
PANGLIMA Kodam Iskandar Muda, Mayor Jenderal TNI Agus Kriswanto, memang benar-benar seorang militer yang merakyat. Hampir setahun berada di Aceh, lulusan Akabri 1984 ini sudah menyusuri berbagai tempat di daerah yang disebut Serambi Mekah itu.
Ia tak hanya duduk di balik kursi pemimpin, namun juga turun ke berbagai lini. Kadang-kadang ia berada di warung kopi ngobrol dengan masyarakat, lain waktu ia sudah di pesantren berdiskusi dengan ulama. Ia juga cepat tanggap meminpin anak buahnya saat Aceh dilanda bencana gempa maupun banjir.
Bahkan mantan Panglima Divisi 2 Komando Strategis Angkatan Darat ini juga mau mengunjungi tempat pemakaman mantan kombantan dan berbicara dengan mantan-mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka.
Mayjen Agus seperti berada di mana-mana di seluruh pelosok Aceh. Itulah sebabnya, kedekatannya dengan masyarakat itu kini diikuti oleh anak buahnya di seluruh Aceh.
Lihat saja, misalnya, yang dilakukan Kopda Joirico Panjaitan yang ikut membantu mencangkul sawah petani. Ia mengatakan ikhlas membantu rakyat yang membutuhkan tenaganya. Kopda Joirico mengatakan ia turun ke sawah agar agar petani lebih giat lagi dalam bertani dan wujudkan program swasembada pangan.
“Babinsa turun ke sawah membantu kelompok tani dengan setulus hati tanpa mengharap imbalan,” kata Kopral Joirico.
Lain lagi dengan Yonzipur 16/DA. Mereka beramai-ramai mengecat meunasah di gampong Krueng Lamkareung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Mereka bergotong royong bersama masyarakat setempat.
Lettu Czi Yusup Yudistira salah satu personel Yonzipur 16/DA mengatakan kegiatannya itu bertujuan mempererat kekeluargaan serta silahturahmi antar warga dan personel Yonzipur 16/DA.
Salah satu pemilik balai pengajian, Teungku Saifullah, mengatakan meunasah itu sering digunakan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan mengaji dan sholat. Ia mengharapkan, kegiatan TNI seperti itu terus berlangsung. “Supaya TNI dapat diterima ditengah-tengah masyarakat,” kata Saifullah.
Di Aceh Selatan, Dandim 0107/Aceh Selatan Letnan Kolonel Inf Hasandi Lubis,S.I.P meminpin anak buahnya membangun jamban untuk masyarakat. Bahkan ia rajin mengontrol anak buahnya yang bekerja tanpa imbalan itu.
Tentara di Aceh Selatan membangun jamban untuk masyarakat miskin. Tentu pelaksanaannya dilakukan dengan bergotongroyong. Jadi TNI bersama-sama masyarakat membangun jamban itu. “Ini membantu pemerintah juga dalam mensejahterakan rakyat,” kata Letkol Hasandi. Ia juga memberi penyuluhan tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Di kawasan Lampahan, Bener Meriah, bahkan TNI di sana membantu petani hingga panen tiba. Ketika panen, tentara ikut bersama-sama petani memotong padi di sawah.
Salah satunya dilakukan oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil Model 05/Lampahan Serka Erwin Tanjung bersama Koptu Dairi Maha. Sejatinya mereka mendampingi Kelompok Tani Bina Karya 3.
Namun dalam pelaksanaanya, mereka bukan hanya mendampingi, tetapi juga ikut mencangkul sawah, dan memotong padi saat panen. Pada panen kali ini, petani di sana memanen jenis Ciherang keturunan (Swadaya) seluas 2 Hektar dengan hasil 5 ton perhektarnya.
Harapan Babinsa Serka Erwin Tanjung kepada Masyarakat Desa Umah Besi agar ikut serta dalam mensukseskan Program Swasembada Pangan.
Menurut Komandan Koramil 05/Lampahan Kapten Czi Aef Mukhran Halid, panen kali ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. “Terlebih-lebih dengan adanya Program TNI membantu para Petani untuk terciptahnya Swasembada Pangan pada tahun 2015 ini,” katanya.
Setelah ikut membantu turun ke sawah, tentara ini juga memberikan sosialisasi pada petani tentang pertanian yang baik serta memberikan penjelasan pasca panen. “Sehingga usai panen para Petani bisa memhami apa yang harus dilakukan dan di persiapkan guna menghadapi musim tanam selajutnya,” kata Kapten Aef.
Begitulah selayang pandang kegiatan tentara di Aceh. Para tentara yang dipimpin Mayjen Agus. Ia memang seorang jenderal. Wajahnya memang tipikal pemimpin. Walau berbicara tegas, namun mengayomi. Ia lebih menonjolkan ajakan menjaga perdamaian. Ia sosok yang menyejukkan Aceh.
Penulis: Nurlis E. meuko