Berita Satuan

Pompa Hidrolik Kartika, Bantu Kodim Gunungkidul Wujudkan Harapan Air Bersih Warga

Dibaca: 12 Oleh 25 Jan 2020Tidak ada komentar
Pompa Hidrolik Kartika, Bantu Kodim Gunungkidul Wujudkan Harapan Air Bersih Warga
#TNIAD, #TNIADMengabdiDanMembangunBersamaRakyat

JAKARTA, tniad.mil.id – Keinginan warga akan air bersih tercapai setelah Kodim 0730/Gunungkidul berhasil memasang pipa hydran dari mata air Goa Pulejajar (1.2 Km di bawah permukaan tanah) yang diangkat dengan menggunakan pompa hidrolik Kartika.

Hal tersebut disampaikan Kapenrem 072/Pamungkas Mayor Arm Mespan dalam rilis tertulisnya, di Yogyakarta, Sabtu (25/1/2020).

Diungkapkan Kapenrem, pemasangan pipa hydran untuk menyalurkan air bersih dari mata air yang berada di Goa Pulejajar yang dilaksanakan Kamis (23/1/2020) merupakan kelanjutan dari keberhasilan Kodim 0730/Gunungkidul dan berbagai pihak terkait mengangkat air dari kedalaman 1.2 Km di bawah Goa Pulejajar beberapa waktu lalu.

“Atas permintaan warga, maka kali ini dilaksanakan karya bakti pemasangan pipa hydran dari Goa Pulejajar untuk menyalurkan air bersih ke kampung terdekat, yaitu Kampung Girisubo,”ujar Mespan.

Bersama dengan warga setempat, Kasi Perencanaan Korem 072/PMK Kolonel Arm I Made Gede Antara, S.Sos., dan Dandim 0730/GK Letkol Inf Noppy Laksana Armyanto, S.H., memimpin karya bhakti pemasangan pipa hydran dari sumber air bersih goa yang berada di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo.

“Berkat bantuan Letjen TNI Joni Supriyanto (Kasum TNI) waktu itu, bisa menghadirkan pompa Hidrolik Kartika buatan Kolonel Cpl Simon Petrus, akhirnya air dari kedalaman 1,2 Km berhasil diangkat ke permukaan walau masih ke pinggir jalan,” kata Mespan.

Dan sekarang, tambahnya, melalui kegiatan karya bhakti ini, dalam waktu yang tidak lama, diharapkan air bersih siap dialirkan menuju rumah warga.

Sementara itu, Dandim 0730/Gunung Kidul, Letkol Inf Noppy Laksana Armyanto, S.H., mengatakan bahwa selain atas permintaan warga, pemasangan pipa hydran juga sebagai bagian untuk mengantisipasi bencana kekeringan yang sering dialami warga di wilayah tersebut.

“Diharapkan dengan pemasangan pipa hydran ini, air yang sudah terangkat dari kedalaman 1,2 Km ke pinggir jalan, ke depan kita akan membuat pipa lagi sepanjang 750 meter agar dapat disalurkan ke kampung terdekat, “ urai Noppy Laksana.

Mata air dengan debit 30 liter per detik itu, pertama kali ditemukan oleh Kombi (Pegiat Komunitas Merangkul Bumi) pada tahun 2008, namun berhasil diangkat pada tahun 2019 dengan mengunakan pompa hidrolik Kartika.

“Gunung Kidul sering mengalami kekeringan, sehingga apa yang dicapai dari mata air Pulejajar ini bisa menjadi harapan dan solusi bagi warga, apalagi debit airnya yang besar seperti itu,” tegas lulusan Akmil tahun 2000 ini.

“Ke depan sistem ini akan menjadi pilot projek untuk mengatasi kekeringan yang melanda warga Gunungkidul dan wilayah lainnya. Ditambahkan pula, pompa hydran ini murni menggunakan tenaga gravitasi sehingga tidak membutuhkan BBM maupun listrik,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua Kombi, Rubiyanto, menuturkan sebelum ditemukannya sumber air bersih ini, warga Desa Jepitu sangat tergantung pada musim hujan.

“Saat musim hujan, warga menampung air di bak penampungan untuk digunakan saat musim kemarau. Saat kemarau tiba dan persediaan air habis, warga terpaksa membeli dari pedagang air swasta,” katanya.

“Meski sudah membeli, warga tetap harus antre mendapatkan pasokan karena minimnya sumber air,” jelas Rubiyanto.

Sementara itu, Kepala Desa Jepitu, Sarwono (52) menegaskan, setiap musim kemarau tiba, warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan harus membeli ke pihak swasta.

“Warga harus membeli air dengan harga Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per tangki untuk memenuhi kebutuhan selama dua minggu sampai satu bulan, tergantung jumlah keluarganya,” tuturnya.

“Kini kami tak perlu khawatir lagi akan kekurangan air bersih. Terima kasih atas kepedulian TNI telah membantu kesulitan warga,” pungkas sang Kades. (Dispenad)

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel