Skip to main content
Berita Satuan

Pangkostrad Bicara Proxy War di Hadapan Mahasiswa Unibraw

Dibaca: 241 Oleh 28 Mar 2014Tidak ada komentar
TNI Angkatan Darat
#TNIAD #TNIADMengabdiDanMembangunBersamaRakyat

Rabu, 26 Maret 2014 09:57 WIB, TRIBUNNEWS.COM, MALANG – Universitas Brawijaya Malang (UB) menggelar Kuliah Umum yang dibawakan Pangkostrad Letjen TNI Gatot Nurmantyo, Selasa (25/3). Kuliah umum bertajuk ‘Peran Pemuda dalam Menghadapi Proxy War’ tersebut digelar di Aula Gedung Samantha Krida UB.

Letjen TNI Gatot Nurmantyo , dalam kuliah umumnya, memaparkan sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring perkembangan teknologi. Di masa yang akan datang, di mana energi fosil pada tahun 2043 akan habis dan digantikan dengan bio energi, sasaran konflik akan mengarah pada lokasi sumber pangan yang sekaligus merupakan sumber energi.

Indonesia sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara. Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi dan persiapan yang matang agar bangsa Indonesia mampu menjamin tetap tegaknya keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Menurut Pangkostrad, dengan bertambah pesatnya populasi penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih dan energi akan menjadi pemicu munculnya konflik-konflik baru.

Baca juga:  Cegah Konflik Sosial Masyarakat, Korem 174 Merauke Gelar Pembinaan Komunikasi Dengan Komponen Masyarakat

Dengan adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru di antaranya perang asimetris, perang hibrida dan perang proxy sehingga kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara dewasa ini semakin kecil.

Perang Proxy atau Proxy War merupakan perang antara dua pihak yang tidak saling berhadap-hadapan namun menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuh. Perang proxy tidak dapat dikenali secara jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh menggunakan dan mengendalikan actor non state.

Indikasi adanya Proxy War diantaranya Gerakan separatis, Demonstrasi massa dan Bentrok antar kelompok. Sebelum mengakhiri kuliah umumnya pangkostrad melaksanakan tanya jawab dengan para mahasiswa yang selanjutnya berpesan kepada para mahasiswa.

”Pemuda sebagai tulang punggung bangsa harus menyadari bermacam tantangan dan ancaman bangsa tersebut untuk kemudian bersatu padu dan bersinergi menjaga keselamatan bangsa dan negara. Sejumlah aksi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk menangkal proxy war diantaranya dengan selalu mengidentifikasi dan mengenali masalah, ahli dalam bidang disiplin ilmu masing-masing, melakukan gerakan pemuda berbasis wirausaha, dan mengadakan komunitas belajar serta merintis program pembangunan karakter,” kata Pangkostrad.

Baca juga:  Panglima TNI: Pesan Presiden Pertahankan Kepercayaan Publik Kepada TNI

Pangkostrad juga menyampaikan intinya yang terbaik adalah Back to basic, mengerti bahwa cinta dan peduli akan kepentingan negara harus menjadi kepentingan tertinggi di atas kepentingan segala-galanya. (Editor: Rendy Sadikin)

Kirim Tanggapan

made with passion and dedication by Vicky Ezra Imanuel