Kodam XII/Tanjungpura

Pangdam XII/Tpr: Padamkan Karhutla Perlu Sinergi dan Kolaborasi

Oleh 27 Sep 2019 Tidak ada komentar
Pangdam XII/Tpr: Padamkan Karhutla Perlu Sinergi dan Kolaborasi
#TNIAD 

JAKARTA, tniad.mil.id – Upaya pencegahan dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan maupun lahan (Karhutla) di wilayah Kalbar, diperlukan adanya kolaborasi dan sinergi dari government, akademisi, bisnis, comunity dan media (GABCM).

 

Hal tersebut disampaikan Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad, dalam keterangannya selaku narasumber pada rapat koordinasi antara Badan Restorasi Gambut (BRG) RI bersama Stakeholder Provinsi Kalbar di Kota Pontianak, Kamis (26/9/2019)

 

Dijelaskan Pangdam XII/Tpr, saat ini pemerintah mempunyai anggaran di BPBD, BRG, TNI-Polri dan Dinas LHK. Menurutnya, anggaran tersebut perlu disatukan dalam satu wadah sehingga semua dana yang ada itu dapat menjadi kekuatan untuk menanggulangi karhutla tahun depan.

 

“Istilahnya kita serbu atau keroyok ramai-ramai sehingga harapan gubernur dan presiden untuk Kalbar bebas asap dan api bisa kita wujudkan,” tutur Pangdam.

 

Rapat koordinasi yang digelar di Ballroom Hotel Kapuas Palace, Jalan Budi Karya, Pontianak ini dibuka oleh Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji, S.H., M.Hum dalam rangka untuk mensinergikan kinerja BRG RI dan Tim Restorasi Gambut Daerah Provinsi Kalimantan Barat serta seluruh stake holder pemegang konsesi pada lahan gambut dengan visi dan misi Gubernur.

 

Selanjutnya menurut Pangdam bahwa peran akademisi diharapkan dapat diperoleh metode atau teknologi untuk menemukan bibit-bibit jenis padi baru yang bisa digunakan untuk ditanam di lahan gambut atau garapan baru, sehingga nantinya akan menjadi produk unggulan dari masyarakat setempat.

 

“Bisnis atau perusahaan, dalam membuka lahan perusahaan tidak boleh lagi membuka lahan dengan cara manual mereka harus menggunakan metode mekanisasi pertanian,” tuturnya.

 

Selain itu dijelaskannya diperlukan kearifan lokal antara comunity atau komponen masyarakat, peran tokoh adat dan tokoh masyarakat sangat penting dalam penanggulangan karhutla.

 

“Di Kalimantan ini ada Budaya Huma Betang, ternyata ini adalah kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Budaya membuka lahan dalam Huma Betang semuanya terkonsep dan terkordinir,” terang Pangdam.

 

Hal Ini, sambung Pangdam, perlu untuk digali lagi, sehingga bisa menjadi prototype yang akan kita bangun. Huma Betang ini tugasnya kalau ada masyarakat yang akan membuka lahan harus melapor di tingkat kelurahan dan tentunya harus difasilitasi sarana dan prasarana.

 

“Inilah nilai budaya yang kita angkat sehingga kita diharapkan dapat mengingatkan kembali kepada leluhur kita bahwa masyarakat asli orang Kalimantan punya budaya yang luhur dalam membuka lahan sehinggga tidak menimbulkan dampak kerusakan di alam,” tambahnya menjelaskan.

 

Terakhir adalah peran dari media, peran media sangat penting bagi kita karena dengan program yang dipublikasikan ke media diharapkan masyarakat akan lebih cepat dalam mentransformasi dari gerakan upaya pencegahan karhutla yang akan dilaksanakan.

 

“Media tentunya sebagai penyeimbang dan katalisator serta informator, kita harapkan media-media ini kita maksimalkan peran sertanya untuk mendukung program-program pemerintah yang ada,” pungkas Pangdam. (Dispenad)

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel