
Jakarta, tniad.mil.id – Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., mengajak seluruh prajurit dan keluarga besar TNI Angkatan Darat untuk menjadikan peringatan hari besar keagamaan sebagai momentum introspeksi diri, sekaligus menghayati dan menerapkan hikmah serta keteladanan yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Kasad saat memberikan sambutan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 yang digelar di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Kamis (3/9/2026). Kasad mengingatkan, peringatan hari besar keagamaan hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan yang pesannya kembali terlupakan setelah acara berakhir.
“Jangan sampai pada saat peringatan kita ingat, kemudian setelah itu kita lupa lagi, dan baru kita ingat kembali ketika peringatan itu datang pada tahun berikutnya. Apa yang kita dapatkan dari peringatan ini harus kita jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kasad.
Kasad mengibaratkan hal tersebut dengan proses pendidikan yang dijalani setiap prajurit. Selama pendidikan, prajurit menerima berbagai bekal pengetahuan, nilai, dan pembinaan yang dipersiapkan untuk menjalani tugas dan kehidupan. Karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan, seluruh bekal tersebut harus benar-benar diterapkan sebagai panduan dalam kehidupan, bukan sekadar diingat selama mengikuti pendidikan.
Menurut Jenderal Maruli, hal yang sama berlaku dalam setiap peringatan hari besar keagamaan. Hikmah dan keteladanan yang diperoleh harus terus diimplementasikan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, sehingga peringatan tersebut memberikan makna nyata bagi kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Sementara itu, hikmah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 disampaikan oleh Dr. K.H. Abdul Moqsith Ghazali, M.A. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat pentingnya loyalitas kepada pemimpin sebagai salah satu faktor penting dalam mencapai kemenangan. Ia mencontohkan Perang Badar, ketika Nabi Muhammad SAW memimpin 313 prajurit menghadapi sekitar 1.000 pasukan musuh. Dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, kaum Muslimin mampu meraih kemenangan karena memiliki loyalitas terhadap pemimpinnya dan mengikuti arahan yang diberikan.
Sebaliknya, Perang Uhud memberikan pelajaran ketika sebagian pasukan tidak mengindahkan pesan Nabi Muhammad SAW dan justru meninggalkan posisinya karena tergoda oleh harta rampasan perang. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam pertempuran tersebut.
“Dari Perang Badar dan Perang Uhud kita mendapatkan pelajaran bahwa loyalitas kepada pemimpin sangat penting. Ketika yang dipimpin loyal terhadap arahan dan perintah pemimpinnya, kemenangan akan datang. Sebaliknya, ketika arahan pemimpin tidak diindahkan, maka tujuan yang hendak dicapai akan sulit terwujud,” tegasnya.
Menurut K.H. Abdul Moqsith Ghazali, nilai tersebut juga relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Loyalitas dan ketaatan perlu diwujudkan dengan menghormati kepemimpinan nasional, mengikuti arahan pemerintah, serta menaati peraturan dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Mabesad tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk terus menggali dan menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan. Bagi keluarga besar TNI AD, hikmah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keimanan, disiplin, loyalitas, kebersamaan, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. (Dispenad)



















