Kostrad

Aksi 25 Jam Tim Bela Diri Satgas Yonif 303 dan Masyarakat Mahulu Raih Rekor MURI

Oleh 28 Okt 2019 Tidak ada komentar
Aksi 25 Jam Tim Bela Diri Satgas Yonif 303 dan Masyarakat Mahulu Raih Rekor MURI
#TNIAD 

 

JAKARTA, tniad.mil.id – Aksi 25 jam bela diri Satgas Pamtas Yonif Raider 301/SMS Kostrad dan Tarian pada _Festival Hudoq Crossbirder_ yang digelar masyarakat Mahakam Hulu (Mahulu) berhasil memecahkan rekor Muri.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif Raider 302/SSM Letkol Inf Taufik Ismail, S.Sos. M.I.Pol.,dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Minggu (27/10/2019).

Dikatakannya, festival tari yang memecahkan rekor Muri yaitu Menari Hudoq selama 25 jam yang diikuti oleh kurang lebih 2.000 penari yang terdiri dari seluruh kontingen lapisan masyarakat yang terdiri dari perwakilan setiap kecamatan se-kabupaten Mahakam Ulu ini ditutup secara meriah.

“Festival Hudoq ini selain menampilkan tarian yang melibatkan 2000 penari, dan dilakukan selama 25 jam, juga menampilkan berbagai aksi demonstrasi prajurit Satgas Yonif 303/SSM antara lain, kemahiran double stick, beladiri karate serta penampilan bela diri anak-anak didik kami, “tutur Dansatgas.

Penutupan festival hudoq ini dipimpin langsung oleh Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh, S.H., ini diawali dengan penampilan tari kreasi pedalaman dan dilanjutkan dengan pembacaan juara lomba tari pedalaman kreasi, lomba kuliner tradisional dayak, lomba lagu daerah, lomba pakaian adat dan lomba olahraga tradisional.

Dalam sambutannya Bupati Mahakam mengatakan bahwa Hudoq bukan sekedar tarian adat, namun lebih merupakan sebuah cipta karsa yang berakar dari keluhuran budi dan pemahaman yang mendalam tentang lingkungan alam. Keduanya kemudian bermuara pada pengakuan tentang adanya kekuatan yang maha agung, yang menjadi sesembahan leluhur etnik Dayak.

“Setelah bergembira mengikuti pagelaran Hudoq Crossborder 2019 ini, saya sangat berharap bahwa semua warga Kabupaten Mahakam Ulu, akan semakin taat beribadah, sesuai dengan keimanan dan ajaran agamanya masing-masing. Dulu, leluhur kita selalu memohon kepada Sang Mulia Yang Agung, agar diberi panen yang melimpah. Sekarang, kita wajib mempedomani tradisi berdoa dalam setiap melaksanakan tugas kita masing-masing dan bersyukur atas hasil yang kita peroleh,” ujar Bupati.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel