Dinas Penerangan

Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, Cikal Bakal TNI AD

Oleh 04 Sep 2019 1 komentar
Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, Cikal Bakal TNI AD
#TNIAD 

JAKARTA,tniad.mil.id,- Mungkin sebagian masyarakat belum mengetahui, jika Museum TNI-AD Dharma Wiratama yang ada di Yogyakarta merupakan bagian dari peninggalan sejarah terbentuknya

Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat.

 

Hal tersebut dikatakan Kepala Balakmusmonpus Disjarahad Kolonel Arm Hery Purwanto saat dihubungi melalui telepon seluler di Jogyakarta, Selasa (03/9/2019).

 

Hery menuturkan, Museum TNI AD Dharma Wiratama yang dibangun masa pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1904 tersebut, berdiri di atas tanah seluas 5.881 m² dimana pada awalnya digunakan

sebagai Kantor administratur perkebunan Belanda.

 

“Paska perpindahan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, periode 1945-1948, museum ini merupakan Markas Tertinggi TKR dan saat itu secara aklamasi melalui konferensi TKR (12 November 1945) berhasil memilih Kolonel Sudirman yang saat itu sebagai Komandan Divisi V Kedu/Banyumas menjadi Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat.

 

“Tahun 1942 sampai 1945 saat Jepang berkuasa, bangunan ini digunakan sebagai markas militer Jepang, dan di bagian belakang dibangun bunker (tempat berlindung di dalam tanah) yang sampai

saat ini dirawat dengan baik,’’ ujar Hery.

 

“Selain itu, bangunan tersebut juga merupakan saksi sejarah peristiwa G30S/PKI, dimana pada tahun 1961-1980 saat dijadikan Markas Korem 072/Pmk, terjadi penculikan Danrem dan Kasrem oleh PKI

yang kemudian dibunuh oleh oknum Batalyon L saat itu,’’ terangnya.

 

Lebih lanjut dikatakan, setelah dijadikan Museum TNI AD, sampai saat ini stigma masyarakat Jogyakarta masih beranggapan bahwa bagunan tersebut masih merupakan kantor Korem 072/Pmk, sehingga keberadaannya tidak diketahui masyarakat luas.

 

“Melihat kondisi itu, saat ini kita berupaya mempromosikan kembali museum ini, dengan menggelar berbagai kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, antara lain diffable goes to museum, sarasehan nilai-nilai kepahlawanan, lomba menggambar, ngopi di museum, historical bike, sampai acara Ojo Lali Sarapan,’’ tuturnya.

 

“Melalui kegiatan tersebut, kita berharap dapat menumbuhkan minat dan wisata sejarah, sebagai tempat pembelajaran ilmu sejarah, menggelorakan semangat cinta tanah air, kegiatan sosial serta menghilangkan stigma di masyarakat yang masih beranggapan bangunan ini sebagai kantor Korem,’’ tandasnya. (Dispenad)

Terkait

Gabung dalam diskusi 1 komentar

  • Sugi Kawulo Alit berkata:

    TNI lahir tumbuh dan besar bersama rakyat.

    Panglima Besar Jenderal Sudirman tampil sebagai sosok pemimpin yang sederhana.
    Di kalangan prajurit, beliau adalah sosok yang paling dihormati.
    Sudirman tak pernah punya cita-cita menjadi jenderal.
    Maklum, beliau sadar bahwa bumiputra biasa macam dirinya mustahil menjadi jenderal. 
    Bisa dibilang pendidikan militer Sudirman saat itu kurang.
    Lantas mengapa Sudirman bisa jadi jenderal?
    Tentu saja karena saat itu paksaan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang serba begitu darurat.

    TNI tidak boleh netral dalam hal menghadapi ancaman terhadap keamanan negara dan bangsa, baik yang terindikasi datang dari luar maupun dari dalam.

    Kalau TNI netral, berpangku tangan dalam hal urusan-urusan yang yang dapat menjadikan disintegrasi bangsa, maka akan ambruklah negara.
    Akan habislah rakyat dibantai.
    Akan menjadi zombie-zombielah generasi muda karena narkoba.
    Akan muncullah rezim totaliter.
    Akan tersingkirlah Pancasila.

    #BravoTNI #TNIAD #TNIAL #TNIAU

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel