakanya meski sekejap. Dan jangan biarkan ingatan kita kepadanya kalah kepada ingatan kita kepada manusia. Siap?

Semoga bermanfaat

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel