
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Letnan Jenderal TNI Mulyono memimpin Apel Gabungan dengan seluruh warga Mabesad di lapangan Apel Mabesad, Jakarta Pusat, Rabu (22/07). Apel gabungan ini dimaksudkan sebagai wahana halal bihalal/ silaturahmi dengan seluruh Prajurit dan PNS di lingkungan Mabesad, setelah kembali dari cuti bersama untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H.
Pada kesempatan pertamanya Kasad mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Disusul ucapan terimakasih kepada seluruh prajurit dan PNS mabesad, karena selama pelaksanaan cuti bersama tidak ada laporan yang merugikan institusi, semua kembali dalam keadaan aman, semua bisa berkumpul dengan keluarga dan bisa merayakan hari raya bersama family di kampung halaman masing-masing dengan keadaan tenang.
“Cuti merupakan suatu kesejahteraan, cuti lebaran merupakan agenda tahunan, dengan demikian setelah kita melaksanakan cuti, hendaknya dapat menjadi penyemangat dan motivator sehingga ke depan kita dapat melaksanakan tugas lebih baik lagi”, tegas Kasad.
Semua Memiliki Peran
Selanjutnya, Kasad menjelaskan bahwa tugas menjadi Kasad merupakan tugas yang sangat strategis, sehingga tidak mungkin dapat melakukan tugas ini sendiri. Oleh karena itu perlu dukungan dari semua pihak baik itu militer maupun PNS. Semua memiliki peran sesuai emban tugas dan tanggung jawab yang diembannya.
Kasad menambahkan, bahwa Kasad, Wakasad, para Asisten dan seluruh prajurit (Perwira, Bintara, Tamtama) serta PNS Angkatan Darat) adalah suatu bagian dari sistem yang memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Sama dalam arti kata, selama ini telah ikut membesarkan Angkatan Darat, ikut menjaga nama baik Angkatan Darat. Jadi maju dan tidaknya Angkatan Darat ada di pundak kita semua.
Dengan demikian, tidak boleh ada manajemen ketakutan karena kita adalah satu sistem, dalam satu sistem apabila ada subsistem yang trouble maka semua pasti akan trouble. Misalkan seorang Tamtama menghindar karena takut bertemu Jenderal karena merasa dirinya kecil, takut salah dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat berakibat tidak sehat dalam pembinaan ke depan. “Oleh karena itu, sekali lagi di antara kita tidak boleh ada manajemen ketakutan yang nantinya akan menghantui diri kita masing-masing sehingga dapat menghambat pelaksanaan tugas ke depan”, jelas Kasad.
Untuk mendukung itu semua, maka agar kita bisa melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab dan sesuai prosedur, kuncinya adalah disiplin. Disiplin yang muncul dari kesadaran diri pribadi bukan karena ada atasan atau pimpinan yang mengawasi, bukan karena perintah atau ketakutan. Sehingga apabila rasa disiplin itu sudah muncul dalam diri kita maka tidak akan ada lagi prajurit yang melanggar aturan yang bisa mencederai institusi Angkatan Darat.
Perkembangan Situasi
Mencermati perkembangan situasi terakhir, Kasad merasa cukup prihatin terutama dengan adanya kekrisruhan antara TNI dengan Polri di Gowa Sulawesi Selatan menjelang Idul Fitri Kemudian di Papua pada saat shalat Idul Fitri terjadi gesekan-gesekan dengan saudara-saudara yang beragama Nasrani, karena ada kegiatan yang bersamaan, kemudian timbul miss komunikasi akhirnya muncul reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali di lapangan, sehingga mengakibatkan pembakaran-pembakaran fasilitas umum yang mestinya tidak perlu terjadi.
Kasad menggarisbawahi bahwa ini merupakan suatu trik, dari oknum-oknum yang ingin memecah belah Negara kita melalui agama, karena Negara kita adalah Negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, budaya. Jadi kejadian-kejadian tersebut dilakaukan oleh oknum–oknum atau kelompok tertentu bukan institusi yang berseteru.
Diakhir amanatnya kasad menyampaikan bahwa kita Angkatan Darat sebagai pengaman dan pilarnya persatuan dan kesatuan bangsa maka kita tidak boleh terprovokasi tapi kita harus menjadi pendingin dan menetralisir setiap kejadian serta mencegah jangan sampai kejadian pengrusakan fasilitas umum dan sejenisnya terjadi kembali. (Dispenad)